PAPALELE

419
Seorang pelanggan (kanan) membantu mengangkat wadah kejunjungan papalele (kiri). Pelanggan "wajib" membantu spontan: FOTO:HASIRUN ADY/TRIBUNBUTON.COM

DALAM tradisi masyarakat Buton dikenal cara dagang yang umumnya dilakukan kaum perempuan: “PAPALELE”. Setidaknya ada tiga jenis barang yang didagangkan dengan cara ini yaitu : ikan, sayur dan logam mulia. Jenis terakhir, sudah nyaris tidak ada lagi yang menjalankannya. Sedangkan Papalele ikan dan sayur-mayur masih eksis sampai sekarang.

 

Hasirun Ady, Baubau

PAPALELE, yang menjajakan jenis ikan dan sayur mayur, membayar langsung harganya kepada pemilik. Sementara Papalele untuk logam mulia, pemiliknya menetapkan harga dan menjanjikan tips. Seorang Papalele bisa menawarkan di atas harga yang ditentukan pemilik. Tatkala laku, Papalele, selain dapat untung, juga memperoleh tips. Jika tidak laku terjual, barang dikembalikan kepada pemiliknya. Tidak membawa konsekuensi terhadap Papalele.

Papalele ikan dan sayuran, selain butuh modal usaha juga diperlukan fisik yang kuat dan prima. Menjajakan dagangan dengan cara junjung. Berjalan kaki. Mengelilingi kampung. Mengunjungi pelanggannya. Meski junjungan berat, namun tidak menyulitkan ketika menurunkan dan menaikannya. Karena setiap pembeli “wajib” membantunya – spontan.

Sejauh yang diamati, profesi ini umumnya dilakonkan oleh seorang ibu dengan alasan peran suami sebagai pencari nafkah lagi merantau, tidak sehat, atau memang telah bercerai. Untuk menyambung kehidupannya menjalankan kegiatan jual keliling : Papalele.
Saat ini sudah ada yang menjalankannya dengan menggunakan kenderaan bermotor roda dua, ada pula yang menggunakan gerobak dorong. Penjual keliling sandang dan perlengakapan dapur menggunakan mobil-dilakukan pria.

Artikel Menarik Lainnya :  KASUS SADLI, KESAKSIAN AHLI DEWAN PERS DAN PWI (Bagian 3)

Di Kota Baubau, khususnya di seputaran Kelurahan Tanganapada, para papalele, menjajagakan dagangannya mulai pukul 08.00-10.00 Wita. Mereka silih berganti antara penjual ikan dan penjual aneka sayur.
Dari pengamatan, mereka ibu ibu paruh baya.
Berjalan kaki, berkeliling hingga melintas batas kelurahan. Bisa diterka, lintasan mereka cukup panjang tatkala mengamati keringat bercucuran di wajah.

Sejauh yang diamati, papalele, ini telah berlangsung lama, puluhan tahun. Setidak tidaknya, ingatan penulis sejak menetap di Tanganapada mulai Juni 1986. Bagaimana penghasilan mereka berkaitan dengan peningkatan kesejahteraannya? Menarik ditelusuri!

Untung Lima Ribu

Baik Papalele ikan maupun sayur mayur, senantiasa menyiapkan beberapa jenis dagangan. Setiap item mempunyai harga berbeda. Tetapi untuk penjual sayur umumnya harganya sama. Telah dikemas dalam sebuah kantung plastik. Namun penjual ikan, ditawarkan dalam bilangan ekor, dengan harga sama. Jika beruntung dan penjualnya baik hati, pembeli biasa mendapat tambahan 1 ekor.

Artikel Menarik Lainnya :  PENDERITA TUMOR DI KALIBU HIDUP DARI JATAH MAKAN PARA TETANGGA

Penjaja ikan, langganan penulis yang enggan disebut namanya, menerangkan, ia membeli ikan di pasar, misalnya 10 ekor harga Rp. 20.000,- Kemudian menjualnya kepelanggan dengan harga Rp. 25.000,- “Jadi saya untung lima ribu, “tuturnya sambil mengangkat wadah ikan kejunjungan-atas kepala.

Trik trik Papalele tentu mustahil diungkapkanya. Karena menyangkut rahasia.
Penghasilan mereka tidak terlalu banyak. Diamati, khusus Papalele ikan, paling banyak membawa 3 jenis ikan. Dengan demikian, bisa diperkirakan berapa keuntungan yang diperoleh setiap hari.

Ditengah pandemi Covid-19, dimana pemerintah menghimbau untuk “di rumah saja” – jasa mereka-Papalele diperlukan. Pelanggan menunggu di teras rumah-melakukan transaksi, beli ikan maupun sayur mayur. Meski demikian, para pelanggan tetap bijak. Menggunakan masker ketika interaksi dan bertransaksi.(*)

Komentar Anda