PEMPROV SULTRA GELAR KONGRES INTERNASIONAL IV BAHASA DAERAH

250

KENDARI, TRIBUNBUTON.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menggelar Kongres Internasional IV, Bahasa Daerah Sulawesi Tenggara.

Dikutip dari laman sosial media Dinas Kominfo Sultra. Kegiatan itu sebagai upaya memperkuat pelestarian bahasa dan sastra daerah Sulawesi Tenggara itu. Berlangsung selama dua hari 21-22 November 2024, bertempat disalah satu hotel di Kota Kendari.

Ajang tersebut menjadi panggung bagi berbagai kalangan seperti pejabat, pakar bahasa, budayawan, akademisi, peneliti, pegiat komunitas tokoh masyarakat. Untuk berdiskusi dan menyampaikan pemikiran mereka terkait pelestarian bahasa dan budaya.

Dalam kegiatan itu mengangkat tema “Tapalagi Bahasa dan Sastra, Sultra Mokora,” mencerminkan komitmen untuk melestarikan kekayaan bahasa dan sastra di Sultra.

Pj Gubernur Sultra, Andap Budhi Revianto, saat membuka kegiatan sekaligus memperkenalkan kekayaan linguistik daerah dengan menyebutkan sembilan bahasa yang tumbuh subur di tanah Sulawesi Tenggara.

Kesembilan bahasa daerah tersebut lanjutnya, menciptakan momen yang penuh kebanggaan dan kekayaan budaya. Seperti Bahasa Ciacia, Culambacu, Kulisusu, Lasalimu-Kamaru, Moronene, Muna, Wolio, Tolaki, dan Bahasa Wakatobi membentuk kerangka identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.

“Mari kita pergunakan hasanah kekayaan kita, bahasa daerah kekayaan budaya, keragaman Indonesia, meneguhkan identitas Indonesia,” kata Andap Budhi Revianto, Selasa 21 November 2023.

Pada kesempatan itu juga, Pj Gubernur Sultra menekankan perlunya kegiatan itu menjadi landasan untuk menyusun kebijakan bersama dalam rangka pelestarian bahasa dan sastra daerah pada tahun 2024.

Andap Budhi Revianto, menginstruksikan kepala daerah di Sultra untuk mengumpulkan manuskrip dan arsip terkait bahasa dan aksara di Sulawesi Tenggara. Langkah itu bertujuan agar materi kegiatan dapat dijadikan memori kolektif bangsa, Ingatak Kolektif Bangsa, dan bahkan menjadi bagian dari Memory Of World UNESCO.

“Dengan langkah-langkah konkret seperti ini, diharapkan pelestarian bahasa daerah dapat menjadi salah satu faktor yang membawa Sulawesi Tenggara menjadi provinsi yang kuat dalam segala aspek,” ujarnya.

Andap Budhi Revianto menyambut baik upaya pelestarian sembilan bahasa daerah yang dilaksanakan Balai Bahasa Provinsi Sultra. Menurutnya, bahasa daerah adalah jati diri suku bangsa dan perlu terus dilestarikan agar tidak punah.

Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Uniawati, menjelaskan Kongres itu menjadi wadah penting untuk saling bertukar pikiran dan pandangan terhadap persoalan kebahasaan dan kesastraan yang dihadapi oleh bangsa ini dari Sabang hingga Merauke.

“Isu paling krusial yang dibahas adalah kepunahan bahasa daerah, terutama di Sulawesi Tenggara,” ucap Uniawati.

Dari sembilan bahasa daerah di Sulawesi Tenggara tambahnya, tujuh diantaranya terancam punah termasuk bahasa Ciacia, Culambacu, Kulisusu, Lasalimu-Kamaru, Moronene, Muna, dan Tolaki. Situasi ini memerlukan penanganan serius agar vitalitas bahasa tersebut tidak semakin menurun.

Adapun Narasumber dalam kegiatan itu dari berbagai latar belakang untuk berbagi pandangan dan solusi terhadap berbagai tantangan yang dihadapi dalam upaya menjaga vitalitas bahasa daerah di Indonesia. (Tribunbuton.com/adm)