JEJAK PERAHU LAYAR WAKATOBI DULU DAN KINI

3006
Kapal Layar Motor asal Tomia di Pelabuhan Probolinggo. FOTO: RIAL HADI/TRIBUNBUTON.COM

PROBOLINGGO, TRIBUNBUTON.COM, Rial

Perahu layar dari Wakatobi (Buton tempo dulu) masih sering dijumpai di sejumlah pelabuhan di Pulau Jawa hingga akhir tahun 2000. Misalnya di Banyuwangi, Gresik, Semarang, hingga Jakarta.

Jenis perahu layar bermesin. FOTO:IST/TRIBUNBUTON.COM

Kini tinggal beberapa saja berlabuh di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo, Jawa Timur. Ada sekitar tujuh perahu (baca: wangka dalam bahasa Wakatobi) sementara berlabuh, Rabu 15 April 2020.

Salah satunya perahu KLM Babus Salam milik juragan asal Tomia,
La Sanaedi. Lelaki paruh baya asal Tomia merupakan ABK paling senior. Ia menceritakan aktivitas pelayaran dan perdagangan warga Tomia Kabupaten Wakatobi di Pulau Jawa.

“Di Probolinggo dulu ada sampai ratusan perahu berlabuh, dulu sekitar tahun 80 an pernah terjadi kebakaran puluhan perahu, penyebabnya api merambat dari satu perahu karena begitu banyaknya perahu hingga antara perahu saling menempel,” jelasnya ketika TRIBUN BUTON (tribunbuton.com) bertandang.

Di masa lalu, orang Wakatobi dikenal sebagai pelaut ulung mampu melintasi berbagai lautan hingga samudra Pasifik dan samudra Hindia. Pelaut Wakatobi di masalalu sangat berperan penting sebagai penyambung perekonomian antara wilyah timur dan barat Nusantara.

Wilayah timur Maluku dan Papua memiliki hasil alam yang berlimpah, sedangkan Pulau Jawa berada di wilayah barat sebagai daerah industri. Secara geografis wilayah Wakatobi berada di tengah jalur lintas dari barat ke timur.

“Karena sebelum mencapai tujuan ada waktu untuk singgah dikampung halaman untuk melihat sanak keluarga,” kemudian melanjutkan pelayaran ke Papua atau sebaliknya ke Jawa.

La Sanaedi menjelaskan, kini perahu asal Wakatobi yang berlayar ke Jawa dan Papua tidak sebanyak dulu. Hal ini dibenarkan salah satu ABK lainnya, La Gafaruddin.

“Dulu kalau kita berlabuh di sini suasananya seperti di kampung sendiri,” ungkapnya.

Dulu perahu layar dari Wakatobi/Buton biasanya milik pribadi dan memuat barang milik toko sendiri. Kini perahu yang ada hanya memuat barang pesanan orang (paraki: dalam bahasa Wakatobi) sudah memakai perahu besar model phinisi dengan muatan lebih banyak.

Menurut dia, banyakak faktor yang menyebabkan menurunnya jumlah perahu. Salah satunya susah mencari awak dan mudahnya moda transportasi saat ini.

“Banyak perahu parkir sampai rusak karena tidak ada yang mengoperasikan. Melepas kapal butuh orang yang dipercayai salah satunya awak sekampung,” jelasnya.

Pelaut Wakatobi masih bisa bertahan sampai saat ini karena bisa beradaptasi terhadap perubahan dari layar ke mesin. Selain itu, generasi penerus lebih memilih menempuh jalur pendidikan, misalnya pelayaran dan sekolah formal lainnya.(#)