ANTI RASISME, ISLAM MENJUNJUNG TINGGI PERSAUDARAAN

93
Ketua DPRD Baubau H Zahari SE saat membawakan ceramah Ramadan 1442 H. FOTO:YUHANDRI HARDIMAN/TRIBUNBUTON.COM

Ceramah Ketua DPRD Baubau, H Zahari SE, di Masjid Agung Baubau

BAUBAU, TRIBUNBUTON.COM – Islam adalah agama yanag menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan universal dan anti rasisme. Hal ini diungkapkan Ketua DPRD Baubau, H Zahari SE (H Bobi) di hadapan jamaah isya dan tarwih di Masjid Agung Baubau, Sabtu malam 17 April 2021 di Masjid Agung Baubau.

Suasana jamaah tarwih Masjid Agung Baubau, Sabtu malam 17 April 2021. FOTO: YUHANDRI HARDIMAN/TRIBUNBUTON.COM

Ceramah mengangkat tema Islam dan Kebangsaan bertajuk “Bimbingan Islam dalam Kehidupan Berbangsa yang majemuk.” Kehidupan berbangsa termaktub dalam Al Quran, Surah Al Hujarat ayat 13.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Ini adalah salah satu ayat yang berisi tentang prinsip dasar hubungan manusia, sekaligus merupakan tradisi Islam mengenai persaudaraan universal dan anti rasisme. Pada asalnya, kedudukan manusia sama dan tidak boleh dibedakan atau diistimewakan karena alasan suku, ras atau bangsa semata.

“Islam sebagai agama tauhid, menjadi garda terdepan memenuhi kebutuhan sosial terhadap cita-cita dunia yang beradap berdasarkan kemanusiaan yang setara,” jelasnya.

Perbedaan dan keragaman manusia adalah sunnatullah. Allah menciptakan perbedaan agar manusia saling mengenal satu sama lainnya. Melalui surah Al Hujarat ayat 13 umat Islam diajarkan kesadaran untuk menerima keragaman dan mengelola potensi keragaman menjadi kekuatan.

Sejarah perjalanan Nabi Muhammad SAW memberikan inspirasi dan ibrah tentang bagaimana hidup dalam keberagaman terlebih pada periode Madinah. masyarakat Madinah merupakan masyarakat yang multikultural hidup dengan kemajemukan latar belakang budaya yang sangat berbeda, beda kebiasaan, beda agama, beda keyakinan dan beda pemahaman.

Artikel Menarik Lainnya :  HARI JADI BAUBAU KE-479, WALI KOTA INGATKAN SOLIDARITAS

Rasulullah SAW mempersatukan bangsa Arab yang dahulunya saling bermusuhan, menjadi satu di bawah panji Islam. Yakni mempersaudarakan kaum muhajirin dari suku Quraisy dan kabilah-kabilah arab lainnya dengan komunitas muslim Anshor penduduk Madinah.

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S. Ali Imran 103).

Rasulullah SAW tidak hanya mempersatukan internal umat Islam, tetapi jugaa menegakkan perjanjiaan antar umat yang berbeda agama. Yakni dengan suku Aus dan suku Kahzraj yang masih musyrik, serta dengan tiga suku besar Yahudi di Madinah yang dikenal dengan Piagam Madinah.

Dengan membangun ukhuwah Islayimay (persaudaraan Islam) dan ukhuwah wataniyah (persaudaraan sebagnsa), Rasulullah SAW menciptakan sebuah negara yang aman, tentran dan damai, yang masyarakatnya saling bekerjasama dalam membangun dan mempertahankan sebuah bangsa.

Artikel Menarik Lainnya :  PEMADAM KEBAKARAN BUTUH POS AIR

ا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (Q.S. Al Mumtahanah, Ayat 8).

Ayat ini menjadi dalil bolehnya hidup berdampingan secara damai dengan umat agama lain, dan melakukan hubungan muamalah dengan mereka. Adapun dalam hal akidah dan ibadah, relasi tersebut memiliki batasan tegas, sebagaimana ketentuan surah Al Kafirun Ayat 1 s/d 6. Dengan konsep lakum diinukum walyaddin, bagi mereka agama mereka dan bagi kita agama kita.

Sikap Raasulullah SAW dalam menghadapi keragaman suku dan agama di Madinah adalah dengan mengakui adanya perbedaan, saling menghargai, saling melindungi, dan sasling bekerja sama. Ikatan kebagnsaan dibangun atas kesadaran keimanan yang tinggi, kebergamaan dan toleransi sikap yang diterapkan.

“Piagam Madinah sebagai pakta integritas keragaman sosial harus menjadi ibrah dan inspirasi untuk membangun ikatan kebagnsaan yang didasari oleh keragaman dan toleransi. Realita sejarah yang sangat relevan untuk dipraktekan pada kondisi ke-Indonesia-an saat ini,” jelasnya.

Sejarah mencatat peran keimanan terhadap tumbuhnya sikap cinta tanah air di Indonesia pada masa penjajahan. Dengan penghayatan dan pemikiran mendalam, para pendiri negara menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada sila pertama. “Bahwa hanya dengan hadirnya spritualitas dengan Iman kepada Allah yang maha kuasa, para pejuang rela mengorbankan hidup dan jiwanya untuk bangsa dan negara,” urainya. (yhd)

Komentar Anda