LAKINA SAMPOLAWA YANG TERLUPAKAN

Hartoni

Oleh: Hartoni

Menulis kembali catatan sejarah adalah sebuah upaya untuk merawat ingatan, sembari menakar masa depan yang dewasa ini penuh dengan tantangan kebaharuan zaman. Dalam upaya semacam itu, seorang peneliti sejarah dituntut tidak hanya menampilkan suatu fakta sejarah ke permukaan.

Lebih dari itu, seorang peneliti sejarah harus mampu melihat dan merumuskan kembali tata nilai yang ada dalam upaya untuk memotret tantangan masa depan. Dalam konteks itulah, sejarah dikonstruk dan diinterpretasikan kembali untuk mendapat spirit baru demi masa depan yang berkeadaban.

Dengan upaya yang sama, saya berupaya menilik kembali sejarah Sampolawa, khususnya perjuangan La Ode Pasombala, dengan maksud memberi suguhan pandangan yang berbeda dan mengangkat kesadaran kolektif masyarakat Sampolawa akan pentingnya memahami sejarah Sampolawa yang, tidak hanya bertumpuh pada nostalgia semata dan kebanggaan semu, namun untuk mendasari sejarah sebagai pelajaran hidup__“Historis Magistra Vitae” (sejarah adalah guru kehidupan)
Sejarah Sampolawa adalah satu bagian yang inheren dan tak terpisahkan dari tegak berdirinya Kesultanan Buton.

Sampolawa menegaskan posisi dan andilnya sebagai lokomotif juang yang menggerakan pusat pangkalan perang laut Kesultanan Buton. Tak cukup banyak catatan sejarah yang menerangkan dengan lugas sepak terjang La Ode Pasombala dalam andilnya menegakkan marwah kedaulatan Kesultanan Buton.

Keterangan yang memadai tentang La Ode Pasombala diliputi tutur lisan yang diwariskan oleh tetua kampung, atau paling tidak dari sejarawan dan budayawan yang masih dapat kita mintai keterangannya hingga hari ini.

Dalam buku “Mengenang Sekilas Sejarah Sampolawa Buton (2018), karangan Muhammad Amin Idrus Akbar, mengulas sepakterjang perjuangan La Ode Pasombala dengan cukup detail, namun masih meninggalkan banyak celah dan pertanyaan di sana-sini, semisal keterlibatan La Ode Daradangu dalam mengemudikan perahu Lakabodu, hingga garis silsilah keturunan La Ode Pasombala yang tak termuat. Hal tersebut menjadi tugas generasi muda Sampolawa hari ini untuk membedah buku tersebut dan mengelaborasinya lebih jauh.

La Ode Pasombala adalah orang yang begitu dipercaya oleh Sultan Muhammad Idrus yang bergelar “Oputa Koobaadiana” untuk menjaga dan mengawasi wilayah maritim Kesultanan Buton di masa perang, untuk menghalau amuk pasukan Tobelo di teluk Sampolawa. Pasukan tempur Tobelo yang datang menyerang Buton lewat jalur timur dihancur binasakan di laut MATANA SANGIA (Tanjung Pemali) oleh armada tempur Sampolawa.

Bagaimana tidak, pada saat itu Sampolawa sebagai wilayah sentral yang bertanggung jawab dalam tugas dan pengawasan wilayah keamanan Buton. Untuk itulah wilayah Sampolawa menjadi pusat pangkalan perang laut, yang bahkan telah diberi kewenangan sejak masa pemerintahan Sultan Himayatuddin (Opota Yi Koo) tahun 1750.

Terdapat 24 benteng pertahanan dan 48 pucuk meriam besar kecil yang dapat dikerahkan dalam setiap perang berlangsung. Perang yang bermula dari tahun 1824-1830, adalah tahun-tahun yang menentukan bagi Sampolawa, terkhusus bagi La Ode Pasombala untuk memainkan posisi taktik dan meramu strategi perang.

Armada tempur Sampolawa yang dikenal dengan perahu “La Kabodu” (yang bundar) dipersenjatai meriam untuk menghancurkan armada Tobelo yang selalu siaga menerobos di tengah-tengah armada tempur Tobelo, dan seketika akan memuntahkan meriam ke segala penjuru.

Jejak keganasan amuk pasukan Tobelo, masih terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Buton, wabilkhusus bagi masyarakat Sampolawa. Ingatan itulah yang masih terus berjihad melawan lupa, kealpaan dan sesuatu yang mengeras sebagai satu pengingkaran akan nilai-nilai luhur masa lampau. Yang diperjuangkan La Ode Pasombala tak melulu soal jengkal tanah Buton yang mungkin tak seberapa.

Lebih dari itu, baginya, kedaulatan adalah soal prinsip hidup yang tak cukup diganjar oleh apapun. Di atas prinsip itulah, keberpihakan tak dapat dirunding. Sebab, Ia percaya warisan itulah yang akan terbaca oleh sejarah, oleh generasi Buton, terkhusus bagi generasi Sampolawa.

