WAKATOBI, TRIBUNBUTON.COM – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Wagub Sultra), Ir Hugua, menghadiri undangan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Wakatobi. Bertempat di Patuno Resort Wakatobi, Sabtu 23 Agustus 2025.
Undangan kegiatan itu bertajuk, Audiensi Wagub Sultra bersama BPC HIPMI Wakatobi. Tentang penguatan potensi ekspor di sektor perikanan dan kelautan. Dan dihadiri Wakil Bupati Wakatobi, perwakilan instansi terkait dan sejumlah perwakilan komunitas nelayan serta pengusaha nelayan di Wakatobi.
Berbagai tantangan, kendala nelayan dan pengusaha nelayan di Wakatobi selama ini terungkap dalam kegiatan itu. Bahkan dalam sesi diskusi dan tanya jawab, peserta secara bergantian hingga beberapa kali mendapat giliran untuk mengemukakan persoalan dihadapinya.
Usai kegiatan itu, Wakil Gubernur Sultra kepada media ini baru menyadari jika ternyata di Kabupaten Wakatobi sudah ada kegiatan ekspor. Termasuk kendala yang dihadapi para pengusaha nelayan.
“Ternyata di Wakatobi sudah melakukan kegiatan ekspor, misalnya Gurita. Sekarang yang mereka butuhkan adalah integrasi pemerintah provinsi dan kabupaten. Bagaimana tata cara ekspor impor itu bisa berjalan,” ucap Hugua.
Hugua, mengatakan untuk kegiatan ekspor kesehatannya harus dipastikan berjalan. Kemudian, tata cara ekspor impornya seperti apa. Lalu bagaimana persyaratan-persyaratan Buyer (pembeli) itu bisa dipenuhi.
“Ekspor itu kan pengiriman barang. Misalkan dari Wakatobi ke Kendari. Tapi kan ini antar negara dari Rupiah menjadi Dolar, ada aturan negara. Maka di situ ada Bea Cukai (pabean). Disitu namanya pemberitahuan ekspor barang. Nah, surat-surat ini yang harus dilewati oleh pebisnis yang berkaitan dengan ekspor impor,” kata Wagub Sultra.

Untuk persyaratan lanjutan, Hugua menjelaskan seorang pebisnis harus mengetahui bagaimana kualitas barang itu bisa diterima oleh buyer dengan sempurna. “Itulah yang kita diskusikan dan pelajari hari ini,” ucap Hugua.
Wagub Sultra memberi apresiasi generasi muda di Wakatobi yang kini telah menjajaki kegiatan ekspor. Menurutnya, butuh generasi muda yang lebih bermanfaat untuk memaksimalkan usaha dimaksud. Dan komitmen generasi muda pengusaha untuk membangun yang ingin mengembangkan usahanya dengan baik.
“Kendala di Wakatobi ini ada dua. Pertama, tentang Carriage Paid (CP) bagaimana penanganan dari nelayan sampai kepada kualitas pembukuan dan pengiriman. Dan kedua, memang dari aspek lingkungan, kita masih ada kegiatan nelayan tidak ramah lingkungan. Dan ini menjadi atensi pemerintah provinsi dan kabupaten,” pungkas Hugua. (Adm)
