REVITALISASI KASULANATOMBI SETELAH FGD

853
Pihak Pemerintah Kota Baubau saat dialog dengan tokoh pemuda Baubau. FOTO: IST

BAUBAU, TRIBUNBUTON.COM

Revitalisasi tiang bendera peninggalan Kesultanan Buton atau yang biasa dikenal Kasulana Tombi terus menuai polemik. Pagi tadi sekitar pukul 09.00 Wita, sekolompok pemuda coba memberhentikan proses peletakan batu pertama revitalisasi benda cagar budaya peninggalan kesultanan Buton itu.

Upaya pemberhentian itu dilakukan mengingat pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan revitalisasi itu tidak didasari atas musyawarah dan persetujuan masyarakat. Sehingga besar resiko akan merugikan. Belum lagi berbicara soal dampak sosial, budaya dan daya tarik benda Peninggalan itu setelah direvitalisasi.

“Saat ini kita tidak dalam kondisi memusuhi pemerintah. Kami hanya meminta pemerintah daerah jangan gegabah melakukan revitalisasi terhadap benda peninggalan leluhur kami. Seharusnya ada upaya sosialisasi dan membuat Forum Diskusi bersama rakyat sebelum diputuskan untuk direvitalisasi.,” ungkap LM Asmar Iyan, salah satu pemuda yang coba menghentikan aktifitas revitalisasi.

Masyarakat eks Kesultanan Buton, memiliki kepercayaan mistik terhadap beberapa benda peninggalan para leluhurnya. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Baubau dalam melakukan pembangunan daerah seharusnya tetap peka dan menghormati nilai-nilai sosial budaya dan tradisi yang dianut masyarakat sekitar.

Artikel Menarik Lainnya :  LIMA BULAN BURON, SPESIALIS JAMBRET DI BAUBAU DITANGKAP

“Khusus Kasulana Tombi ini, Ada nilai-nilai di dalamnya, nilai-nilai kesakralan, daya tarik dan lain-lain. Jangan karena hanya berbicara soal pertimbangan resiko runtuhnya benda peninggalan itu dan asas keselamatan terhadap rakyat yang pada akhirnya rela mengorbankan hilang atau kurangnya nilai-nilai seperti kesakralan itu,”

Ketua PMII Kota Baubau, Abdul Aziz Muslimin Haladi menambahkan pada kasus revitalisasi ini, pemerintah daerah seakan-akan mengabaikan hal-hal tersebut. Yang pada akhirnya tanpa disadari pemerintah daerah terkesan telah merusak kebudayaan setempat.

“Kita hadir bukan menghalang-halangi pembangunan ini. Tapi ada baiknya pemerintah harus menunda pembangunan ini sampai dengan adanya forum diskusi bersama rakyat, mencari solusi, menemukan menghasilkan keputusan terbaik sehingga disini tidak ada yang dirugikan,” tandasnya.

Sekertari Daerah Kota Baubau, Roni Muktar menjelaskan upaya yang dilakukan para kelompok pemuda ini patut diapresiasi hal ini mengingat bentuk aksi tersebut sebagai wujud kepedulian terhadap negri ini.

Artikel Menarik Lainnya :  HUT BHAYANGKARA KE-74, POLRES BAUBAU GELAR RAPID TEST MASSAL DI PASAR

“Kita ini semua sama, sama-sama memikirkan bagaimana Negri ini menjadi lebih baik. Khusus pada revitalisasi ini Pemerintah daerah berupaya menjaga dan menyelamatkan Kasulana tombi untuk tetap berdiri kokoh dan tidak roboh. Sehingga keputusan ini diambil sebagai langkah yang direkomendasikan paling tepat,” ungkapnya.

Roni muktar juga menjelaskan, konsep kontruksi bangunan ini telah dikaji para orang-orang yang memiliki keahlian dibidang revitalisasi ini. Sehingga bisa dipastikan ini menjadi solusi terbaik.

“Tapi kalau adik-adik bersih keras kita sepakat tetap lakukan peletakan batu pertama revitalisasi ini mengingat para orang tua kita sudah hadir dilokasi pembangunan, kemudian kelanjutan pembangunannya kita tunda dulu sampai waktu terlaksananya Forum Diskusi bersama rakyat untuk membahas khusus persoalan ini,” tutupnya.

Untuk diketahui, pada kesepakatan akhir para pemuda yang berupaya menghentikan revitalisasi itu meminta surat pernyataan resmi kepada pemerintah daerah, namun pemerintah daerah menyampaikan tidak mungkin berbohong, apalagi janji itu disampaikan dikawasan mesjid agung keraton. (adm)

Komentar Anda