
BAUBAU, TRIBUNNUTON.COM – Ada 13 titik jalur perjalanan Pahlawan Nasional Oputa Yi Koo menuju Gunung Siontapina pada saat bergerilya melawan Belanda. Jejak gerilya ini dirumuskan Pemerintah Kota Baubau bersama sejumlah pakar.
Sekretaris Daerah (Sekda) Baubau, Dr Roni Muhtar, mengatakan deskrispi rangkaian gerilya Oputa Yi Koo dari Benteng Wolio ke Siontapina sementara dirumuskan. Sejumlah pakar yang dilibatkan dibuatkan SK mulai tim pemerintah, budayawan hingga akademisi.
“Alhamdulillah usaha keras teman-teman yang sudah mengumpulkan data baik dari ingatan kolektif masyarakat lalu dari dokumen tertulis yang lainnya akhirnya bisa disimpulkan secara bersama soal tempat-tempat yang pernah dilewati Sultan Himayatuddin sampai dengan Siontapina,” kata Dr Roni Muhtar, Rabu 13 Oktober 2021.
Jejak gerilya ini disusun dalam sebuah deskripsi yang akan ditawarkan ke Pemerintah Provinsi Sultra maupun komunitas sejarah. Selanjutnya tergantung pemerintah provinsi dalam hal pemanfaatan deskripsi tersebut.
“Namanya juga tawaran, terserah yang memanfaatkan apakah mau ditambah atau dikurangi. Rencana kami pak wali yang akan serahkan ke gubernur,” katanya.

Salah satu akademisi, Dr La Ode Abdul Munafi MSi, menambahkan rute gerilya yang dirumuskan ditambah dengan narasi dari berbagai sumber yang berasal dari sejumlah literarur maupun memori pengetahuan masyarakat.
“Itulah yang kita kolaborasi bersama tim sehingga untuk sementara kita menghasilkan rumusan ata deskripsi,” katanya.
Kata dia, terdapat 13 titik yang ditawarkan. Salah satunya gerilya dari benteng keraton.
“Di benteng keraton itu ada dua titik dari Lawana Lanto ke Lawana Kampebuni, kemudian ada juga titik di Sorawolio tepatnya di titik Wasinabui kemudian ke titik Lakasuba selanjutnya titik di wilayah Kabupaten Buton, ada beberapa titik. Jadi totalnya ada 13 titik, terakhir di Siontapina melalui rute Pasarwajo,” katanya.
Dr La Ode Abdul Munafi menilai giat seperti ini sangat bagus dalam rangka semangat nasionalisme. Darisini generasi saat ini bisa belajar bagaimana pejuang di masa lalu sangat luar biasa gigihnya didalam mempertahankan eksistensi kedalutan.
Apalagi, kata dia, diketahuo cucu dan putri Sultan Hiamayatuddin menjadi tawanan VOC untuk dijadikan alat untuk melunakkan hati sang sultan. Namun rupanya itu tidak ada artinya dibanding nilai harkat dan martabat.
“Jadi semua dipertaruhkan untuk kemormatan bangsa. Kita berharap momentum yang bagus ini dijadikan pembinaan karakter bagi generasi muda, terlebih ini bisa menjadi satu program rutin yang bukan lagi skala lokal dan provinsi. Kita harapkan karena ini pahlawan nasional maka harus menjadi kegiatan nasional di masa yang akan datang,” tandasnya. (adm)