KEMBANGKAN EKONOMI BERBASIS KONSERVASI, YKAN APRESIASI KELOMPOK PEREMPUAN DI DESA KULATI

441
Bupati Wakatobi, H Haliana, saat bincang-bincang dengan kelompok Padatimu To'asoki. FOTO istimewah

 

WAKATOBI, TRIBUN BUTON – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengapresiasi upaya kelompok perempuan di Desa Kulati Kecamatan Tomia Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hasil produk kelompok Padatimu To’asoki. FOTO istimewah

Apresiasi YKAN terhadap upaya sejumlah perempuan di desa terujung pulau Tomia itu. Kaitannya dengan peringatan Hari Ibu Indonesia 22 Desember 2021 lalu. Dimana sekelompok perempuan di Desa Kulati secara aktif mendukung upaya konservasi alam di Wakatobi khususnya di Desa Kulati.

Kabupaten Wakatobi sebagai salah satu wilayah Taman Nasional di Indonesia. Dan memiliki luas wilayah 97 persen laut, terletak di wilayah Segitiga Terumbu Karang sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

Kondisi tersebut menjadikan sumber daya perikanannya sangat melimpah dan harus dimanfaatkan secara berkelanjutan. Salah satu aktor penting dalam upaya ini adalah perempuan.

Terkait dengan hal tersebut, YKAN bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi, Balai Taman Nasional Wakatobi, Jasa Raharja, dan Kelompok Ekowisata Desa Kulati Poassa Nuhada melakukan pendampingan beberapa kelompok perempuan. Termasuk Kelompok Padatimu To’asoki di Desa Kulati.

Kelompok Padatimu To’asoki berdiri pada bulan Juli 2021, beranggotakan 12 orang ibu rumah tangga di Desa Kulati. Tujuan didirikannya kelompok tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan para anggotanya termasuk di sektor usaha perekonomian. Mereka mulai mengembangkan produk berupa kerupuk ikan simba (Caranx ignobilis).

“Kami memilih ikan simba sebagai bahan dasar kerupuk karena ikan ini merupakan salah satu jenis yang paling banyak ditangkap oleh nelayan tradisional di Pulau Tomia. Ikan simba biasanya banyak didapat pada bulan Oktober – Desember dan Februari – April. Dari hasil musyawarah, pengecekan bahan baku, serta minat masyarakat, maka kami memilih produk kerupuk ikan simba,” terang Ketua Kelompok Padatimu To’asoki,” Yulianti Rahman.

Setelah melalui serangkaian kegiatan, mulai dari identifikasi potensi, penguatan kelembagaan, pelatihan produksi, serta uji coba resep. Kerupuk ikan simba mulai diluncurkan pada bulan Oktober 2021.

Untuk menjamin agar kerupuk ikan simba bisa diterima oleh konsumen secara luas, maka produk ini telah dilengkapi dengan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Meski masih relatif baru.

Kelompok Padatimu To’asoki telah mendapat banyak pelanggan di luar Pulau Tomia. Bahkan hingga Papua dan Halmahera. Harga kerupuk ikan ini cukup terjangkau bagi masyarakat setempat, yakni Rp.10 ribu per bungkus.

“Pemberdayaan perempuan merupakan aspek penting dalam pembangunan. Melalui program ini. Kelompok perempuan diharapkan dapat mengembangkan ekonomi lokal berbasis potensi sumber daya alam secara berkelanjutan,” terang Direktur Pengembangan dan Pemasaran YKAN, Ratih Loekito.

Untuk mendukung upaya pemanfaatan sumber daya laut yang bijak dan lestari. Kelompok Padatimu To’asoki telah membuat kesepakatan konservasi. Salah satu poin pentingnya adalah bahwa ikan simba sebagai bahan dasar kerupuk harus ditangkap dengan alat yang ramah lingkungan dan tidak merusak.

“Dari kegiatan ini kita mendapatkan pembelajaran bahwa apabila sebuah kawasan konservasi dikelola dengan baik maka akan mampu memberikan manfaat ekonomi dan ekologi bagi masyarakat setempat,” pungkas Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman.

Untuk diketahui, YKAN adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. Memiliki misi melindungi wilayah daratan dan perairan sebagai sistem penyangga kehidupan. Memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan nonkonfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak. (Tribunbutom.com/Duriani)