DPRD BUTENG ANGGAP PEGAWAI VAKSINASI COVID-19 BUTENG TIDAK KOMPOTEN

201
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buteng, La India, FOTO: ADI/TRIBUNBUTON.COM

BUTENG, TRIBUNBUTON.COM

Dua anggota DPRD Buton Tengah, La India dan Samirun beranggapan pegawai Dinas Kesehatan Buteng tidak kompeten ketika menjalankan tugas dalam Vaksinasi Covid-19.

Pemicunya ketika ia hendak melakukan vaksinasi covid tahap II. Jadwalnya tanggal 5 April 2020 namun pegawainya mengatakan besok dan langsung meninggalkan tempat.

“Ini kan kurang ajar namanya. Lagi pula di kartu itu bukan saya yang tulis, tapi mereka sendiri. Ini yang buat aturan mereka, yang langgar juga mereka,” jelas La India di DPRD Buteng, Senin 5 Maret 2021.

Atas perlakuan tersebut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini turut menyayangkan sikap yang ditunjukkan oleh pegawai dinas kesehatan Buton Tengah yang dianggap tidak maksimal dalam memberikan pelayanan publik.

“Alasannya mereka ini dalam sekali vaksin minimal 10 orang. Tapi yang kita sayangkan juga ini adalah tidak ada penyampaian sebelumnya dari dinas terkait. Sedangkan kita saja yang (anggota) DPR sudah diperlakukan seperti itu, bagaimana dengan masyarakat umum,” jelas La India.

Artikel Menarik Lainnya :  FRAKSI PAN BUTENG TOLAK RAPERDA PENDISTRIBUSIAN MIRAS

Kendati demikian, Ia berharap kejadian yang dialaminya tidak terulang kembali apalagi terjadi kepada masyarakat Buteng. Kepada dinas kesehatan Buton Tengah La India juga berpesan untuk selalu memberi pelayanan maksimal untuk masyarakat tanpa kecuali.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Buton Tengah, Kasman menyebut apa yang dialami La India dan Samirun hanya miss komunikasi atau kurang penjelasan dari pegawainya yang sedang bertugas.

“Jadi sekarang vaksin itu multidosis. Satu Vial (botol) bisa maksimal 11 atau 10 dosis. Yang jadi permasalahan adalah ketika kita buka botolnya dan yang datang ini tinggal dua orang, berarti ada delapan atau sembilan dosis yang rusak karena barang ini tidak bisa disimpan lama, apalagi sampai besok,” kata Kasman.

Artikel Menarik Lainnya :  40 PEJABAT ESELON II DAN III BUTENG DIRESUFLE

Kata dia, ketika satu botol vaksin dibuka, maka 10 atau maksimal 11 vaksin harus dipakai saat itu juga. Sebab jika dibiarkan sambung Kasman maka terjadi kerusakan pada vaksin tersebut.

Ketika disinggung mengenai kurangnya sosialisasi mengenai adanya multidosis vaksin covid tahap II ini, Kasman bilang pihaknya masih mengacu pada pemberian vaksin tahap pertama.

“Vaksinasi pertama itu kan dosis tunggal. Mau datang satu orang atau dua orang bisa langsung di vaksin saat itu juga. Dan multidosis vaksinasi covid tahap II ini berlaku di seluruh Indonesia. Kemudian bapak anggota DPR juga tadi datangnya sudah diatas jam 1, sementara pelaporan ke pusat itu jam 2 sudah harus masuk,” tutup Kasman. (p5)

Komentar Anda