ALUMNI SMPN WAHA TOMIA 1989 GELAR REUNI PERDANA, BERIKUT KISAHNYA

893
Saat temu TUAN GURUKU. FOTO Duriani

 

WAKATOBI, TRIBUNBUTON.COM – Setelah 33 tahun berpisah, sejumlah alumni siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Waha Tomia tahun 1989 menggelar pertemuan kembali (reuni).

Reuni alumni SMPN Waha Tomia tahun 1989 yang pertama kali itu mengusung tema “satu masa satu rasa”. Sekitar 90 lebih dari 140 lebih alumni ikut berpartisipasi. Mulai 4 – 9 Mei 2022.

Sejumlah kegiatan selama reuni telah disepakati bersama. Namun situasi yang tidak mendukung, curah hujan setiap saat. Membuat beberapa kegiatan out door (luar ruangan) seperti bakti sosial di ruang publik harus ditiadakan.

Saat di puncak Waru Kahianga Tomia Timur. FOTO Duriani

Setelah 33 tahun, banyak perubahan terjadi di lingkungan SMPN Waha Tomia yang kini berubah nama menjadi SMPN 2 Tomia. Mulai dari bangunan seperti ruang belajar yang sudah terlihat megah. Sejumlah guru yang turut andil menelorkan sejumlah alumni berprestasi juga tersisa beberapa orang.

Ada yang telah berpindah tugas ke luar daerah, telah memasuki masa purnabakti ditambah kesehatan terganggu serta ada juga yang telah meninggal dunia. Sehingga tidak bisa lagi bertatap muka dengan sejumlah alumni 1989.

Salah satu agenda yang tak terlupakan saat reuni yakni “Temu Guruku”. Dari belasan guru SMPN Waha Tomia saat itu, hanya 4 orang yang menyisihkan waktu hadir. Lalu ada juga guru yang dikunjungi di rumahnya karena persoalan kesehatan yang tidak menunjang untuk hadir.

“Saat itu, kami sebagai guru baru dan penempatan pertama di SMPN Waha Tomia berusia dikisaran 21 dan 22 tahun. Sedangkan kalian sebagai siswa berusia dikisaran 15 – 16 tahun. Sehingga terkadang saat mengajar muncul rasa tegang. Mungkin faktor X,” ujar Abibu Abu SPd, salah seorang Guru Mate-Matika, yang sontak mendapat aplaus dan nada candaan alumni.

La Keni SPd, salah seorang Guru Bahasa Inggeris yang sempat hadir dalam Temu Guruku tersebut. Meminta alumni 1989 untuk tak henti-hentinya menciptakan inovasi dan prestasi di manapun mengabdi untuk Nusa dan bangsa.

“Jika Inggeris menguasai dunia, maka berbuatlah atas nama Tomia khususnya SMP Waha Tomia agar bisa menguasai Indonesia,” pesannya penuh makna.

La Keni SPd, juga berpesan kepada alumni 1989 yang saat ini anaknya sementara menuntut ilmu di SMPN Waha Tomia untuk selalu didampingi dan diawasi jika sedang berada di lingkungan tempat tinggal.

“Anaknya atau cucunya yang saat ini sedang menuntut ilmu di SMPN Waha Tomia. Kami guru-guru akan selalu mengajarinya di sekolah. Tapi bapak dan ibu sekalian selaku orang tua, tolong juga untuk diajari di rumah,” pinta La Keni, yang tak lama lagi memasuki masa purnabakti.

Foto bareng Tuan Guruku. FOTO Duriani

Sementara Nadar SIP.MSi, perwakilan alumni SMP Waha Tomia 1989 mengucapkan apresiasi dan rasa terimakasih kepada semua guru SMP Waha Tomia saat itu. Karena telah membentuk karakter dan kepribadian alumni sehingga mampu beradaptasi di manapun beraktivitas.

“Alumni SMPN Waha Tomia 1989 mengucapkan terimakasih tak terhingga. Berkat didikan dan ilmu yang ditransfer, hari ini kami alumni SMPN Waha Tomia tersebar dibeberapa kota besar di Indonesia dengan berbagai profesi dan jenis usaha. Terimakasih terimakasih terimakasih,” ucap Nadar, yang menjabat Kadis Pariwisata Wakatobi.

Nursalam Lada, perwakilan alumni 1989 lainnya juga mengucapkan hal yang sama. Dimana peran guru sangat besar untuk meraih kesuksesan saat ini. Meskipun saat itu terkadang kekerasan fisik seringkali terjadi jika siswa membuat kesalahan fatal.

Pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) itu memandang jika profesinya sebagai politisi dan menjadi anggota DPRD Sultra tiga periode, tidak terlepas dari kedisplinan yang diterapkan pihak sekolah dan guru saat itu.

“Di politik itu terkadang nampak keras. Sehingga saya sadari bahwa kematangan menghadapi segala macam situasi yang keras itu, bukti jika terbentuk dari didikan guru-guru yang keras saat itu pula,” kata Nursalam Lada.

Reuni alumni SMPN Waha Tomia 1989 banyak meninggalkan kesan sesama alumni. Pasalnya, moment setelah 33 tahun tersebut telah banyak perubahan. Bahkan banyak sesama alumni baru bertemu di moment perdana itu.

“Betul betul banyak perubahan. Jujur saja semenjak keluar dari SMPN Waha Tomia 33 lalu. Mayoritas alumni yang hadir ini baru saya bertemu. Terkadang wajahnya saya tidak ingat lagi, mungkin karena sudah jadi nenek-nenek,” tukas Asrani, salah seorang alumni yang berdomisili di Kepulauan Taliabo Maluku Utara.

Selama enam hari bernostalgia, alumni SMPN Waha Tomia 1989 menutup rangkaian kegiatannya di Puncak Waru, Kahianga Tomia Timur. Dengan membawa alat musik Orgen tunggal, seluruh alumni bergoyang bersama. Diakhir kegiatan, semua alumni melakukan rapat penutupan. Dan disepakati pelaksanaan reuni kedepan dilakukan setiap 3 tahun sekali. (Tribunbuton.com/Duriani)