TIGA BENGKEL PRES BAN  D`QLOST  DI GAWANGI TIGA BERSAUDARA

1655
Bengkel D'Qlost yang di gawangi tiga bersaudara

BERDIRI SEJAK TAHUN 1999

BAUBAU, TRIBUN BUTON.COM Jika melewati jalan poros Diponegoro
Kelurahan Batulo Kecamatan Wolio Kota Baubau, kita akan menemukan
bengkel pres ban , bengkel yang biasa orang sebut bengkel D`Qlost ini
letaknya  tidak jauh dari lampu merah kilo satu. Tidak hanya satu,
disitu berdiri tiga buah bengkel pres ban yang di nahkodai oleh tiga
saudara kandung.


Bengkel pres ban ini berdiri  sudah lebih dari 20 tahun umurnya,
tepatnya tahun 1999 yang kala itu ongkos jasanya masih berkisar 1.500
rupiah saja. Tarifnya masih sangat terjangkau untuk semua kalangan.
Berdiri sudah dua dekade hampir seluruh masyarakat kota Baubau pernah
memakai jasa dari bengkel ini.

Hanya bermodalkan mesin kompresor tua dan pencungkil ban sederhana
bengkel ini masih bisa bertahan ditengah kemajuan tekhnologi. Bahkan
tidak sedikit kerabat jauh yang mencoba mengadu nasib di bengkel ini
untuk sekedar membantu atau menjadi karyawan. Kondisi seperti ini
membuat pemilik bengkel harus mengatur shif agar semua karyawan
mendapat jatah kerja.

Ada yang unik dari ketiga pres banl ini dimana bengkel ini berdiri
saling berdampingan, meskipun demikian omset yang mereka miliki tidak
pernah di dominasi oleh satu  bengkel saja. Mereka tidak pernah saling
berebut pelanggan dan beranggapan bahwa rejeki sudah diatur oleh Yang
Maha Kuasa.

Tidak mengenal lelah membantu pelanggan yang datang hingga kadang
membuka bengkel kembali ketika ada pelanggan yang datang meminta
tolong untuk menambalkan ban motornya karena ada kepentingan yang
mendesak padahal waktu sudah menunjukan tengah malam. Keikhlasan dalam
membatu sesama menjadikan bengkel ini memiliki banyak pelanggan sampai
dengan hari ini.

Alhadi, salah seorang pelanggan sangat terbantu dengan hadirnya pres
ban tersebut.  “ Di waktu kapan saja jika ingin tambal ban atau
sekedar mengisi angin tinggal datang saja. Pemilik bengkel terkadang
tidak mau mengambil ongkos jasa. Mungkin karena sudah kenal atau
dianggap tetangga dengan kantor saya makanya tidak mau mengambil
uangku,” terang pria yang juga berprofesi sebagai anggota Polri ini.

Bahkan hasil yang mereka dapat tidak serta merta langsung dinikmati
sebab mereka tau dari hasil yang mereka dapat tidak sepenuhnya adalah
milik mereka.

Dengan pendapatan yang tidak seberapa, mereka masih bisa menyisihkan
sebagian rejeki untuk di sumbangkan kepada fakir miskin dan yatim
piatu. Pendapatan mereka tidak seberapa namun keuletan dan keteguhan
serta keihlasan mereka dalam melakukan sebuah pekerjaan menjadikan
mereka bisa menghidupi keluarga mereka.

Kadang nampak wajah  murung dan sedih dari mereka ketika mesin
kompresor mereka mengalami gangguan, sebab akan ada lagi biaya
tambahan yang harus mereka keluarkan untuk perbaikan mesin sementara
hasil untuk hari itu belum biasa mencukupi kebutuhan, karena  mereka
tau ketika mesin ini rusak maka akan ada karyawan  tidak  mendapat
penghasilan yang digunakan untuk mememnuhi kebutuhan hidup anak istri
mereka.

Untungnya dengan pengalaman yang mereka miliki dan sedikit pengetahuan
tentang mesin maka mereka mulai mengutak atik mesin kompresor itu
sampai bisa baik kembali. “alhamdulillah” sebuah kalimat yang di
tunggu-tunggu oleh semua karyawan ketika mesin mulai bunyi kembali,
ini berarti kita bisa bekerja lagi, “ ujar Ade  salah seorang
karyawan.

Terkadang ada keinginan untuk mengganti mesin tua dengan mesin yang
baru, namun karena kebutuhan hidup yang lebih mendesak menjadikan
keingina itu tertunda. Apalagi disaat pandemi seperti sekarang ini
membuat pendapatan jasa tambal semakin berkurang, mungkin dikarenakan
pelanggan enggan keluar rumah.

Kini hanya doa dan harapan semoga mesin tua dengan sejuta keberkahan
itu bisa tergantikan dengan mesin dan tabung kompresor yang baru.
(Maman Rasta)