HARI PERTAMA PELAKSNAAN SEMESTER DI SMAN 1 TOMIA DIWARNAI AKSI MOGOK SEJUMLAH GURU

682
Situasi dan kondisi di SMAN 1 Tomia saat pelaksanaan semester yang diwarnai aksi mogok masuk kantor sejumlah guru. FOTO Duriani

 

Camat Tomia dan Orang Tua Siswa: Pihak Terkait Segera Tuntaskan Konflik di SMAN 1 Tomia

WAKATOBI, TRIBUN BUTON- Hari pertama pelaksanaan ulangan semester ganjil di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Tomia Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diwarnai aksi mogok mengajar sejumlah guru. Senin (22/11/2021).

Aksi mogok mengajar atau tidak masuk kantor oleh sejumlah guru itu, merupakan kali kedua dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Dimana sebelumnya juga, sejumlah guru melakukan aksi mogok mengajar.

Saat itu, sejumlah guru SMAN 1 Tomia mempersoalkan beberapa kebijakan kepala sekolah (Kepsek), Sitti Kamlia SPd, yang dinilai merugikan pihak guru dan sekolah. Setelah dilakukan pendekatan persuasif, maka sejumlah guru kembali masuk kantor.

Akibat aksi mogok masuk kantor tersebut, pelaksanaan ulangan semester di SMAN 1 Tomia sempat tertunda hingga satu jam setengah. Seyogyanya, pelaksanaan ulangan dimulai pukul 07.45 wita. Dan baru terlaksana atau dimulai pukul 09.00 wita.

Kasek SMAN 1 Tomia, Sitti Kamlia SPd, saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan sejak beberapa minggu terakhir. Semua guru sudah melaksanakan proses belajar mengajar sebagaimana mestinya. Namun, saat tiba hari pertama pelaksanaan ulangan semester, sejumlah guru tidak hadir di sekolah.

“Memang paska mogok mengajar satu bulan lalu, semua dewan guru sudah berkantor dan melaksnakan proses belajar-mengajar. Namun pagi ini, saya juga kaget tiba-tiba sejumlah guru tidak hadir. Sementara masing – masing guru sudah mengantongi jadwal dan tugas mengawas,” ungkap Kepsek SMAN 1 Tomia, saat ditemui di ruang kerjanya Senin (22/11/2021).

Dengan ketidak hadiran sejumlah guru tersebut. Sitti Kamlia, mencoba mengoptimalkan guru yang hadir guna mensukseskan pelaksanakan dan pengawasan disetiap ruangan.

“Ruangan ulangan semester ini ada 15. Karena jumlah guru tidak sebanding dengan jumlah ruangan. Maka terpaksa setiap guru mengawas ganda. Artinya, satu orang guru harus mengawas di dua atau tiga ruangan,” ucap Kepsek SMAN 1 Tomia.

Dengan kejadian yang telah berulang itu, memantik tanggapan pemerintah setempat. Camat Tomia, Muhammad Tasri SPd,.MPd, meminta pihak terkait untuk segera menyelesaikan konflik di SMAN 1 Tomia. Sehingga tidak menimbulkan kerugian universal.

“Konflik di internal SMAN 1 Tomia harus segera diselesaikan pihak terkait. Jika persoalan itu tidak segera dicarikan alternatif oleh pihak terkait, kita khawatir berimbas luas. Kasian siswa dan siswi harus menjadi korban,” pinta Camat Tomia.

Sementara itu orang tua siswa meminta dengan tegas kepada Pemprov Sultra dalam hal ini Gubernur dan Kepala Dikbud Sultra untuk segera mengambil kebijakan dalam penyelesaian konflik di SMAN 1 Tomia.

“Kalau Gubernur serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra tidak peka dengan kejadian yang telah berulang ini. Orang tua siswa akan menyegel sekolah,” ancam orang tua siswa yang saat itu ikutan nimbrung dihadapan Camat Tomia.
(Duriani)