BERJALAN KAKI SEJAUH 7 KM, KOMISI II DPRD BUTUR KUNKER DI LAHAN PETANI

184
Ketua Komisi II DPRD Butur Rahman (Kemeja Kotak-Kotak Biru) Wakil Ketua Komisi II Fatriah (Jilbab) Bersama Rombongan Berjalan Kaki Menuju Lahan Petani Jagung Kuning. FOTO Asman

 

BUTUR, TRIBUNBUTON.COM – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buton Utara (Butur) Sulawesi Tenggara (Sultra). Melakukan kunjungan kerja (kunker) di lahan pertanian masyarakat. Minggu 28 Agustus 2022.

Kunker anggota Komisi II DPRD Kabupaten Butur itu dalam rangka menghadiri undangan kelompok tani dalam melakukan panen Jagung Kuning. Salah satu komoditi yang dikembangkan petani setempat.

Ketua Komisi II DPRD Butur, Rahman, mengatakan dari hasil peninjauan dan fakta lapangan. Sangat jelas dan menjanjikan jika komoditi jagung kuning dapat meningkatkan perekonomian petani dan mendorong peningkatan sektor pendapatan asli daerah (PAD).

“Tentunya sejalan dengan Perda yang mengatur peningkatan ekonomi rakyat dari sektor pertanian,” ungkap Rahman.

Dalam proses peningkatan ekonomi masyarakat khususnya petani lanjut Rahman, perlu dilakukan sinergi lintas sektor. Hal itu untuk menggenjot hasil pertanian jagung kuning agar menuai hasil yang memuaskan.

Wakil Ketua I DPRD Butur Ahmad Afif Sardin Bersama Anggota Kadis Pertanian Saat Panen Jagung Kuning Secara Simbolis

Kunker di lapangan itu juga kata Rahman, sebagai sharing informasi terkait potensi dan kendala dihadapi petani jagung kuning di Desa Wacula’ea.

“Pendampingan dan pengawalan dari pemerintah serta DPRD sangat diperlukan masyarakat agar tidak berpengaruh pada hasil panennya,” ucapnya.

Wakil Ketua I DPRD Butur, Ahmad Afif, yang turut hadir dalam kunker itu sangat mengapresiasi kerja petani. Dalam berupaya mendorong peningkatan kesejahteraan di sektor pertanian tanpa bantuan dan pendampingan dari pemerintah setempat.

Ketua Kelompok Tani Pangkawali Jaya Makmur (Baju Biru) Bersama Anggota Saat Dialog Dengan Salah Satu Anggota DPRD Butur

Menurut Ahmad Afif, pengembangan lahan komoditi jagung kuning perlu dilakukan. Pasalnya, baik pembeli maupun pabrik pengolahan jagung kuning ada di Butur.

“Dinas Pertanian menganggarkan Rp 1,5 Milyar untuk peningkatan produksi. Sehingga kami (DPRD, red) harus turun langsung di lapangan untuk meninjau lahan dan hasil tanaman jagung kuning,” ujarnya.

Ketua DPC PDI-Perjuangan Buton Utara menilai, akses jalan berlumpur, licin dan sempit menjadi faktor utama kendala pengembangan produksi petani. Olehnya itu, sudah menjadi tugas pokok wakil rakyat mendorong serta mengawal peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program-program unggulan lokal daerah.

“Insya Allah pada rapat pembahasan anggaran perubahan nanti, DPRD bertekad untuk menambah anggaran para petani. Seperti pengadaan pupuk, benih, obat-obatan, alat semprot, strom babi serta alat penunjang lainnya perlu diadakan. Sehingga kwalitas dan hasil panen jagung kuning bisa melimpah ruah hasilnya,” harapnya.

Jusmin (47) ketua kelompok Pangkawali Jaya Makmur, mengatakan infrastruktur jalan menuju lahan perkebunan menjadi kendala utama yang dihadapi saat ini. Pasalnya, kondisi jalan belumpur, terjal dan licin dengan jarak tempuh kurang lebih tujuh kilometer dari perkampungan menuju lahan.

Dampak kerusakan jalan tersebut mengakibatkan hasil pertanian tidak dapat dipasok masyarakat ke pihak buyer atau perusahaan.

Selain itu, petani juga masih kekurangan alat semprot tanaman dan alat-alat lain guna menunjang peningkatan produktivitas hasil pertanian jagung kuning. Petani kewalahan menghadapi berbagai serangan hama seperti ulat, tikus, gulma, babi dan monyet.

Jusmin, berharap pemerintah setempat harus membantu petani jagung kuning. Menyediakan alat dan bantuan optimalisasi lahan guna kesinambungan peningkatan ekonomi rakyat disektor pertanian khususnya petani jagung kuning di Desa Wacula’ea Kecamatan Kulisusu.

“Kami mencoba menanam jagung kuning ini, karna sudah banyak contoh di daerah lain seperti Gorontalo, Bone dan bagian Kendari. Mayoritas petani jagung kuning berhasil. Jujur pak, kami ini 13 orang, sudah berutang Rp 100 juta di Bank untuk membuka lahan seluas 26 hektar. Uang itu kami gunakan semua untuk tebang pohon besar, pembabatan rumput dan pembersihan lahan untuk menanam,” pungkas Jusmin. (Tribunbuton.com/Asm)