DINAS PARIWISATA BUTUR AKAN KEMBANGKAN WISATA MANGROVE

373
Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Buton Utara, Harlin/tribunbuton.com

BUTUR, TRIBUNBUTON.COM (Asm)

Dinas Pariwisata Kabupaten Buton Utara akan mengembangkan wisata alam mangrove/bakau. Sarana dan prasarana pengembangan ekowisata hutan bakau akan dikembangkan tahun depan dan menjadi salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Butur, Harlin, mengatakan hutan mangrove Butur, terluas di Prov Sultra sekitar 16.000 hektar (Ha). Kedepan pengembangan wisata alam hutan mangrove menjadi prioritas utama pelestariannya. Obyek wisata ini merupakan hal unik karena di dalamnya hidup berbagai macam habitat laut menambah daya tarik pengunjung baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Selain itu Hutan Bakau Butur menjadi andalan Prov Sultra, sebab hanya daerah ini yang punya mangrove terluas dan belum rusak kelestariannya,” kata dia saat ditemui di ruang kerjanya, Senin 27 Juli 2020.

Menurutnya penataan kawasan destinasi wisata saat ini, baik wisata alam, wisata pantai, wisata buatan, wisata bahari, wisata budaya maupun wisata kuliner. Terdapat diberbagai daerah pedesaan namun terkendala pada minimnya anggaran pengembangan destinasi wisata dan biaya operasional petugas jaga kebersihan di spot spot objek wisata.

Artikel Menarik Lainnya :  BUPATI BUTUR LEPAS SECARA RESMI PESERTA FKMA

“Kita terkendala pada kecilnya anggaran sehingga beberapa tempat wisata seperti mata rumbia, Air Terjun Lamoahi, Permandian Air Panas Karede Permandian Air Terjun Doulo, Wisata Danau Moluku dan Teluk Kolo Olaro yang dikelilingi bakau serta spot wisata lainnya belum bisa dipelihara dengan baik,” ujarnya.

Potensi wisata di Tanah Liputinadeakono Sara ini sangat banyak namun penataan pelestariam kawasan wisata belum dapat teratasi. Akibatnya keindahan tidak terpelihara membuat kenyamanan para pengunjung menjadi tertanggu.

“Jika spot wisata dipelihara dengan baik di Butur ini unik hampir semua jenis destinasi wisata ada baik di darat dan di laut. Namun lagi lagi terkendala dengan kurangnya biaya,” paparnya.

Dirinya mengatakan data pengunjung objek wisata di Butur bukan hanya dari pengunjung lokal. Tetapi dari turis mancanegara setiap bulannya silih berganti menikmati keindahan dan kearifan lokal budaya masyarakat setempat.

“Data wisata lokal untuk perminggunya ada laporannya. Namun dimasa pandemi global covid-19 berkurang. Kalau dari wisata domestik Wallacea setiap mingunya aplos masuk antara 90 sampai 90 orang. Untuk pengunjung lokal sekitar 200 orang” ungkapnya.

Artikel Menarik Lainnya :  120 PERENCANA IKUT BIMTEK INTEGRITAS DI BUTUR

Olehnya itu kedepan peningkatan Wisata Mangrove akan digenjot sesuai dalam Rancangan Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPDA). Karena wisata ini akan majadi daya tarik yang sangat unik sebab dijazirah Sultra yang terluas dan masih lestari alam bakau hanya tersapat di Butur.

“Kami sudah bekerja sama dengan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (KPLH). Yang mana pembangunan sarana dan prasarana fasilitas wisata mangrove akan dibangun tahun depan,” ujarnya.

Dilihat dari sisi ekonomi, pengembangan wisata mangrove disekitar Taman Mina minanga, Desa dan Sekitarnya. Dengan tujuan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Butur. Salah satu faktor penunjang untuk menarik minat turis mancanegara dan regional adalah pembangunan infrastruktur berupa bandara udara dan promosi yang kuat,” katanya.

“Pemda melalui Dinas Pariwisata akan membangun Wisata Mangrove untuk peningkatan PAD. Semoga ini dapat berhasil karena daerah kita masih minim PADnya,” harapnya.(#)

Komentar Anda