HIMA BUTENG-BAUBAU ANGKAT SUARA KONFLIK PALESTINA-ISRAIL

521
Ketua umum Hima Buteng-Baubau, Azrun, FOTO:IST/TRIBUNBUTON.COM

BUTENG, TRIBUNBUTON.COM

Himpunan Mahasiswa Buton Tengah (Hima Buteng-Baubau) menyatakan sikap terkait konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel, Rabu 19 Mei 2021.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Hima Buteng-Baubau, Azrun. Ia menyampaikan bahwa negara palestina berhak hidup ditanah tumpah darahnya sendirinya. Hari ini bisa kita lihat bagaimana dengan penderitaan negara palestina terhadap kekejaman negara zionis israel yang membabi buta penduduk palestina.

“Seperti yang dikabarkan, konflik pemicu awalnya adalah pembubaran paksa warga muslim yang beribadah di mesjid Al Aqsa. hal seperti ini telah melukai perasaan kaum muslimin seluruh dunia,” urainya.

Lanjutnya menambahkan, ia mengecam tindak kekerasan terhadap warga sipil Palestina di wilayah masjid Al Aqsa yang menyebabkan ratusan korban luka-luka serta pengusiran paksa dan tindakan kekerasan tersebut bertentangan dengan berbagai resolusi DK PBB, hukum humaniter internasional. Khususnya Konvensi Jenewa IV tahun 1949, dan berpotensi menyebabkan ketegangan dan instabilitas di kawasan.

“Penjajahan praktek seperti ini semestinya sudah hilang dari era peradaban modern sekarang. Sampai saat ini setidaknya 67 orang telah tewas di Gaza sejak kekerasan meningkat pada hari Senin dan bisa dipastikan korban jiwa akan meningkat.Olehnya itu Hima-Buteng mendesak masyarakat internasional melakukan langkah nyata untuk menghentikan langkah pengusiran paksa warga Palestina dan penggunaan kekerasan terhadap warga sipil” jelasnya via rilis WhatsApp.

Kendati begitu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak memandang konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel dikaitkan dengan konflik antar agama Islam dan Kristen baik itu yahudi ataupun lainnya. Karena ini disebabkan konflik kerakusan kekuasaan oleh sekelompok manusia.

“Saya mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak memandang konflik Palestina dan Israel sebagai konflik antara agama,” tutupnya.(p5)