SHALAT BERJAMAAH VS CORONA, KEPALA KEMENAG BAUBAU MENJELASKAN

495
H Rahman Ngkaali

BAUBAU, TRIBUNBUTON.COM, Yhd

Corona Virus Disease (Covid-19) telah mewabah dan sudah banyak korban di mana-mana. Lalu bagaimana kedudukan shalat berjamaah dalam Islam di tengah wabah Covid-19 yang mengancam kehidupan umat manusia?

Kepala Kantor Kemenag Baubau, H Rahman Ngkaali, menjelaskan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait situasi yang wabahnya sudah luar biasa seperti di China yang sudah darurat karena banyak meninggal. Fatwanya tidak boleh shalat berjamaah di masjid dan jadi haram.

“Dalam situasi wabah Covid-19, Masjidil Haram ditutup untuk shalat Jumat dan umroh. Karena di sana tempat pertemuan umat Islam dari penjuru dunia yang dikhawatirkan akan saling menularkan penyakit mematikan ini,” katanya, ditemui di kantornya, Selasa 24 Februari 2020.

Rahman Ngkaali mengatakan hukum shalat berjamaah itu sunah dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW bagi orang-orang dewasa laki-laki harus berjamaah di masjid. Hanya ada dua alasan tidak menghadiri shalat berjamaah, jika sakit atau hujan.

“Kenapa? Karena jangan sampai sakit kita bisa menular ke orang lain. Kalau hujan, sekarang sudah ada mobil dan payung karena jika hujan tidak mungkin orang nyaman shalat dalam keadaan basah,” ujar pria asal Lakudo ini.

Artikel Menarik Lainnya :  Kepala Kemenag Baubau Terima Kunjungan Mahasiswa Politik UM Buton

Kematian sudah ditentukan oleh Allah SWT dan sudah menjadi takdir manusia. Ada tiga aliran dalam Islam soal pemahaman tentang takdir, yakni qodariyah, jabariyah, dan Ahlusunnah.

Qodariyah berpendapat bahwa semua taqdir yang berlaku adalah karena ada sebab dan akibat, dalam artian kehendak/usaha manusia mampu membuat perubahan pada taqdir. Jabariyah mengatakan bahwa semua yang terjadi merupakan kehendak dari Tuhan, manusia sifatnya “dipaksa” untuk mengikuti jalan taqdir, manusia tak punya pilihan atau kehendak. Sedangkan ahlu sunnah adalah “perpaduan” dari dua paham tersebut.

“Mungkin arah takdir kita adalah takdir buruk atau takdir baik, nda bisa begitu,” ujarnya.

Lantas ada yang tingkatannya lebih tinggi, jika itu dari Allah maka boleh jadi dengan ketaatannya dia bisa selamat dari virus itu. Karena itu muncul karamah, maunah dan mukjizat seperti di zaman para nabi.

Itu terjadi di luar biasanya, contoh orang lapar harus makan tetapi kalau orang yang memiliki keimanan kalau lapar tidak hanya dengan makan namun dengan beristigfar dan beribadah itu bisa kenyang. Namun bagi sebagian orang tidak akan percaya dan akan bilang masa dengan istighfar dan beribadah bisa kenyang.

Artikel Menarik Lainnya :  PANTAI BARU DI KADOLOMOKO, KEREN

Menurut Rahman Ngkaali, dalam kondisi seperti saat ini shalat di rumah saja hingga dinyatakan aman. Hal ini ada dalam hadis yang menyebutkan Rasulullah SAW mencegah orang untuk menyebrang ke suatu daerah yang terkena wabah penyakit dan orang tersebut dilarang kembali atau keluar dari negeri tersebut.

“Contoh orang Kendari tidak bisa ke Baubau, begitu juga orang Baubau tidak bisa ke Kendari,” jelasnya.

Usul fiqih kita diminta untuk memilih mudharatnya daripada manfaatnya. Bagi kita shalat sendiri itu bermanfaat bagi kita sendiri namun jika shalat berjamaah (dalam situasi Covid-19, red) mudharatnya lebih besar lagi, bukan hanya bagi kita namun orang lain juga.

Menolak potensi bahaya (mudharat) itu lebih didahulukan daripada meraih manfaat. Mendapatkan pahala shalat berjamaah merupakan suatu manfaat besar yang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, jika hal itu dapat menimbulkan mudharat berupa semakin meluasnya penyakit menular yang mengancam jiwa, maka mudharat tersebut lebih didahulukan. Sehingga tidak boleh bagi orang tersebut menghadiri shalat berjamaah di masjid karena akan menyebabkan mudharat bagi kaum muslimin. Jadi orang yang sakit tidak boleh shalat berjamaah karena bisa menjangkiti yang lain.(*)

Komentar Anda