MASA DEPAN BAHASA TOMIA

1639

Oleh: Marwan Upi *)

PENULIS melakukan “risert” kecil-kecilan dengan mengajak berkomunikasi menggunakan bahasa Tomia pada belasan anak-anak SD dan SMP di Tomia. Dari hasil percakapan tersebut, hampir semua kaku menggunakan bahasa Tomia.

Saat ditanya menggunakan bahasa Tomia, maka mereka umumnya menjawab dengan bahasa Indonesia. Atau menggunakan bahasa Tomia tapi dicampur dengan bahasa Indonesia. Bahkan hal yang miris adalah menghitung angka satu sampai sepuluh dengan bahasa Tomia pun kadang sulit dilakukan bahkan ada yang tidak tahu.

Meskipun hanya mengambil sampel secara acak, tapi setidaknya fakta ini adalah sepotong gambaran yang tengah terjadi di Tomia. Sebenarnya, ini bukanlah hal yang mengagetkan karena jika kita berada di Tomia, maka hal ini akan mudah ditemukan.

Realitas ini dipertegas oleh hasil jajak pendapat Litbang Harian Kompas yang dimuat dalam artikel “Ayo, Gunakan Bahasa Daerah!” (21/02/2020). Meskipun jajak pendapat ini dilakukan secara nasional, namun hal ini memberikan gambaran secara umum tentang nasib bahasa daerah di seluruh Indonesia, termasuk Tomia. Data mengungkapkan hanya 7,5 persen generasi usia di bawah 30 tahun yang menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari.

Faktor Penyebab

Salah satu penyebabnya adalah peran orangtua di rumah dan masyarakat. Para orangtua di Tomia lebih suka mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya. Dalam pergaulan keseharian di masyarakat juga demikian.

Ini tidak lepas dari pandangan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa modern. Kita akan terlihat keren dan tidak kampungan jika menggunakan bahasa Indonesia sedangkan bahasa Tomia terkesan bahasa orang “kampung”. Paradigma ini secara tidak sadar telah terpelihara dalam cara berpikir masyarakat Tomia secara umum.

Perantau terutama mahasiswa yang belajar di kota, saat kelompok masyarakat ini pulang kampung, tidak jarang mereka telah menggunakan bahasa Indonesia dalam kesehariannya. Kalaupun berbahasa Tomia, mereka jarang menggunakan bahasa Tomia asli melainkan telah tercampur dengan bahasa Indonesia. Pengaruh mereka cukup kuat karena presentase jumlah yang cukup besar.

Bahkan banyak nama-nama kearifan lokal di Tomia diganti dengan istilah-istilah asing (bahasa Indonesia) yang dapat menghilangkan nilai sejarah di balik nama itu, misalnya “Pantai Hondue” diganti dengan “Pantai Cinta” atau “Laroka” di Desa Waiti’i diganting dengan “Tebing Jodoh”.

Artikel Menarik Lainnya :  CALON BUPATI PETAHANA BERPELUANG BESAR MEMENANGKAN PILBUP WAKATOBI 2020

Meskipun ada sebab-sebab lain misalnya adanya perkawinan antaretnis dan penuturnya sudah berkurang tapi dua faktor yang disebutkan di atas merupakan sebab yang paling relevan kenapa bahasa Tomia tergerus secara perlahan bahkan kini tanpa sadar telah berjalan menuju kepunahan.

Suliltnya Belajar Bahasa Tomia

Sejauh ini, belajar bahasa Tomia yang paling efektif hanyalah dalam proses penuturan sehari-hari ketika berada di Tomia. Sedangkan belajar bahasa Indonesia sangat mudah ditemukan. Di sekolah dari PAUD sampai Perguruan Tinggi selalu menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar.

Belum lagi jika orang-orang Tomia sudah merantau ke kota, mau tidak mau mereka harus menggunakan bahasa Indonesia. Media massa dalam keseharian juga sangat berperan mendidik kita dengan bahasa Indonesia.

Dengan kata lain, untuk memiliki kemampuan dalam berbahasa Indonesia sangatlah mudah. Tapi bagi bahasa Tomia, sekali lagi, proses komunikasi keseharian di Tomia adalah cara belajar efektif.
Bayangkan saja, jika semua anak-anak sudah diajari berbahasa Indonesia, ketika mereka bepergian ke kota untuk melanjutkan kuliah misalnya, maka bahasa Tomia akan semakin mereka tinggalkan.

