BAHAS IRAN, WARKOP ORANG BUTON DI SURABAYA RAMAI

1378
EKOBIS: Suasana diskusi di Warkop Mai To Ngopi di Kota Surabaya. FOTO: RIAL HADI/TRIBUNBUTON.COM

SURABAYA, TRIBUNBUTON.COM, Rial

WARUNG Kopi (Warkop) Mai To Ngopi jadi tempat diskusi terbuka untuk umum di Kota Surabaya. Dengan mengusung tema “Apakah ketegangan Iran-AS berdampak pada Indonesia? Menjadi daya tarik bagi kalangan muda dan mahasiswa.

Pemilik Warkop Mai To Ngopi, Emil, yang merupakan pemuda asli Buton kelahiran Tomia, menguraikan konsep Warkop Mai To Ngopi. Selain sebagai bisnis, Warkop Mai To Ngopi disiapkan sebagai tempat diskusi ilmiah.

“Jadi kalau ada komunitas atau Organisasi yang ingin adakan diskusi saya senang,” ujarnya, Sabtu malam 18 Januari 2020.

Emil saat ini tengah menyelesaikan studi S2 dan juga pendiri LBH Jiwana Muda di Kota Surabaya. Menurut dia, malam Minggu biasanya menjadi waktu berkumpul kaum muda dan menjadi daya tarik kalangan pemuda dan mahasiswa Surabaya untuk berkunjung ke Warkop Mai To Ngopi.

Kordinator Diskusi, Rial Hadi, menjelaskan sengaja mengadakan forum diskusi di Warkop Mai To Ngopi, mengingat saat ini forum diskusi jarang ada. “Alhamdulillah, diskusi kali ini dihadiri dari berbagai daerah baik dari pemuda Surabaya, Lombok, Manado, Ambon, NTT lebih tepatnya forum Nusantara,” ujarnya.

Diskusi itu menghadirkan pemateri, sorang aktivis muda dari Buton sekaligus Pengamat Timur Tengah, Ary Naufal. Mengenakan kampurui (udeng, red), Naufal mengapresiasi kegiatan diskusi di Warkop Mai To Ngopi.

“Seharusnya mahasiswa peka terhadap berbagai isu yang terjadi,” katanya. Dengan adanya forum ilmiah, Naufal mengatakan ingin mengembalikan karakter mahasiswa yang memudar.

Harga kopi di Warkop Mai To Manga cukup terjangkau dan diminati mahasiswa. Mai To Ngopi berasal dari bahasa Buton Wakatobi yang berati “Mari Kita Ngopi”.(*)