TEMBA’A NU KOMBA, “MENEMBAK BULAN”

1538
Kande'a, berisi aneka kuliner. FOTO:HASIRUN ADY/TRIBUNBUTON.COM

DALAM tradisi keagamaan masyarakat Buton, ragam Tomia, pada Bulan Ramadhan dikenal tiga bagian tradisi Kande’a yaitu (1) Temba’a nu Komba (2) Te Kunu dan (3) Te Kaajiri. Te Kunu diadakan pada 16 Ramadan menyongsong Nuzulul Qur’an dan Te Kaajiri dilaksanakan pada 27 Ramadhan, berkaitan dengan malam Laitul Qadar.

HASIRUN ADY, BAUBAU

TULISAN singkat ini hanya menceritakan tentang tradisi Temba’a Nu Komba. Tradisi keagamaan yang sangat berkesan. Mengandung nilai dan kearifan. Setidak-tidaknya bagi yang pernah mengalaminya.

Temba’a nu Komba dapat diartikan “menembak ke arah bulan.” Menandai awal puasa di bulan Ramadhan. Anak-anak membuat meriam bambu. Moncongnya diarahkan ke barat. Begitu hilal nampak, maka dentuman meriam bambu bersahutan dari berbagai sudut kampung. Anak-anak riang gembira menyambut Bulan Puasa.

Mereka berhenti membunyikan meriam bambu. Tanpa dikomando. Karena usai “menembak bulan” acara Kande’a( Haroa, Bahasa Wolio), usai shalat magrib akan diselenggarakan. Mereka merasa khawatir kehilangan moment jika tidak mengikuti. Bagi para orang tua tradisi ini adalah media menanamkan nilai nilai dan kearifan dalam menjalani kehidupan.

Sementara para orang tua sibuk menyiapkan kuliner – “hanjuri” untuk isi “Kande’a”. Menu tradisional seperti ayam panggang dimasak santan, nasi ketan, pisang goreng, ubi jalar goreng, rebus telur ayam kampung, bolu yang diadon dgn gula merah lokal, Karasi dan Cucuru. Kuliner dan penganan tersebut menghiasi Kande’a.

Ruang depan rumah di tata. Kande’a diletakan di tengah. Anak, ponakan dan kedua orang tua duduk tertib dan teratur. Menunggu Tetua Adat yang akan membacakan do’a. Biasanya usai salat magrib, pembaca doa keliling dari rumah ke rumah.

Kadang Kande’a dipusatkan di sebuah rumah. Untuk bisa melayani-menjangku hajat masyarakat. Usai doa, diboyong ke rumah masing masing – disantap bersama keluarga.

Pembaca doa selain mendapat pasali, juga dititipi telur rebus. Telur rebus, biasanya dibagikan kepada anak dan cucu. Bagi pembaca doa yang punya anak dan cucu banyak, maka telur biasa di bagi empat. Dibelah menggunakan pisau tajam supaya bagian bagiannya sama dan adil.

Dari tradisi keagamaan yang dikemukakan, paling tidak dapat menyimak kearifan : membiasakan diri, menumbuhkan inisiatif dan kreatifitas. Mengambil material bambu dari tempat jauh. Membuat sendiri meriam bambu. Menumbuhkan sikap tertib, teratur, patuh dan disiplin. Dalam keadaan rapi, duduk tenang sambil menunggu pembaca do’a.

Pembaca doa mengajarkan kepada anak dan cucu tentang kasih sayang, toleransi dan keadilan. Sebutir telur rebus, dibagi sama rata. Diberikan kepada anak dan cucu. Tidak ada perbedaan antara anak kandung dan cucu.

Sejauh diamati tradisi Temba’a nu Komba, “menembak bulan” menggunakan meriam bambu nyaris tidak ada lagi. Sudah digantikan dengan membunyikan mercon.
Membunyikan mercon kerap membawa petaka. Misalnya korban jiwa, cacad badan dan kebakaran rumah. Dan kadang sulit dikendalikan aparat berwewenang.

Barangkali tradisi Temba’a nu Komba, ini bisa dikemas menjadi daya tarik wisata. Misalnya menyelenggarakan Festival Temba’a nu Komba, “menembak bulan” menggunakan meriam bambu. Kriteria penilaian utama adalah keindahan gema dentuman meriam bambu dan kriteria lainnya. (*)

—————————————————————

Catatan :

“Kande’a adalah Talang yang berisi aneka
kuliner. Kande’a dan keseluruhan isinya dinamakan Hanjuri” (Ibrahim Isdane, Pemerhati Budaya lokal Tomia ). Komunikasi dengan penulis melalui layanan Mesenjer ( 25/4 )