TEMU INVESTASI BAHAS KENDALA PARIWISATA WAKATOBI

1614

WAKATOBI, TRIBUN BUTON, Yhd

Pemerintah Kabupaten Wakatobi menggelar temu investasi di Sombu Dive, Selasa malam 12 November 2019. Komitmen pemerintah menganggap perlu promosi potensi pariwisata.

Wakil Bupati Wakatobi, Ilmiati Daud, dalam pemaparannya mengatakan konektivitas di Wakatobi sebagai salah satu 10 Bali Baru masih kurang ditunjang dengan hanya satu flight penerbangan. Menurut dia, yang harus dibangun di Wakatobi adalah aksesbilitas dan konektivitas.

“Flight hanya satu kali tibanya sore dan paginya harus berangkat. Trus orang hanya datang bobo malam saja,” celetuknya.
Selain itu kata Ilmiati adalah sarana penunjang dan ini akan bergerak jika ada tambahan flight. Wisatawan lokal kata Ilmiati, lebih mudah akses ke Singapur dan kota-kota besar lainnya daripada ke Wakatobi.

Membahas potensi pariwisata, Kabupaten Wakatobi berada di pusat segi tiga karang dunia, cagar biosfer dunia, jalur pelayaran Alki dst. Luas wilayah daratan lebih kecil dari daratan yang hanya 97 persen.

Visi Kabupaten Wakatobi yakni kabupaten maritim berdaya saing. Misi mengembangkan SDM mengembangkan infrastruktur wilayah, membangun kolaborasi regional, nasional dan internasional, dst. Fokus sektor unggulan kemaritiman yakni permukaan laut berupa perdagangan, kolom laut berupa perikanan energi dst, dan potensi wisata.

Peluang Wakatobi di antaranya perdangan antar pulau berupa tol laut, resi gudang, dll. Kelautam dan perikanan, pengembangan teknologi penangkapan dst. Kebijakan pelayanan investasi yakni menciptakan iklim usaha yang kondusif, dan percepatan pelayanan perizinan.

“Kebijakan bupati mempermudah investasi,” katanya.

Dalam temu investasi turut hadir dari berbagai elemen. Di antaranya Ketua DPP ASITA, dan para Ketua DPD ASITA, di antaranya dari Bali, Sulut, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Sultra, Kepala Bandara Matahora, PLN, dan kingkup SKPD.

Ketua DPP ASITA, Dr M Rusmiati MSi, dalam pemaparannya mengatakan pariwisata tanpa akses ibarat sayur tanpa garam. Promosi sudah dilakukan namun flight penerbangan tidak memadai, dia menyebutnya lucu.

Rusmiati menjabarkan peran ASITA dalam pengembangan konektivitas pariwisata dengan member kurang lebih 7000 travel agent di Indonesia dari 34 provinsi. Jika semua travel biro perjalanan wisata ini menjual Wakatobi maka angka kunjungan akan terjawab.

Core economy Indonesia dengan keindahan terindah keenam di dunia. Keindahan itu menurutnya salah satunya di Wakatobi. “Lautnya Wakatobi dari atas saya foto lautnya biru. Wow bagus, memang bagus,” katanya.

General Manager Garuda, Saiful Bahri, mengatakan kondisi Bandara Matahora bisa dimasuki pesawat jenis ATR. Dan Garuda sebenarnya sudah ada slot untuk masuk Wakatobi dengan jalur penerbangan Baubau-Wakatobi. Menurut dia, Pemda harus memasukan proposal karena yang memutuskan rute adalah direksi.

Sementara itu, pihak Investor dari PT Tri S Jaya, hadir Presiden Direktur, Dwi Brama. Ia mengatakan pihaknya akan berinvestasi senilai Rp 200 Triliun untuk beberapa wilayah di Sultra. Sedangkan alokasi inbestasi untuk Wakatobi senilai Rp 54 T lebih. Investasi di antaranya berupa industri perikanan, pariwisata, pembangunan bandara dan perumahan.
Banyaknya investasi nantinya perusahaan ini diperkirakan menyerap 10-15 ribu tenaga kerja. “Kami akan eksyen bulan 12. Kami juga akan masuk Baubau pada Februari nanti,” ujarnya.

Direktur Pariwisata yang juga Ketua DPW ASITA Sultra, Rahman, menjelaskan kunjungan ke Wakatobi pernah buming. Namun belakangan menurun, ini menurutnya perlu analisis agar berbenah.
Menurutnya kita perlu melihat ke dalam, bagaimana hotel, restoran (amenitas) yang menurutnya belum didukung SDM yang baik. SDM kata dia harus berkompeten, karena wisatawan ingin pulang membawa kenangan karena mendapat pelayanan yang baik saat berwisata.

Di Wakatobi, hotel standar masih sangat minim. Ada hotel kebersihan dan mutunya tidak sesuai dengan harga. Wakatobi juga perlu dibangun pendukung lain misalnya wahana permaianan, datangkan inbestor mall yang bisa buka 24jam.
“Karena Wakatobi wisata minat khusus under water. Kalau saya dan keluarga saya datang, anak-anak tidak mungkin menyelam,” katanya.(****)