STRATEGI MEMASARKAN PARIWISATA TERINTEGRASI KOLABORATIF

379
Asri (Skill Manager Swiscontacts)/tribunbuton.com

 

BAUBAU, TRIBUNBUTON.COM – Kondisi Pandemi Covid 19 telah berdampak pada perubahan sistem pemasaran. Misalnya pembatasan jarak menyebabkan pada pengisian ruang wisata hanya bisa di angka 50 persen saja.

Sebelum pandemi, pemerintah menargetkan 20 juta angka kunjungan pariwisata. Hal ini kemudian berubah sehingga pemasaran pariwisata sementara bukan kuantitas tetapi qualitas.

“Namun prinsip pariwisata itu adalah bagaimana mendatangkan banyak orang,” ujar Asri, Manejer di Swiss Contac yang lama berkecimpung di Kabupaten Wakatobi ini.

Asri menjabarkan ruang lingkup pemasaran dan penjualan pariwisata. Di antaranya produk, harga, place (di mana) dan promotion (promosi). Dan dikuatkan oleh siapa yang melakukan.

Berbicara pariwisata kata dia, harus tetintegrasi kepada aspek pendukung. Misalnya apa yang dipromosikan, dimana dijual, dan di daerah mana.

Melalui digital market adalah tentang what to tell, who to tell, how to tell, why to tell. Yaitu fokus pada produk oriented (produk berkualitas, red) untuk mengexplorasi selling point (produk berbeda yang tidak dimiliki kompetitor).

What to tell adalah memahami kemauan pasar untuk mendatangkan orang. Misalnya hassrat apa yang harus dikonekkan. Karena memahami pasar itu penting untuk bisa memahami wisatawwan secara ideal.

“Hingga produk yang disiapkan, memahami keinginan mereka dan harus sesuai expektasi pasar,” ujarnya.

Pariwisata itu adalah bagaimana mengorganize. Yaitu memanajemen dan pemasaran hadir sebagai bagian dari wadah.

Tren pariwisata kata dia, adalah savety, kompetisi, dan innovasi. Kompetisi diperlukan sebagai triger/pemicu untuk lompat lebih maju.

Ada kolaborasi marketing dan integrated and destination. Maksudnya pengguna media sosial terkoneksi sesama medsos lainnya. Sedangkan collaborative marketing adalah perpaduan dari berbagai usaha berbeda. Misalnya hotel, rumah makan, desa wisata, mobil rental, dst. (yhd)