MELIRIK POTENSI SEKTOR BUDIDAYA UDANG VANAMEI DI BUTON TENGAH

493
Ramad Arya Fitra S.Pi.,M.Si

 

Oleh: Ramad Arya Fitra S.Pi.,M.Si

Kabupaten Buton tengah adalah salah satu Kabupaten di Sulawesi Tenggara yang memiliki sejuta potensi khususnya pada sektor perikanan dan kelautan. Dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan kelautan dan perikanan sesuai dengan visi KKP. Yakni “Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, Maju, Kuat, dan Berbasiskan Kepentingan Nasional”

Kabupaten Buton Tengah terus meningkatkan dan mengoptimalkan pemamfaatan sumberdaya kelautan dan perikanan. Salah satu komoditas penting yang menjadi potensi pengembangan budidaya di Kabupaten Buton Tengah adalah udang putih atau vannamei.

Udang putih atau udang vannamei menjadi andalan dan banyak dikembangkan saat ini. Udang vanname saat ini menjadi primadona pada pasar ekspor karena memiliki nilai gizi lebih tinggi dibandingkan jenis udang lainnya.

Indonesia saat ini melalui Kementerian Kelautan dan Perinakan (KKP) tengah menggenjot produktivitas tambak udang khususnya jenis vanname. Dengan target peningkatan ekspor sebesar 250 persen hingga tahun 2024.

Berdasarkan hal tersebut, sebagai daerah kepulauan yang memiliki garis pantai yang potensial. Maka tentu menjadi peluang besar bagi masyarakat Buton Tengah untuk mengembangkan budidaya udang vannamei.

Budidaya udang vanamei di Kabupaten Buton Tengah saat ini masih mengunakan sistem tradisional atau secara konvensional. Saat ini luasan tambak tradisional tercetak di Buton tengah seluas 134,14 hektar yang membentang di pesisir Kecamatan Mawasangka Kabupaten Buton Tengah.

Kita patut bersyukur dalam RTRW Buton Tengah telah menetapkan arahan untuk pengembangan kawasan budidaya perikanan air payau pada kawasan strategis mencapai 991,13 hektar.
Dalam hal produktifitas hasil panen udang vannamei di Buton tengah masih belum optimal, disebapkan belum adanya intervensi teknologi bagi para pelaku pembudidaya udang vannamei .

Sementara dengan adanya intervesi teknologi mampu menghasilkan produksi udang vannamei hampir sepuluh kali lipat dibandingkan secara tradisional. Kondisi yang ditemukan bahwa untuk mengaplikasikan teknologi bagi para pembudidaya udang terkendala oleh minimnya pengetahuan dan modal.

Olehnya itu disnilah peran pemerintah untuk memfasilitasi dalam hal bantuan modal dan pengetahuan tentang budidaya udang yang baik.

Selajutnya, kawasan strategis yang akan dikembangkan sebagai kawasan budidaya sesuai RTRW mesti ditetapkan sebagai program unggulan untuk menggenjot produksi udang secara lokal yang akan berdampak pada peningkatan ekspor udang nasional.

Potensi yang ada didepan mata ini , jika pemerintah sadar dan serius untuk mengembangkannya maka Kabupaten Buton Tengah dapat menjadi salahsatu Kabupaten yang mampu mandiri dalam mengelola sumbedaya alam dan mampu, sejajar dengan daerah-daerah penghasil udang lainya di Indonesia.

Dengan berbagai potensi yang telah disebutkan diatas, tentu ada beberapa tantangan dalam budidaya udang yang mesti diselesaikan agar apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.

Pada kesempatan ini penulis berpendapat bahwa perlu adanya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia bagi para pelaku tambak, dengan memberikan berbagi pelatihan-pelatihan terkait persiapan lahan dan kesesuain lingkungan, pengetahuan manajemen kualitas air tambak, dan manajemen pakan. Selain itu perizinan, modal usaha, intervensi teknologi, dan kualitas benur mesti menjadi faktor utama yang harus diprioritaskan.

Selanjutnya deteksi dini penyakit dan penanganannya merupakan hal yang penting bagi keberlanjutan usaha tambak. Sebagaimana kita ketahui bahwa serangan penyakit merupakan momok menakutkan bagi para pekaku usaha budidaya udang.

Peran Dinas Kelauatan dan Perikanan dalam memberikan informasi sangat penting dalam rangka kesuksesan usaha budidaya udang. Selanin itu, tindakan nyata yang mesti dilakukan pemerintah melaui dinas terkait adalah melakukan upaya kerja sama dengan pihak swasta untuk memulai percontohan budidaya udang yang benar-benar telah memanfaat

kan teknologi dan berkelanjutan, seperti adanya kincir, pengelohan limbah (IPAL), pemanfaatan probiotik dan pakan dengan kepadatan tebar tinggi.

Hal ini dimaksud agar masyarakat bisa belajar langsung untuk menambah pengetahuan dan pengalaman sehingga mampu beralih sistem teknologi semi intensif dan intensif untuk meningkat hasil produksi udang vannamei.

Sebagai penutup dengan melihat tingginya potensi sektor budidaya udang vanamei di Kabupaten Buton Tengah maka penulis mengajak pemerintah untuk segera merencanakan langkah-langkah startegis untuk fokus pada budidaya udang vannamei dengan menyiapkan infrastruktur penunjang bagi kemudahan dalam akses budidaya sehingga Kabupaten Buton Tengah menjadi sentra udang terbesar di Sulawesi Tenggara.

Penulis adalah Dosen Universitas Sembilanbelas November Kolaka.