Hal tersebut dibuktikan dengan keteguhan sikap yang dimiliki oleh La Ode Pasombala, ketika menolak imbalan jasa sebanyak tiga puluh ringgit yang diberikan oleh Sultan Muhammad Idrus kepada La Ode Pasombala, sebab jasanya menjaga wilayah kedaulatan Kesultanan Buton. “Kami masih setia dan patuh pada pesan-pesan jihad Yinda-yindamo Karo Sumanamo Lipu”, begitu tegas ucapan La Ode Pasombala tersebut untuk menolak pemberian Sultan Muhmmad Idrus. Warisan sikap dan keteguhan La Ode Pasombala harusnya mengejewantah dalam tata laku kita. La Ode Pasombala adalah prototype dari “manusia merdeka” yang sebenar-benarnya.

Seusai pemerintahan Sultan Muhammad Idrus (Oputa Koobadiana), maka berakhir pulalah bunyi meriam perang Sampolawa sampai selama-lamanya. Perang telah berakhir, dan amuk pasukan Tobelo redam, meninggalkan kekalahan pahit tanpa mahkota, tanpa pernah menyentuh sedikitpun tanah Buton.

Hal tersebut menjadi pelajaran pasukan Tobelo, bahwa tak ada manusia dapat menginjak manusia lain. La Ode Pasombala, kesatria yang lahir tahun 1777 telah ditakdirkan untuk membawa misi besar dalam hidupnya, melindungi tumpah darah tanah kelahirannya. Mengemban tugas sebagai Lakina (Raja) Sampolawa adalah bagian dari jalan kesatria yang menempahnya dalam keteguhan dan kegigihan yang tak dapat dibendung saat menghancur leburkan pasukan Tobelo.

Armada tempur Sampolawa dalam komandonya tak pernah sekali pun kalah. Kita dapat membayangkan bagaimana kecerdasan La Ode Pasombala dengan “sengaja” membuat kapal (perahu) perang yang tak lazim, berbentuk bundar, agar gampang berputar, dan tak dikenali oleh pasukan Tobelo. Perahu tersebut dikenal dengan sebutan Lakabodu.

Sementara di samping kiri kanan armada telah dilengkapi dengan meriam. Ketika perahu berbalik arah, perahu tersebut dianggap telah kalah dan pulang, namun tepat disaat itulah pasukan Tobelo lengah, dan meriam ditembakkan seketika menghancurkan pasukan Tobelo. La Ode Pasombala didampingi oleh orang kepercayaannya yang bernama La Ode Daradangu, seorang yang begitu lihat mengemudikan perahu Lakabodu, memainkan posisi taktik dan strategi tempur. Hingga tak ada satupun pasukan Tobelo yang dapat selamat dari perang tersebut.

Hingga kini, papan perahu pasukan Tobelo masih diabadikan di sebuah rumah yang ada di Sampolawa. Kita masih dapat melihat rumah La Ode Pasombala yang dahulu dijadikan tempat bermusyawarah, merunding siasat, dan berkumpulnya seluruh tetua-tetua adat. Rumah tersebut sempat mengalami musibah kebakaran, tepatnya di tanggal 15 Juli tahun 2000 yang hingga kini proses renovasi rumah tersebut masih belum selesai dan telah memakan waktu yang sangat lama.

Tugas merawat memang berat, butuh hati yang lapang dan kemauan yang besar. Bahwa rumah tersebut tak hanya milik orang yang segaris darah dengan La Ode Pasombala, rumah tersebut milik semua orang yang peduli terhadap warisan sejarah masa lampau.

Sisa-sisa papan perahu Tobelo dan rumah La Ode Pasombala yang terbakar
Begitupulah makam Beliau yang tampak terlupakan dan mungkin tak pernah kita ziarahi dengan langkah kaki kita yang begitu berat. Sementara berkat perjuangan Beliau lah, tanah yang kita pijakki hari ini menjadi tempat kita bernaung. Belum lagi meriam-meriam yang terbengkalai dan tak terurus, padahal meriam tersebut adalah pemberian Sultan Muhammad Idrus, yang bernama Padampalita dan Rajausi.

Begitulah yang tak pernah belajar dari peristiwa masa lampau. Nama besar La Ode Pasombala seperti hilang bersama makamnya yang sunyi dari bau jejak kaki kita, apalagi bertanya pada generasi muda hari ini, nama La Ode Pasombala begitu asing, jika tak ingin dikatakan terlupakan sama sekali. Kendati demikian, kita berharap jejak sejarah perjuangan La Ode Pasombala diangkat ke permukaan, suatu hari nanti, sebagai tanggung jawab moril generasi Sampolawa hari ini.

Melalui tulisan inipulah, saya berharap rumah La Ode Pasombala dan seluruh benda-benda bersejarah yang ada di Sampolawa dapat dilindungi dan dijadikan situs sejarah oleh pemerintah terkait. Mengingat benda-benda peninggalan leluhur di Sampolawa sangat terbengkalai dan tak terurus. Hal ini menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan pemerintah terkait, dalam hal ini pemerintah Buton Selatan. Sebab, kita percaya La Ode Pasombala masih terus hidup dalam gerak langkah dan cinta yang menafasi kehidupan kita hingga hari ini.

Penulis adalah Ketua Umum Gerakan Sampolawa Mengajar (GSM)