LELAKI WAKATOBI MENAKHODAI BALAI BAHASA JAWA TIMUR

815
Dr. Asrif, M.Hum menerima mandat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Acara serah terima jabatan dipimpin Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. E. Aminuddin Azis pada 26 Agustus 2020, bertempat di Hotel Atlet Century Park, Senayan Jakarta. FOTO: IST/TRIBUNBUTON.COM

“Asrif merupakan satu contoh lelaki yang lahir dari pulau-pulau pelosok yang jauh dari kota, tetapi sukses menata pendidikan.”

Dr. Asrif, M.Hum menerima mandat sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Acara serah terima jabatan dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Prof. E. Aminuddin Azis pada 26 Agustus 2020, bertempat di Hotel Atlet Century Park, Senayan Jakarta.

Sebelumnya, pada 13 Agustus 2020, ia yang sedang bertugas ke Pulau Banda Naira, mengikuti pelantikan secara virtual. Doktor Ilmu Susastra dari Universitas Indonesia itu memulai karier dari Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2006.

Pada awal tahun 2016, ia dipercaya memimpin Kantor Bahasa Provinsi Maluku. Kini lelaki kelahiran Pulau Tomia (Wakatobi) itu kembali dipercaya mengemban tugas sebagai Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Lelaki yang lahir pada tahun 1977 merupakan putra pertama H. Moh Salihi dan Hj. Wa Ode Abda. Pendidikan TK hingga SMA ditempuhnya di pulau kelahirannya, Tomia. Ia melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Haluoleo (Kendari). Pendidikan Magister diraih di Universitas Hasanuddin (Makassar), sedangkan gelar doktor Ilmu Kajian Tradisi Lisan diraih dari Universitas Indonesia (Depok) pada tahun 2015.

Artikel Menarik Lainnya :  Bupati Wakatobi Dapat Anugerah API Dari IGI Indonesia

Suami dari Putri Satria, S.Farm. Apt itu telah memiliki dua putra yakni Muh. Ilham Arif La Madira dan Dwiarya Putra La Madira. Di mata rekan-rekannya, ia selalu tampil sederhana dan humanis.

Selama bekerja di Maluku, ia memiliki komitmen yang tinggi terhadap penguatan literasi masyarakat, pengutamaan bahasa negara, dan pelindungan bahasa dan sastra daerah.

“Saya menerima penugasan dari pimpinan tertinggi saya dan akan menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Makanan kesukaannya ialah suami (kasoami) makanan khas orang Buton berbahan singkong (ubi kayu). Sedangkan ikan, ia menyukai masakan parende, ikan direbus dengan bumbu seadanya.

Asrif merupakan satu contoh lelaki yang lahir dari pulau-pulau pelosok yang jauh dari kota, tetapi sukses menata pendidikan. Tahun 2002, ia memutuskan untuk S2 dengan modal nekat. Di tahun itu, yang menempuh jalur S2 masih terbatas. Ia yang belum bekerja, belum memiliki pengalaman akademik, justru nekat ke Makassar untuk melanjutkan studi.

Di Makassar, ia mencari tempat tinggal dekat kampus, yakni di asrama mahasiswa Unhas. Di tempat itu, selain makanan yang sangat murah, juga tidak membayar sewa asrama, ke kampus pun jalan kaki.

Artikel Menarik Lainnya :  Pertegas Surat Edaran Mendagri Penanganan Covid-19, Bupati Wakatobi Pimpin Rapat Forkopinda

Suka-duka pendidikan terutama dirasakan saat S2 itu. Dengan biaya seadanya dari orang tuanya yang bekerja sebagai guru SD, ia tetap optimis menyelesaikan studi. Untuk itu, ia harus pandai-pandai mengelola biaya studi agar tidak terlalu membebani orang tua.

Mengenang pendidikan S2, ia kembali teringat pada pesan orang bijak. “Jika ada kemauan, di situ ada jalan.” Ia meyakini hal itu. Semua tantangan pendidikan, ia hadapi dengan bijak. Ia tidak mengeluh, ia tidak menyalahkan orang lain. Mengapa? Karena ia sendiri yang menghendaki studi itu. Dengan prinsip itu, ia menjadi kuat, tabah menjalani semua tantangan.

Asrif memegang prinsip “melayani dan belajar”. Melayani siapa saja. Ia menyebut dirinya sebagai “babu” yang terus belajar.
Ia berteman dengan siapa saja. Mulai dari anak jalanan hingga pejabat. Ia tidak memilih siapa yang harus menjadi mitra kerja atau sahabatnya. Dari peleburan itu, ia belajar, ia memahami, ia memutuskan apa yang akan dilakukannya.

“Dari perjumpaan dengan banyak kalangan itu, kita akan memahami apa yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Pada akhirnya, kita akan tahu tindakan apa yang perlu dilakukan,” ucap Asrif. (Adm)

Komentar Anda