BerandaBaubauRitual Adat Santiago Jadi Awal Rangkaian HUT Kota Baubau ke-485

Ritual Adat Santiago Jadi Awal Rangkaian HUT Kota Baubau ke-485

Baubau, Tribunbuton.com – Pemerintah Kota Baubau menggelar prosesi adat Santiago di Kamali Kara, kawasan Benteng Keraton Buton, Senin 12 Oktober 2026.

Pelaksanaan ritual Santiago tahun ini digelar lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasa berlangsung pada 15 atau 16 Oktober.

Sekretaris Daerah Kota Baubau, La Ode Darussalam, S.Sos., M.Si., hadir mewakili Wali Kota Baubau guna memimpin prosesi ziarah makam para Sultan Buton yang menjadi penanda dimulainya rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Baubau ke-485 dan HUT ke-25 status Kota Otonom.

Sekda Kota Baubau La Ode Darussalam menjelaskan, pergeseran waktu tersebut dimaksudkan agar permohonan doa dan izin restu kepada para leluhur terlaksana sebelum seluruh agenda peringatan hari ulang tahun kota dimulai.

“Ritual Santiago ini kita laksanakan setiap menjelang HUT Kota Baubau. Tahun ini kita majukan lebih awal sebagai penanda bahwa sebelum seluruh rangkaian kegiatan dimulai, kita terlebih dahulu memohon doa dan berpamitan kepada para sultan melalui ziarah makam, agar seluruh proses acara berjalan aman dan lancar,” ujar Sekda.

Ziarah makam difokuskan pada sejumlah makam sultan di sekitar kompleks Masjid Agung Keraton Buton, antara lain makam Sultan Murhum, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo), serta Sultan Dayanu Ikhsanuddin. Keterbatasan waktu membuat ziarah belum dapat mencakup seluruh makam sultan, namun substansi penghormatan dan doa tetap tertuju bagi seluruh pendahulu Kesultanan Buton.

Menanggapi kondisi fisik cagar budaya saat prosesi berlangsung, La Ode Darus Salam mencatat adanya tulisan pada nisan makam yang mulai memudar dan terhapus usia. Persoalan ini akan segera dilaporkan kepada pimpinan daerah untuk ditindaklanjuti instansi teknis.

“Terkait tulisan pada nisan para sultan yang sudah mulai pudar, hal ini akan segera kami laporkan kepada Wali Kota agar Dinas Pariwisata dapat memprioritaskan pembenahan, khususnya pengadaan papan nama informasi makam para sultan,”ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Sekda Kota Baubau Baubau turut mengapresiasi regenerasi pelestarian adat yang terlihat selama upacara berlangsung. Keterlibatan kalangan remaja sebagai penari tradisi Galangi—yang sebelumnya lebih banyak diperankan oleh kalangan tua—menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan warisan budaya Buton di tangan generasi muda. (Hengki)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Populer