BAUBAU, TRIBUNBUTON.COM – Pendapatan PDAM Kota Baubau menurun drastis (anjlok, red) di area sektor pelabuhan. Hal ini karena dampak dari pandemi Covid-19 yang hingga kini belum normal.
Direktur PDAM Kota Baubau, Jemi Hersandi, menjelaskan pendapatan PDAM di area sektor pelabuhan sebelumnya mencapai hingga di angka Rp 100 jutaan per bulan. Kini jatuh hanya dikisaran kurang lebih Rp 5 juta rupiah per bulan.
“Covid-19 menyebabkan kapal-kapal yang seharusnya bersandar di sektor pelabuhan Kota Baubau harus dipulangkan,” jelas Jemi kepada TRIBUN BUTON (www.tribunbuton.com) di ruang kerjanya, Kamis 17 2021.
Ia mengatakan dulu kapal Pelni dalam sekali sandar memesan air hingga 600 ton. Belum lagi kapal kapal yang lain, biasanya sampai 100 ton per satu kapal.
Menurut dia, penurunan kebutuhan air bersih di kapal PELNI akibat dari kurangnya penumpang. Hal ini berdampak pada kebutuhan air yang juga hanya sedikit.
“Beberapa kapal Dok di musim pandemi, Penumpang kapal hanya sedikit, kalau banyak penumpang pasti besar juga kebutuhan airnya, pendapatan hanya 5 jutaan per bulan, hanya bisa menutupi biaya operasional listrik,” ungkapnya.
Dengan demikian, pendatapan PDAM juga berdampak pada tanggungan yang harus dibayar, seperti BPJS dan lain-lain. “Kita mau pangkas karyawan kasian ini, mau tidak mau gaji mereka tertunda hingga dua bulan akan tetapi kinerja selalu bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, pembayaran pelanggan PDAM juga ikut menunggak. Dampaknya terasa kepada masyarakat yang utamanya ekonomi lemah.
“Masalah pembayaran dan itu juga kita maklumi,” ungakap Jemi.
Ia berharap agar perusaan yang dikelolanya saat ini bisa lebih maju. Sejauh ini pihaknya sudah mengajukan proposal untuk pengembangan sumber mata air. Karena potensi air yang saat ini dikelola belum maksimal dan belum memenuhi kebutuhan air bersih kepada masyarakat. (flash)
