WA ABU, BERTAHAN WALAU OMSET MENURUN

677
Wa Abu sedang menunggu pembeli aneka kuliner yang dijajakannya. Foto: Hasirun Ady/trbunbuton.com

DALAM upaya memutus rantai penyebaran Covid-19, pemerintah mengimbau masyarakat untuk di rumah saja-stay at home. Masyarakat diminta untuk membatasi diri keluar rumah, kecuali ada keperluan yang teramat penting. Bekerja dari rumah. Seandainya beraktivitas di luar rumahpun diwajibkan menggunakan masker!

Hasirun Ady, Baubau

BAGI Wa Abu, imbauan untuk bekerja di rumah, betapa sulit dilakukannya. Bahkan tidak mungkin dikerjakannya. Karena pelanggannya ada diseputaran pasar Wameo Kota Baubau. Sebuah pasar tradisional yang “melegenda” di seantero Kepulauan Buton. Memasarkan melalui layanan On Line? Ia tak menguasai teknologinya.

Dibantu anak-anaknya, wanita tangguh, ini menggelar dagangannya di pintu masuk penjualan ikan Pasar Wameo. Setiap pagi membonceng pada motor putrinya. Kadang juga membonceng pada motor putranya. Sekitar pukul 07.00 Wita, meninggalkan rumahnya di Jl. Latsitarda Gang Poromu, Kelurahan Tanganapada, Kecamatan Murhum, Kota Baubau. Ketika balik ke rumah sekitar pukul 16.00 Wita, ia diantar tukang ojek langganannya. Kadang juga dijemput putra sulungnya.

Jika jualannya tidak laku habis di Pasar Wameo, sisanya di jual kembali di Pasar Pujaserata, di sisi barat Stadion Betoambari.
Pasar Pusat Jajanan Serna Tradisional (Pujaserata), pasar yang menggelar aneka kuliner. Ramai pengunjung. Didirikan utuk menampung para pedagang eksodus peristiwa Ambon 1999. Dibangun ketika MZ. Amirul Tamim menjabat Walikota Baubau.
Tertata baik, bersih, nyaman dan aman. Kini, pasar Ambon menjadi destinasi wisata kuliner di kota yang makin molek ini.

Memulai jualan kuliner ketika suami, meninggalkannya untuk selamanya belasan tahun silam. Sejak itu, ia sendiri membesarkan keempat putra dan putrinya.
Dengan keuntungan dari aneka jualannya, Wa Abu, menopang biaya hidup. Dan mendukung biaya sekolah anak anaknya.

Meski tak sempat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Namun kedua putranya sudah menikah dan hidup mandiri. Sementara dua anak perempuannya, duduk di bangku SLTP dan SD. Menjadi single parent, ia mengerahkan tenaga dan pikirnnya, mengantarkan kedua putrinya menamatkan pelajaran, minimal meraih ijazah sekolah lanjutan atas.

Turun Dua Kali Lipat

Meski omzetnya turun drastis, namun usahanya yang tergolong usaha primer, masih tetap bertahan. Agak beda dengan usaha yang tergolong sekunder yang di masa pandemi covod-19, benar benar “mati”
Misalnya fotografer. Larangan untuk berkumpul menjadi pukulan berat bagi mereka yang menggeluti jasa fotografer.

Bagaimana dengan Wa Abu, penjaja aneka kuliner? Tetap bertahan, meski hasilnya jauh menurun bila dibandingkan dengan sebelum pandemi Corona19. Sejauh, ini ia menjajakan beberapa item antara lain : lepat ( lapa-lapa-lokal Wolio Buton), Burasa, Lemang dan Kasoami.

Adanya himbauan pemerintah untuk di rumah saja selama pandemi Covid19, ikut berpengaruh terhadap tingkat penjualan para pedagang, termasuk. Wa Abu. Ditemui di lokasi penjualannya, di Pasar Wameo, Selasa pagi (5/5), kepda penulis, Wa Abu, menerangkan mozetnya mengalami penurunan. Ia memberi contoh, jika sebelum pandemi Covid, sehari dapat menjual Burasa sebanyak 200 buah.

Bagaimana sekarang? Sehari tidak mencapai laku 100 buah Buarasa. Nampaknya semua item jualannya mengalami hal yang sama. Seperti Lepat, Lemang dan Kasomai. “Turun dua kali lipat,” Wa Abu mengunci percakapan (*)