Ibadah Optimal Butuh Tubuh Yang Sehat

96
Direktur Arief Care Center (ACC) Baubau, Arief Munandar, S.Kep., Ns., MM

– Ramadhan dan Kesiapan Tubuh: Perspektif Seorang Perawat di Kota Baubau

Oleh: Arief Munandar, S.Kep., Ns., MM – Direktur Arief Care Center (ACC) Baubau | Anggota HIPMI Kota Baubau

BAUBAU, TRIBUNBUTON.COM – Bulan suci Ramadhan akhirnya tiba. Di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, antusiasme masyarakat begitu terasa. Masjid kembali ramai, suasana kebersamaan menguat dan semangat ibadah meningkat dari hari ke hari.

Namun sebagai seorang perawat yang setiap hari melayani masyarakat, tantangan utama saat Ramadhan bukan semata pada kemampuan menahan lapar dan haus, melainkan pada kesiapan tubuh menghadapi perubahan pola makan, tidur dan aktivitas harian.

Tanpa persiapan yang baik, perubahan mendadak ini dapat memicu gangguan kesehatan yang sebenarnya dapat dicegah.

Masyarakat Baubau memiliki kebiasaan konsumsi makanan bersantan, olahan ikan asin, sambal pedas, serta kebiasaan minum kopi di pagi hari. Kebiasaan ini, tentu bukan sesuatu yang keliru. Namun ketika memasuki Ramadhan, penghentian atau perubahan pola secara tiba-tiba sering menimbulkan keluhan seperti sakit kepala akibat penarikan kafein, gangguan lambung karena perubahan jadwal makan, hingga rasa lemas berlebihan pada hari-hari awal puasa.

Tubuh manusia bekerja berdasarkan ritme biologis. Perubahan drastis tanpa adaptasi, kerap memunculkan “protes” dalam bentuk keluhan kesehatan. Karena itu, saat berpuasa di bulan Ramadhan, masyarakat sebaiknya mulai melakukan penyesuaian bertahap mulai dari, mengurangi konsumsi kafein, membatasi makanan tinggi lemak dan pedas, serta membiasakan jadwal makan yang lebih teratur.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada penderita penyakit kronis, seperti hipertensi dan diabetes. Dalam praktik pelayanan kesehatan, kerap ditemukan tekanan darah tidak stabil atau gula darah turun drastis akibat kurangnya persiapan dan pengawasan. Tidak sedikit pula, masyarakat yang belum menyadari kondisi kesehatannya karena jarang melakukan pemeriksaan rutin.

Puasa dapat memberikan manfaat metabolik jika dijalankan dengan benar, tetapi bagi individu dengan kondisi tertentu, konsultasi tenaga kesehatan menjadi langkah penting untuk memastikan ibadah tetap aman.

Sahur bukan sekedar makan agar tidak lapar, melainkan momen penting mempersiapkan cadangan energi dan cairan selama kurang lebih 13-14 jam berpuasa.

Konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, protein seimbang, serta buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka dapat membantu mempertahankan energi. Sebaliknya, makanan tinggi garam, gorengan berlebihan, serta minuman tinggi gula sebaiknya dibatasi karena dapat memicu rasa haus lebih cepat.

Saat berbuka, pola makan juga perlu dikendalikan. Lonjakan gula darah akibat konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan dalam waktu singkat dapat berdampak kurang baik, terutama bagi penderita diabetes atau gangguan metabolik. Berbuka seharusnya dilakukan secara bertahap dan proporsional, bukan sebagai pelampiasan rasa lapar.

Ramadhan sejatinya merupakan momentum memperbaiki pola hidup. Pengaturan porsi makan, peningkatan konsumsi air putih di malam hari, serta pengelolaan waktu tidur yang lebih teratur dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan jangka panjang. Jika dikelola dengan baik, puasa justru membantu mengistirahatkan sistem pencernaan dan meningkatkan kesadaran terhadap pola konsumsi sehari-hari.

Sebagai tenaga kesehatan, saya meyakini bahwa ibadah dan kesehatan bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya saling menguatkan. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang beribadah dengan optimal, dan ibadah yang dijalankan dengan penuh kesadaran membentuk disiplin serta pengendalian diri yang berdampak baik bagi kesehatan.

Dengan persiapan yang matang dan pola hidup yang lebih disiplin, Ramadhan tidak hanya membawa keberkahan spiritual, tetapi juga kesehatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.(Adm)