BTNW DAN PEMKAB WAKATOBI UNDANG GURU SD DAN SMP GELAR MINI WORKSHOP PLH

477

WAKATOBI, TRIBUNBUTON.COM – Balai Taman Nasional (BTN) Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bekerjasama dengan pemerintah setempat menggelar mini workshop pendidikan lingkungan hidup (PLH) untuk perwakilan pengajar ditingkat SD dan SMP 25-26 April 2024 lalu.

Kegiatan yang didukung Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) tersebut. Dalam rangka memperkuat motivasi dan berbagi pengetahuan terkait pendidikan lingkungan hidup bagi generasi muda.

Yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman para pengajar terkait buku pendidikan konservasi, modul pendekar lingkungan penjaga mangrove Wakatobi, dan sosialisasi zonasi Taman Nasional Wakatobi.

Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wakatobi, Darmayanti, mengatakan pemahaman tenaga pendidik terkait upaya konservasi merupakan suatu keharusan. Karena para pengajar dapat meneruskan pemahaman tersebut kepada para murid dan guru-guru di sekolah masing-masing melalui materi pembelajaran terkait lingkungan hidup.

“Diharapkan para peserta yang merupakan perwakilan pengajar dari sembilan sekolah SD dan SMP di Wakatobi dapat lebih memahami materi yang disampaikan dalam workshop ini. Sehingga pemahaman mengenai upaya konservasi dan lingkungan hidup dapat diintegrasikan ke dalam materi pembelajaran di sekolah yang merupakan implementasi dari Kurikulum Merdeka melalui PMM (Program Merdeka Mengajar) yang salah satu penerapannya yaitu melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” jelas Darmayanti.

Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Darman, S.Hut, M.Sc, menyampaikan program Pendidikan Konservasi telah dipersiapkan dengan baik yakni dengan menyusun delapan modul belajar yang diadopsi dari praktek pengelolaan, pemantauan/monitoring delapan target konservasi sumberdaya penting di kawasan Taman Nasional Wakatobi.

“Modul ini telah diimplementasikan di beberapa sekolah di Kabupaten Wakatobi. Program pendidikan konservasi ini juga merupakan bentuk dukungan BTNW dalam mewujudkan visi dan misi Bupati untuk menjadikan Wakatobi sebagai Kabupaten Konservasi Maritim yang Sentosa,” ujar Darman.

Senada dengan itu Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Tomia-Binongko, Iwanuddin SP.MSc, menjelaskan dalam kegiatan mini workshop ini selain memberikan pemahaman terkait isi kandungan buku atau modul pendidikan konservasi. Pihak BTNW pun menekankan pengetahuan akan delapan sumber daya penting yang menjadi target konservasi di Taman Nasional Wakatobi, yaitu terumbu karang, mangrove, lamun (sea grass), daerah pemijahan ikan, mamalia laut, burung-burung pantai, penyu, dan ikan ekonomis penting.

“Dalam kegiatan ini, BTNW dan YKAN lebih menekankan pada subtansi pengetahuan delapan sumber daya penting di Taman Nasional Wakatobi. Bukan pada metode teknis pembelajaran, pengajaran ataupun integrasi program. Untuk menjaga sumber daya penting di Taman Nasional Wakatobi tersebut, BTNW perlu mengajak semua pihak, termasuk para pengajar yang menjadi wakil untuk meneruskan pemahaman tersebut kepada generasi muda maupun anak didik sejak dini,” terang Iwanuddin.

Dikatakannya, Workshop itu dikemas bukan hanya dengan pemberian materi informatif yang menekankan pada peran dan manfaat delapan sumber daya penting Taman Nasional Wakatobi bagi kehidupan sehari-hari. Melainkan juga menampilkan video kegiatan rutin BTNW yang terkait dengan konservasi.

Peserta aktif memberikan pertanyaan dan umpan balik terhadap materi ataupun informasi yang disampaikan selama sesi materi. Tidak sedikit pertanyaan yang disampaikan dikaitkan dengan pengalaman mengajar mereka.

“Kegiatan workshop diakhiri dengan permainan interaktif, praktik pembibitan jenis mangrove, dan kunjungan ke demplot penetasan semi alami spesies penyu milik BTNW di Kelurahan Waha untuk melihat secara langsung proses konservasi penyu. Besar harapan melalui rangkaian kegiatan ini, para guru mendapatkan tambahan pengetahuan dan inspirasi dalam memformulasikan pembelajaran di kelas nantinya,”

“Harapan lainnya adalah terbentuknya jejaring dan meningkatnya dorongan partisipasi konservasi mereka, bukan hanya sebagai tenaga pendidik, tapi juga sebagai masyarakat yang hidup di dalam Kawasan Taman Nasional Wakatobi,” kata Iwanudin.

Dalam upaya menjaga lingkungan sejak dini kerap digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten Wakatobi bersama BTNW dan YKAN. Selain telah menerbitkan buku “Panduan Pendekar Lingkungan, Penjaga Mangrove Wakatobi” untuk pelajar SD dan SMP. YKAN dan BTNW kerap menggelar kegiatan pendidikan lingkungan hidup yang melibatkan pelajar di wilayah Taman Nasional Wakatobi.

Buku “Panduan Pendekar Lingkungan, Penjaga Mangrove Wakatobi” selain memuat pengetahuan ilmiah tentang lingkungan, juga mengajak para pelajar berpetualang di alam untuk mengamati secara langsung biota dan kehidupan yang ada di ekosistem mangrove secara berkelompok dan melakukan permainan interaktif terkait pengetahuan lingkungan.

“Para pelajar diajak mengikrarkan semangat konservasi dalam bentuk janji pendekar lingkungan untuk menjaga mangrove Wakatobi tetap lestari sehingga bisa terus dinikmati di masa mendatang,” ucapnya.

Koordinator Program Wakatobi YKAN La Ode Arifudin menyebut, kegiatan mini workshop bagi pengajar ini merupakan salah satu dukungan YKAN dan BTNW untuk memperkuat pemahaman terkait lingkungan hidup kepada generasi muda di Wakatobi dalam melakukan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Secara konsisten YKAN senantiasa berupaya untuk mendukung dan bermitra dengan BTNW dalam mengawal pengelolaan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan di wilayah Taman Nasional Wakatobi. Upaya ini, menurut La Ode Arifudin, memerlukan kolaborasi dan sinergitas yang kuat dari berbagai pihak yang didukung dengan data-data potensi sumber daya alam, termasuk merangkul tenaga pendidik dan generasi muda.

“Kami berharap, berbagai upaya dan dukungan yang YKAN berikan melalui pendidikan lingkungan hidup dapat memberi dampak positif bagi para generasi muda di Wakatobi, sehingga masyarakat lebih tergerak untuk menjaga sumber daya alam dan lingkungan demi kesejahteraan bersama,” pungkas La Ode Arifudin.

Untuk diketahui, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) adalah organisasi nirlaba berbasis ilmiah yang hadir di Indonesia sejak 2014. YKAN memberikan solusi inovatif demi mewujudkan keselarasan alam dan manusia melalui tata kelola sumber daya alam yang efektif, mengedepankan pendekatan non konfrontatif, serta membangun jaringan kemitraan dengan seluruh pihak kepentingan untuk Indonesia yang lestari. (Tribunbuton.com/adm)