PENELITIAN DI WAKATOBI, MAHASISWA PASCASARJANA UPI BANDUNG TEMUKAN BIBIT ATLIT BERBAKAT

1965

WAKATOBI, TRIBUNBUTON.COM –
Mahasiswa Program Doktor (S3) Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Program Studi Pendidikan Olahraga, Sandra Arhesa melakukan observasi/penelitian di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra). Menemukan bibit atlit yang berpotensi mengukir prestasi ditingkat nasional terkait bidang menyelam dan renang.

Hal itu ditemukannya saat melakukan observasi/penelitian dengan menggelar lomba menyelam terlama di dalam laut. Dimana kegiatan itu berkaitan dengan judul penelitiannya, Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku Manusia: Studi Kasus Kemampuan Berenang dan Menyelam Suku Bajo di Indonesia.

Lomba menyelam terlama dalam laut yang digelar pria asal Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat tersebut. Terselip dalam rangkaian kegiatan yang digelar KORMI dalam menyelenggarakan Festival Olahraga Tradisional dan Kejuaraan Antar Kampung (Tarkam) dari Kemenpora di Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara beberapa waktu lalu.

“Awalnya ingin membuat kejuaraan lomba menyelam sendiri. Tapi karena ada Kejuaraan Tarkam dari Kemenpora dan Festival Olahraga ke-1 oleh KORMI Wakatobi serta sinkron dengan judul penelitian saya, maka cabang olahraganya perlu ditambahkan lagi. Sehingga saya koordinasi dengan panitia dan panitia menyahuti untuk digelar bersamaan,” ujar Sandra Arhesa, di Wakatobi Sabtu 8 Juni 2024.

Dikatakannya, dipilihnya Kabupaten Wakatobi menjadi lokasi observasi atau penelitiannya dikarenakan di Wakatobi identik sebagai daerah dengan penduduk suku Bajo terbesar di Indonesia. Suku Bajo terkenal dengan kemampuan berenang dan menyelam.

“Di Indonesia, kejuaraan menyelam terlama dalam laut ini baru dua kali dilaksanakan yakni di Aceh dan Manado. Wakatobi sebagai daerah dengan memiliki penduduk suku Bajo terbanyak, agar jangan hilang tradisi lomba menyelam terlama dalam laut, dan di suku Bajo juga sudah mulai jarang dilombakan,” pinta Sandra Arhesa.

Lomba menyelam terlama yang digelarnya itu. Sandra Arhesa, berharap kedepan Kemenpora dan KORMI untuk kembali menggelar kejuaraan Tarkam di Wakatobi dengan mengikutsertakan jenis olahraga tradisional. Pasalnya, banyak bibit atlit yang bisa poles menjadi atlit handal.

“Dari hasil lomba ini, saya bisa simpulkan bahwa ternyata di lapangan khususnya suku Bajo di Wakatobi memiliki talenta menjadi atlit yang besar. Jika dipoles dengan berbagai porsi dan jenis latihan, maka bisa menjadi atlet nasional,” Sandra Arhesa, memberi apresiasi.

Ditambahkannya, lomba menyelam terlama yang digelarnya itu, untuk kategori putra dimenangkan penyelam asal pulau Binongko, atas nama Yolan Rinanda, dengan durasi waktu menyelam 02.47.68. Diikuti Boni Jaludin dari Mola Samaturu 02.31.32 dan Lampude Mola Nelayan Bakti 02.20.33 diurutan kedua dan ketiga.

Sedangkan untuk kategori putri, dimenangkan oleh Pandawati dari Desa Mola Bahari dengan durasi waktu menyelam 00.47.85. Diikuti di posisi kedua, Nau dari Desa Mola Selatan dengan waktu 00.44.29, dan posisi ketiga yakni Mardiana dari Desa Mola Bahari durasi waktu menyelam 00.37.67. (Tribunbuton.com/adm)