Masa Depan Islam di Tangan Pemuda, Pesan Ustaz Marjuwan Ibrahim di Masjid Agung Kolaka Timur

31

KOLAKA TIMUR, TRIBUNBUTON.COM – Safari Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Kolaka Timur Sulawesi Tenggara (Sultra) berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangkitan generasi muda. Dalam rangkaian kegiatan itu, dilakukan penyerahan Al-Qur’an dari PB Alzis yang diwakili Ustadz Marjuwan Ibrahim, Lc., MA, Ketua Ikatan Guru dan Dosen Al-Washliyah.

Momentum tersebut bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi simbol penguatan dakwah dan komitmen membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Ustadz Marjuwan menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Safari Ramadan di Kolaka Timur.

“Selamat dan sukses atas terlaksananya Safari Ramadan 1447 H di Kolaka Timur. Semoga setiap langkah dakwah menjadi ladang pahala, menguatkan ukhuwah, dan menghadirkan keberkahan bagi umat serta daerah. Teruslah menjadi cahaya kebaikan di bulan penuh rahmat ini,” ujarnya.

Empat Pilar Generasi Unggul

Mengusung tema “Masa Depan Islam di Tangan Pemuda”, Ustadz Marjuwan menekankan empat pilar penting yang harus dikuasai generasi muda Islam agar mampu bersaing dan memimpin di tingkat global:

Bahasa asing, untuk membuka peluang dakwah dan komunikasi internasional.
Kemandirian ekonomi, agar pemuda mampu menjadi pelaku usaha dan bersaing secara profesional.

Keahlian pertanian dan peternakan, sebagai pekerjaan masa depan dan fondasi kedaulatan pangan. Kedekatan dengan Al-Qur’an, sebagai sumber nilai, moral, dan karakter.

“Kalau empat ini kita siapkan, insyaallah generasi Islam Indonesia akan menjadi pemimpin-pemimpin dunia,” ujarnya di hadapan ratusan jamaah.

Pertanian dan Peternakan: Profesi Masa Depan

Marjuwan menegaskan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan robotika, banyak pekerjaan akan tergantikan mesin, namun kebutuhan manusia terhadap pangan tetap abadi. Ia menekankan relevansi sektor pertanian dan peternakan dengan potensi Kolaka Timur.

“Banyak pekerjaan bisa diganti robot. Tapi manusia tetap makan. Pertanian dan peternakan tidak akan pernah mati,” tegasnya.

Ia juga mengaitkan hal ini dengan hadis Nabi Muhammad SAW: jika kiamat akan terjadi sementara di tangan seseorang terdapat benih tanaman, maka tetaplah menanamnya. Pesan ini menunjukkan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang akan bertahan hingga akhir zaman.

Generasi Muslim vs Generasi Barat

Ustadz Marjuwan membandingkan generasi muda Muslim Indonesia dengan generasi Barat, yang menurutnya sering kurang dekat dengan orang tua dan mandiri terlalu dini, sehingga berpotensi mengalami krisis nilai. Sebaliknya, generasi muda Muslim Indonesia yang masih dekat keluarga memiliki modal penting untuk memimpin masa depan.

“Siapa yang akan mengisi kekosongan global jika generasi Barat melemah? Generasi muda Islam yang siap dan berkualitas akan mengisinya, membawa perkembangan Islam yang tinggi di berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Pendidikan Agama dan Pembinaan Anak

Ia meluruskan pandangan yang menilai pendidikan Agama tidak memiliki masa depan. Justru dari pesantren lah lahir pemimpin masa depan yang dibekali ilmu agama, akhlak, dan karakter kuat. Ia juga menekankan peran orang tua dalam membimbing anak-anak sebagai aset umat dan bangsa.

Safari Ramadan 1447 H di Kolaka Timur menjadi momentum membangun kesadaran kolektif bahwa kebangkitan Islam sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda. Dengan bekal ilmu agama, penguasaan bahasa asing, serta kemandirian ekonomi berbasis pertanian dan peternakan, generasi muda diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang membawa keberkahan bagi umat, daerah dan bangsa. (Rial)