CLOSSING FKMA, AS TAMRIN MINTA MAAF

731
Sesi Foto Bersama Wali Kota Baubau, Raja/Sultan Tamu FKMA juga FSKN. FOTO/MIRA TRIBUN BUTON

BAUBAU, TRIBUN BUTON (Mira)

Merasa penyelenggaraan Festival Keraton Masyarakat Adat (FKMA) Asean VI PO 5 kurang meriah dan sempurna, Wali Kota Baubau, Dr AS Tamrin MH meminta maaf kepada para mulia raja dan para tamu Festival berskala internasional itu.

“Selama di Baubau, saya atas nama pemerintah sangat puas atas kehadiran yang mulai dalam penyelenggaraan FKMA, karena tidak ada suatu kejadian yang kurang menyenangkan tetapi saya juga merasa masi ada yang kurang dalam pelaksanaan tapi saya harap para mulia dapat memaafkan dan memaklumi kekurangan para adik-adik kita,”kata Tamrin mengawali sambutanya.

Festival Keraton Masyarakat Adat (FKMA) Asean VI PO 5, yang digelar selama empat hari sejak 18 November 2019, resmi ditutup oleh Wali Kota Baubau Dr AS Tamrin MH di pelantaran Kota Mara Baubau, Kamis 21 November 2019.

Kata dia, jangan melihat meriah dan sempurnanya suatu kegiatan itu, tetapi juga melihat bagaiman cara tuan rumah menyambut dan memperlakukan para tamu. Setidaknya kata Tamrin, tamu puas dengan penyambutan dan rangkaian acara kegiatan yang di berikan.

Sementara itu, Kedatuan Pejanggik Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Maspanji Lalu Satriawangsa, saat di temui Tribun Buton, merasa kegiatan FKMA di Kota Baubau terbilang sukses. Karena keramah tamahan dan antusiasme masyarat dalam menyambut tamu dari luar, yang merupakan modal suatu daerah untuk menumbuh kembangkan potensi wisata dan budaya itu.

“karena memang Kota Baubau memiliki tempat wisata yang potensial untuk ditumbuh kembangkan dan budaya yang unik-unik seperti Peka Kande-kandea,”kata dia.

Dia berharap dengan adanya festival ini dapat memberi semangat kepada seluruh komponen Bubau untuk melestarikan, mengembangkan dan memajukan situs budaya Baubau.

Berbeda dengan Kedatuan Lombok, Kesultanan Melayu Jambi, Sultan Abdul Rahman Taha Syaifuddin, malah mengkritik salah satu tempat wisata yang terletak di Kecematan Palabusa Kota Baubau yakni Batu Sori, yang di Nilainya tidak diperuntukan bagi orang tua karena dibuat jembatan melingkar. Kata dia, akan lebih bagus jika pariwisata mengadakan Skylift agar orang tua juga bisa menikmati keindahan alam dari atas batu sori itu.

“Kalau saja itu spot kenapa harus membuat jalan melingkar berarti dia hanya untuk kaula muda karena bagi kita yang suda tua naik tangga setinggi itu langsung encok,”kata dia sambil tertawa. (*)