Ustadz Marjuwan Ibrahim Pimpin Ceramah Ba’da Zuhur dan Safari Ramadan di Sultra

35

KENDARI, TRIBUNBUTON.COM – Ustadz Marjuwan Ibrahim Lc.MA, mewakili PB Alzis melaksanakan Safari Ramadan 1447 Hijriah di sejumlah Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara (Sultra). Salah satu agenda pentingnya adalah ceramah Ba’da Zuhur di Masjid Al-Muhajirin Lumba-Lumba, Kota Kendari.

Dalam ceramahnya Ba’da Zuhur di Masjid Al-Muhajirin Kota Kendari. Ustadz Marjuwan sekaligus menyerahkan mushaf Al-Qur’an kepada pengurus masjid. Sebagai bagian dari penguatan pendidikan Al-Qur’an dan penghidupan syiar Islam di Sultra. Ceramah saat itu, menjadi agenda penutup sebelum kembali ke Jakarta.

Waktu yang Terasa Singkat dan Ibadah Musiman

Dalam ceramahnya, Ustadz Marjuwan mengingatkan jamaah tentang hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai tanda akhir zaman bahwa waktu akan terasa semakin singkat. Ia menekankan fenomena ini bukan sekadar psikologis, tetapi terkait berkurangnya keberkahan dalam hidup: umur tetap sama, namun amal kerap lebih sedikit dibanding generasi terdahulu.

Ustadz Marjuwan menyoroti fenomena ibadah musiman di bulan Ramadan. Banyak orang hanya beribadah di awal bulan. Sedangkan pekan terakhir, yang seharusnya inti ibadah dengan sepuluh malam terakhir dan Lailatul Qadar, justru digunakan untuk mudik dan persiapan Idul Fitri. Sebagai perbandingan, antusiasme jamaah di Maroko dalam qiyamul lail menunjukkan pemahaman mendalam tentang keutamaan malam Lailatul Qadar.

Menghidupkan Waktu Barokah

Ustadz Marjuwan mengajak umat untuk memanfaatkan waktu-waktu penuh keberkahan: sepertiga malam terakhir, shalat Subuh dan Isya berjamaah, dzikir dan tilawah antara Subuh hingga Syuruk, menunggu waktu shalat (ribath), doa antara azan dan iqamah, serta menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan. Ia menegaskan bahwa ibadah di waktu-waktu ini dapat menyamai bahkan melampaui pahala generasi terdahulu.

Kisah Inspiratif dan Pesan Penutup

Ceramah diakhiri dengan kisah dua sahabat Nabi. Salah satunya wafat sebagai syahid, satunya wafat karena sakit. Sahabat yang wafat karena sakit justru masuk surga lebih dahulu karena Allah memberinya tambahan satu Ramadan untuk beramal. Pesan Ustadz Marjuwan jelas: setiap nafas dan setiap Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kader Ustadz Abdul Somad itu menutup dengan doa agar umat tidak menjadikan Ramadan sekadar budaya tahunan, tetapi sebagai momentum spiritual yang nyata. Safari Ramadan 1447 H di Sultra pun menjadi bukti semangat dakwah dan kebangkitan generasi muda yang terus hidup, sekaligus pengingat pentingnya menjaga keberkahan waktu. (Rial)