PASCA PANEN, PEMDA BUTUR DIMINTA SIAPKAN PASAR

1282
Abu Hasan bersama Dandim 1429 Butur melakukan panen raya padi organik secara simbolis di Ladang Pak Razak Warga Desa Wacula'ea. FOTO: ASMAN/TRIBUNBUTON.COM

BUTUR, TRIBUNBUTON.COM

Petani padi ladang di Desa Waculae’a, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara (Butur) berharap agar pemerintah daerah menyiapkan pembeli dan pasar padi organik varietas wangkariri, wakawondu dan jenis lainnya. Rendahnya harga jual beras organik membuat petani sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Salah Seorang petani sedang panen padi setelah menunggu 5 bulan lamanya. FOTO: ASMAN/TRIBUNBUTON.COM

Salah seorang petani, Mama Rikal, mengatakan supsidi dana bantuan pengolahan lahan Rp 2,5 juta dari Pemda Butur harusnya diserahkan lebih awal. Pasalnya sumber pendapatan masyarakat tidak ada ketika mengolah lahan pertanian.

“Uang bantuan dari pemda disalurkan ketika lahan akan siap tanam. Kami tidak bisa menabung untuk kebutuhan kuliah anak kami, sebab sumber pendapatan lain tidak ada. Sehingga masyarakat menjual hasil panen di pasar rakyat Minaminanga kulisusu dengan kisaran harga Rp 18 ribu/kg,” jelasnya, di sela-sela panen raya secara simbolis di Kebun (Ladang) pak Razak.

Hasil panen yang melimpah tidak akan berdaya ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan bila pasar dan pembeli tidak tersedia. Sementara Permintaan kebutuhan beras merah organik asal Butur begitu banyak baik pasar lokal, nasional dan internasional.

Musyida Arifin salah satu Tenaga Ahli Pengembangan Padi Organik Pemda Butur, kepada TRIBUNBUTON (Tribunbuton.com) via whatsapp, menuturkan, harga jual beras organik Buton Utara di tingkat Provinsi Sultra, nasional berkisar antara Rp 35 ribu rupiah. Sementara untuk harga pasar di tingkat internasional belum diketahui secara pasti.

“Harga jual beras organik lokal kita yaitu padi wangkariri, wangkawondu, wangkaluku, warumbia, watanta, waapolo, wabila, sekitar 35 ribu, bahkan kadang sampai dengan harga 40 ribuan,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Butur, Sahrun Akri, menjelaskan, Bupati Butur menjadikan pertanian organik sebagai prioritas utama di masa pemerintahannya. Olehnya itu peningkatan produktivitas hasil padi organik terus digenjot untuk menambah penghasilan masyarakat Butur. Kedepan anggaran supsidi pengoptimalisasian lahan akan bertambah.

“Kita target produksi lahan perhektar dari 1,5 ton menjadi 2 ton dalam sekali panen. Bahkan sawahpun akan kita jadikan lahan organik kedepannya. Sebab produksi sawah lebih besar dibanding ladang (kebun),” jelasnya. (m1)