
BUTON, TRIBUNBUTON.COM – Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki sejumlah potensi sumber daya alam yang membuat calon investor asal Jepang tertarik untuk mengembangkan usahanya.
Hal itu terlihat dari kunjungan calon investor asal Jepang di daerah penghasil aspal terbesar di Indonesia itu. Dan diterima langsung Bupati Buton, La Bakry, Selasa (12/4/2022).
Bupati Buton, kedatangan jajaran Direktur PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk guna meninjau langsung potensi industri sumber daya alam di Kabupaten Buton. Rombongan investor yang mengelola Summarekon Bekasi ini dipimpin langsung oleh President Director Yoshihiro Kobi, didampingi Vice President Director Leo Yulianto Sutedja.
La Bakry, mengatakan potensi dan prospek pengembangan sumber daya alam yang dimiliki daerah eks Kesultanan Buton antara lain tambang aspal, nikel, mangan, termasuk potensi perikanan. Bukan hanya itu, orang nomor satu di Buton tersebut juga memaparkan infrastruktur penunjang lainnya bila investasi ini berlanjut.
“Ini menerima kunjungan calon investor kawasan Industri Buton Terpadu, Buton Industrial Park (BIP) dari Jepang. Saya menawarkan dan mereka mau meninjau lokasi, mudah-mudahan cocok. Tadi beberapa sarana prasarana yang ditanyakan termasuk sarana air bersih bagaimana, power plant-nya, ketersediaan listrik dan jarak (koneksi wilayah),” ungkap La Bakri, kepada media ini. Selasa (12/4/2022).
Dikatakannya, jika dalam peninajuannya merasa sinkron dengan perencanaannya. Investor Jepang itu akan membangun pabrik atau smelter di Kawasan Industri Buton. Investasinya akan bangun pabrik di kawasan itu, bisa aspal maupun dengan yang lainnya.
“Termasuk perikanan saya paparkan juga. Jika dia berminat di perikanan, kita akan lihat di Kamaru, Kecamatan Lasalimu berupa lahan yang sudah disiapkan oleh pemerintah daerah sejak zaman Bupati Pak Sjafei dulu, itu kita tawarkan juga lokasinya,” kata La Bakry.
Terkait pengembangan aspal alam Buton untuk memenuhi kebutuhan aspal nasional. Bupati Buton berharap beberapa investor yang sudah berencana membangun smelter bisa segera action. Sehingga secara bertahap kita penuhi kebutuhan aspal nasional.
Menurutnya, dalam pertemuan ini belum ada kepastian berapa jumlah investasi yang disiapkan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. Tergantung kapasitas yang dikehendaki nanti disesuaikan. Hanya saja, Bupati berharap investor Jepang tersebut dapat berinvestasi di Buton di atas Rp 10 Triliun.
“Nilai investasi, tergantung kapasitas yang mereka kehendaki. Kapasitas produksi aspal misalnya, berapa kapasitas produksi pertahunnya disesuaikan. Kita berharap diatas Rp 10 Triliun lah. Mereka datang menjajaki, karena saya sudah paparan, potensi dan peluang-peluang di Kadin dua tahun yang lalu dan itukan mereka terus mau komunikasi,” ucapnya.
Sementara itu, President Director PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk Yoshihiro Kobi, menjelaskan mengenai investasi pihaknya cukup lama di Bekasi membangun kawasan industri.
Di ndonesia lanjutnya, memiliki ragam budaya, tiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Olehnya itu, apa yang telah dibangun di Bekasi belum tentu bisa dikembangkan di Buton, perlu pembelajaran dan disesuaikan dengan karaktetistik suatu daerah.
“Jadi kita sudah cukup lama di Bekasi bikin kawasan industri yang mendatangkan banyak industri dari luar negeri juga. Tapi setiap daerah itu ada ciri khasnya yang khusus. Kita tidak bisa copy yang kita bangun di Bekasi itu di sini. Tapi saya ingin tahu apa yang spesial di Buton ini. Aspal ada, nikel ada, perikanan ada. Jadi kita harus mikir lagi apa yang cocok untuk industri, kalau seandainya kita mau bikin kawasan industri,” jelasnya.
Lebih jauh Yoshihiro menjelaskan berdasarkan hasil pemaparan Bupati Buton. pihaknya prospek condong ke investasi tambang nikel. Namun, masih akan melihat hasil peninjauan lapangan nanti.
“Prospeknya proses dari nikel itu memang yang diutamakan. Aspal juga saya belum ada ilmu tentang natural aspal, tadi juga disampaikan tentang perikanan, ini
juga saya baru tahu ini pusat kapal perikanan disini karena lebih dekat dari Bali ke Jepang, jadi pasti ada potensial untuk kembangkan, tapi mungkin ada beberapa hal yang kita belum tahu ya, jadi kita akan studi lagi,” pungkasnya.
Dia menambahkan sementara untuk nilai investasi, belum bisa dipastikan. Nilai investasi belum diketahui karena ciri khas sumber daya alam baru akan dipelajari. Berapa estimasinya untuk bikin infrastruktur.
Amatan media ini, usai diterima di Ruang Rapat VIP Bupati Buton. para investor dan Bupati bergerak menuju Kamaru, Kecamatan Lasalimu dan Kecamatan Kapontori, termasuk Desa Boneatiro dan Pulau Pendek untuk meninjau langsung potensi sumber daya alam Buton. Di Kamaru, rombongan Bupati dan Investor meninjau PPI Kamaru dan Tambang Aspal Lawele. (tribunbuton.com/ilw)