MUNGKINKAH ADA CORONA DI WAKATOBI?

507
Yuhandri Hardiman

Catatan

Yuhandri Hardiman *)

Penularan virus corona atau Covid-19 dapat terjadi melalui penyebaran droplet atau percikan air liur. Dilansir contan.co.id, Dokter RS PKU Muhammadiyah Surakarta, dr Dien Kalbu Ady, menjelaskan penularan virus melalui droplet termasuk penularan secara langsung.

Sedang viral mentri kita Menteri Perhubungan (Menhub) RI, Budi Karya Sumadi, dinyatakan positif Covid-19 atau terpapar virus corona. Belum lama ini sang menteri melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Wakatobi, tepatnya 28 Februari 2020. Belum lama rupanya.

Bagaimana penjelasan dokter mengenai proses penularan virus corona. Penularan langsung bisa melalui batuk, bersin, berbicara, meludah, dan menyanyi. Pemindahan virus juga bisa terjadi melalui cara bersentuhan atau berjabat tangan.

Dalam sejumlah lawatannya, sang menteri juga berkunjung ke daerah-daerah seperti Toraja, Luwuk, Makassar, Pare-pare, Kertajati, dan Indramayu. Tradisi penjemputan pejabat negara di daerah misalnya di Kepulauan Buton (Kepton) termasuk Wakatobi, akan melibatkan unsur pemrintahan dan masyarakat.

Misalnya mulai dari pengalungan bunga, dijemput dengan tarian, berjabatangan, diwawancarai oleh sejumlah wartawan, dan sejumlah dialog dan pertemuan lainnya. Ini adalah ruang-ruang yang bisa menyebakan virus corona singgah di Kabupaten Wakatobi dan bukan tidak mungkin tidak menular di sana jika tidak segera diantisipasi.

Artikel Menarik Lainnya :  JELANG PILKADA 2020, ASN HARUS NETRAL

Rupanya corona virus juga bisa menyebar secara tidak langsung. Misalnya melalui benda mati atau benda hidup. Misalnya droplet yang mengandung virus corona yang ditularkan penderita. Droplet tersebut kemudian disentuh oleh orang lain, lalu menyentuh mulut, hidung, dan mata sebelem mencuci tangan.

Menhub RI Budi Karya Sumadi, yang kini dinyatakan menderita Covic-19 pernah ke Waktobi. Maka Pemerintah Daerah khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Wakatobi perlu melakukan tindakan preventif.

Yakni langkah antisipasi berdasarkan standar kesehatan untuk menangkal jangan sampai virus corona bersarang di Wakatobi. Semoga ini menjadi tulisan konstruktif da bermanfaat, “We Love Wakatobi”.

Dikutip dari alodokter.com, Corona Virus diperkirakan berasal dari hewan, seperti kelelawar dan unta, dan bisa menular dari hewan ke manusia, serta dari manusia ke manusia. Penularan antarmanusia kemungkinan besar melalui percikan dahak saat batuk atau bersin.

Ketika terinfeksi virus Corona, seseorang akan mengalami gejala mirip flu, seperti demam, batuk, dan pilek. Namun, beberapa hari setelahnya, orang yang terserang infeksi virus corona bisa mengalami sesak napas akibat infeksi pada paru-paru (pneumonia).

Artikel Menarik Lainnya :  Mendagri: APBD Harus Tepat Sasaran

Cara agar terhindar dari corona, di antaranya mencuci tangan dengan benar, menggunakan masker, menjaga daya tahan tubuh, tidak bepergian ke negara atau daerah terjangkit, dan menghindari kontak dengan hewan yang mungkin terjangkit corona.

Masyarakat pasti akan khawatir jika daerahnya menjadi rentan penyebaran corona (Covic-19). Maka kekhawatiran ini akan sirna jika ada sterilisasi area publik.

Contoh di UGD RSUD Baubau, beberapa waktu lalu pernah menangani pasien yang baru pulang dari Thailand suspec (terduga) corona. Namun Dinas Kesehatan Provinsi Sultra menyatakan bersangkutan hanya flu biasa.

Tetapi, pihak RSUD Baubau tidak mau gegabah dan melkukan sterilisasi Unit Gawat Darurat selama 12 jam. UGD ditutup sementara dan dibuka kembali untuk umum setelah standar sterilisasi dilakukan.

Save Wakatobi, We Love Wakatobi, I Love Wakatobi. Saya lahir di sana di hamparan taman laut segi tiga karang duni, salam. (*)

*) Penulis: Wartawan tribunbuton.com

Komentar Anda