Kemenag Siapkan Fasilitator Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta

590

GARUT, TRIBUNBUTON.COM – Kementerian Agama telah merilis panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Selanjutnya, Kemenag menyiapkan para fasilitator untuk percepatan implementasi KBC.

Dilansir dari laman Kementerian Agama Republik Indonesia. Puluhan fasilitator digembleng dalam Pra-Pelatihan Fasilitator (Training of Facilitator) pada 7–10 Agustus 2025 di Peacesantren Welas Asih Garut Jawa Barat.

Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Ali Ramdhani, menyatakan kegiatan Pra-ToF KBC itu bagian dari skema penyiapan SDM yang memahami KBC secara tepat dan benar.

“Pra-ToF KBC ini menjadi langkah awal menyusun model pelatihan dan menyiapkan fasilitator KBC. Kegiatan ini fondasi pembekalan, penyamaan persepsi, dan perumusan strategi komunikasi yang efektif dalam menginternalisasi nilai-nilai cinta di dunia pendidikan, khususnya di madrasah”, tegas Ramdhani di Garut. Sabtu 8 Agustus 2025.

Mantan Sekjen Kemenag itu memberikan pesan mendalam tentang cinta sejati. Ia menggaris bawahi bahwa cinta murni adalah cinta tanpa pamrih sepanjang masa. Seperti cinta seorang ibu kepada anaknya yang lahir melalui lima air kehidupan yakni air ketuban, air darah, air susu ibu, air keringat, dan air mata.

“Cinta semacam inilah yang ingin kita hadirkan dalam pendidikan. Cinta yang utuh, menyentuh, dan membentuk karakter,” ujarnya.

Ramdhani mengapresiasi Pra-ToF tersebut sebagai langkah proaktif. Kegiatan itu merupakan sinergi antara Kementerian Agama dan Project INOVASI, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), dan Peacesantren Welas Asih.

Kegiatan Pra ToF tidak sekadar mengupas konsep cinta sebagai teori, namun merancang pendekatan pelatihan yang menyentuh dimensi psikologis, sosial, dan spiritual. KBC diharapkan mampu menciptakan budaya sekolah atau school culture yang dilandasi kebiasaan baik dan nilai-nilai kemanusiaan.

Di tempat yang sama Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Pendidikan dan Keagamaan, Mastuki, menegaskan bahwa desain pelatihan yang sedang disusun harus mendekati realitas kehidupan madrasah dan sekolah secara otentik.

“KBC memiliki konsep dan filosofi amat mendalam. Ini bukan sekadar pelatihan biasa. Pesan dan amanah Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar sangat jelas pentingnya spirit cinta yang hidup, menyatu dalam keseharian di lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Cinta sebagai pembudayaan dan pembelajaran yang hidup, bukan mata pelajaran tersendiri,” ungkap Mastuki.

Pra-ToF perlu sinergi dan kolaborasi dengan tokoh, personal, dan lembaga yang otoritatif dan memiliki rekam jejak yang jelas tentang praktik pendidikan karakter dengan cinta. Kegiatan ini menjadi ruang awal untuk membangun paradigma baru pendidikan yang lebih manusiawi dan membumi, berlandaskan pada nilai cinta yang menyembuhkan, membimbing, dan memanusiakan.

Hadir di acara pembukaan Direktur GTK, Thobib Al-Asyhar, Pengasuh dan pendiri Peacesantren Welas Asih, Irfan Amali, Widyaiswara Pusbangkom SDM Pendidikan dan Keagamaan, Tim INOVASI, dan tim PSPK Jakarta. (Adm)