Lantas jika situasinya sudah sedemikian, dimana lagi anak-anak Tomia akan belajar bahasa Tomia? Ini yang harus segerah diantisipasi. Penutur asli bahasa Tomia, dalam perkiraaan penulis, rata-rata telah berumur 50 tahun ke atas. Jika orang-orang Tomia ini sudah tiada dan jika tidak ada tindakan antisipasi serta aksi yang nyata untuk melestarikan bahasa Tomia, maka kita harus jujur bahwa bahasa ini (baca: bahasa Tomia) akan musnah pada saatnya nanti.

Jalan Keluar

Tentunya untuk mencegah warisan penting budaya Tomia ini hilang, kita harus melakukan tindakan bahkan terobosan besar. Penulis dan teman-teman di komunitas sosial “Taman Baca Antopulu” (TBA) Tomia mendorong dan melakukan beberapa hal.

Pertama, paradigma dan kesadaran. Kita harus mengampanyekan pentingnya berbahasa Tomia agar orang-orang menggunakan bahasa Tomia dalam keseharian terutama dalam lingkungan keluarga. Tidak perlu minder dan merasa kampungan menggunakan bahasa Tomia.

Artikel Menarik Lainnya :  KETIDAK PERCAYAAN KEPADA DPR MENJANGKIT KE POLRI

Misalnya, dengan mengampanyekan #Jaga’eTangaTomia (selamatkan bahasa Tomia), #KuEjjePakeTeTangaTomia (saya bangga berbahasa Tomia) atau #MaiToPakeTeTangaTomia (Ayo kita gunakan bahasa Tomia). Jika kampanye ini terus digemakan maka yakin dan percaya, bahasa Tomia akan dihargai sebagai bahasa yang bermartabat oleh penuturnya. Karena tidak ada yang akan menghargai bahasa Tomia selain masyarakat Tomia sendiri.

Kedua, pembuatan kamus bahasa Tomia. Ini adalah upaya untuk mengabadikan bahasa Tomia yang kian dicampakan oleh penuturnya. Dengan dokumentasi seperti ini, kita bisa merekam kosa kata-kosa kata yang pernah ada di Tomia.

Ketiga, menggunakan bahasa daerah dari hal-hal yang kecil. Contoh kecilnya, membuat grup WhatsApp dengan aturan berbahasa Tomia dalam komunikasi. Atau penulis mengusulkan juga membuat program “Moina Tanga Tomia” (Hari berbahasa Tomia). Implemetasinya, ada satu hari dimana semua komunitas atau grup-grup media sosial menggunakan bahasa Tomia dalam komunikasinya.

Keempat, perlombakan bahasa Tomia dalam acara-acara tertentu, misalnya dalam Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari dan acara 17 Agustusan. Selenggarakan lomba pidato, bercerita, dan menulis berbahasa Tomia, termasuk menuliskan kembali cerita-cerita rakyat dalam bahasa Tomia. Dengan ini, bahasa Tomia akan semakin populer dan ada rasa kebanggaan menggunakannya.

Kelima, regulasi juga penting. Perlunya ada aturan bersifat otonomi, sebut saja peraturan daerah (perda) atau surat edaran dari pihak eksekutif daerah agar menetapkan satu hari bagi sekolah-sekolah di lingkup Tomia untuk menggunakan bahasa Tomia (termasuk bahasa Wakatobi lain di masing-masing Pulau) sebagai bahasa yang digunakan dalam kelas.

Selain itu, di era desentralisasi sekarang, sangat penting bagi sekolah untuk menjadikan pelajaran “Bahasa Tomia dan Kearifan Lokal Tomia” sebagai mata pelajaran Muatan Lokal. Bila perlu pemerintah daerah mengadakan pembuatan buku ajar dan bacaan yang berbahasa Tomia.

Tentunya untuk mewujudkan itu butuh kerja kolektif. Masalah terkikisnya penggunaan bahasa Tomia adalah masalah kita bersama. Semua elemen masyarakat Tomia harus bahu bahu-membahu dalam semangat “Poasa Asa Pohamba Hamba”.

*) Penulis adalah Presiden Taman Baca Antopulu (TBA) Tomia.

 

Nonton juga:

 

Komentar Anda