MENGENAL “BATU BERDARAH”, TEMPAT RITUAL MASYARAKAT DESA BANABUNGI

1592
Batu berdarah di Kabupaten Buton terletak tak jauh dari Kali Lakua. FOTO:ISHAR/TRIBUNBUTON.COM

 

BATU Berdarah merupakan tempat ritual yang berada di bagian barat Wisata Kali Lakua (Kali Biru) Desa Banabungi, Pasarwajo, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Batu ini dianggap keramat bagi masyarakat setempat.

Batu berukuran, panjang 800cm, lebar 400cm, tinggi, 90cm dan luas 32m itu statusnya dalam kepemilikan pemerintah. Kepala Dusun Banabungi Alimudin Raha SIp, menjelaskan pada Tahun 1950an Perusahaan BUTAS (Buton Aspal) akan membuat jalan raya Pasarwajo-Wabula di atas batu berdarah.

“Maka pihak kontraktor meratakan dan menghancurkan batu tersebut menggunakan alat berat, namun batu tetap utuh,” ujarnya

Oleh karena itu, batu dibor agar dimasukan dinamit untuk diledakan. Tetapi mata bor malah patah dan batu mengeluarkan darah segar.

“Dari situlah batu tersebut dikenal dengan sebutan Batu Berdarah,” lanjut Alimuddin Raha.

Sejak saat itu, Pemerintah Desa melalui Lembaga Adatnya sampai hari ini sering melakukan ritual yang dinamakan “Tuturangi” karena menyangkut dengan leluhur masyarakat Desa Banabungi.

Ritual Tuturangi diadakan dalam dua kali setahun tepatnya pada musim timur dan musim barat.
Masyarakat yang mengikuti ritual rata-rata umumnya masyarakat Desa Banabungi dan Suku Takimpo.

Menurut para Tokoh-Tokoh Adat yang ada di Desa Banabungi, bahwa Batu Berdarah berpenghuni dan dikuatkan lagi beberapa saksi mata yang sering melihat penampakan di sekitaran Batu dan Kali Lakua.

“Harapan saya kepada masyarakat Kecamatan Pasarwajo khususnya Desa Banabungi dan Pengunjung Kali Lakua untuk tidak mengotori sekitaran Batu Berdarah. Dan juga janganlah membuat keributan di sana,” tutup Alimudin Raha. (isr)