Wakil Menteri Dalam Negeri: Partisipasi Perempuan di Pilkada 2024 Alami Kenaikan

74

JAKARTA, TRIBUNBUTON.COM – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, mengungkap partisipasi perempuan pada Pilkada Serentak 2024 yang mengalami kenaikan. Dibandingkan partisipasi perempuan sejak Pilkada 2015.

Dikatakannya, pada pilkada serentak 2024. Terdapat sebanyak 309 perempuan atau sekitar 19,92 persen dari total peserta menjadi calon kepala daerah/calon wakil kepala daerah (Cakada/Cawakada).

Persentase itu lanjutnya, lebih tinggi dibanding Pilkada 2015, 2017, 2018, dan 2020. Misalnya pada 2015, partisipasi perempuan hanya mencapai 7,47 persen atau 124 perempuan yang menjadi Cakada/Cawakada. Begitu pula pada Pilkada 2020 yang hanya sebesar 11 persen atau 161 perempuan yang menjadi peserta.

“Kita bicara calonnya, belum terpilih. Ini bicara calon. Tapi kalau dilihat dari sebelumnya kan calonnya lebih sedikit, mungkin karena 2024 pilkadanya juga serentak,” ujar Bima Arya, saat menjadi pembicara pada Seminar Refleksi dan Evaluasi Keterwakilan Perempuan di Tahun Politik di Universitas Atma Jaya Jakarta, Senin 17 Maret 2025.

Bima Arya Sugiarto, menjelaskan dari angka 19,92 persen tersebut. Sebanyak 109 perempuan berhasil memenangkan pertarungan Pilkada. Jumlah tersebut terdiri dari 2 gubernur, 5 wakil gubernur, 9 wali kota, 15 wakil wali kota, 34 Bupati, dan 44 Wakil Bupati. Bahkan dari sekian calon perempuan terpilih itu merupakan figur baru.

Selain mengungkap keberhasilan perempuan di Pilkada. Bima Arya, juga mengatakan ada beberapa tantangan yang dihadapi perempuan di kancah politik. Misalnya masih terbatasnya ruang di internal partai politik bagi kader perempuan untuk berlaga.

Dia menekankan, kaderisasi di internal partai politik berperan penting dalam menentukan eksistensi kader perempuan. Tantangan lainnya, yaitu jaringan perempuan yang dibangun pascareformasi belum cukup kuat untuk menyukseskan kandidat perempuan.

Di lain sisi, Bima Arya menekankan pentingnya memperhatikan kualitas keterwakilan perempuan secara substantif. Sehingga isu yang dibahas tak hanya menyoal jumlah. Dengan demikian, isu yang penting diperhatikan yaitu narasi yang dibangun oleh para kader perempuan yang berhasil memenangkan kontestasi. Dia mencontohkan anggota legislatif dari kalangan perempuan yang mampu concern terhadap berbagai isu.

“Kalau kita lihat cukup banyak sebetulnya perempuan-perempuan yang bisa mengartikulasikan isu-isu yang bukan hanya isu perempuan,” katanya.

Bima Arya, menambahkan forum diskusi tersebut menjadi momentum yang tepat untuk meningkatkan keterwakilan perempuan. Tidak hanya dalam konteks edukasi tapi juga regulasi.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membuka ruang adanya gagasan-gagasan yang bernilai mengenai peningkatan kualitas keterwakilan perempuan. “Karena kita percaya semakin inklusif proses ini, maka semakin baik kualitasnya,” pungkasnya. (Rilis/adm)