DITUDING MENGENDAPKAN BERKAS KASUS JUDI DENGAN 86, BEGINI JAWABAN POLRES BUTUR

Pelaku judi kartu Joker di Desa Waode Buri saat disergap polisi. FOTO istimewah

 

BUTUR, TRIBUNBUTON.COM – Kepolisian Resort (Polres) Buton Utara (Butur) Propinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggrebek empat warga Butur saat sedang bermain judi kartu Joker 4 April 2022 lalu.

Peristiwa penggrebekan yang terjadi di Desa Waode Buri Kecamatan Kulisusu itu. Terjadi saat Polres Butur menggelar operasi pekat. Dan saat itu, Polisi berhasil mengamankan empat pelaku inisial HN, AN, SN, AI. Serta barang bukti (BB) di Tempat Kejadian Perkara (TKP) berupa uang tunai Rp 95 ribu.

Namun dalam proses penanganan kasus itu, keluarga pelaku judi kartu Joker mencurigai ada yang tidak benar dan sangat memberatkan para tersangka. Pasalnya, Polisi tiba-tiba menghentikan proses penyidikan dan empat tersangka yang semula sempat ditahan di ruang sel tahanan dibebaskan.

“Kasus judi kartu Joker dengan BB Rp 95 ribu ini, berkasnya diendapkan, diduga di 86 kan dengan Rp 70 juta,” ungkap salah seorang yang mengaku masih kerabat dekat pelaku judi Joker yang merahasiakan identitasnya, Sabtu (14/5/2022).

Menurut keluarga pelaku judi Joker tersebut, mahar puluhan juta untuk mengendapkan berkas perkara itu sangat tinggi dan tidak wajar. Terlebih, keempat pelaku hanya warga biasa yang sehari-hari sebagai nelayan dan petani.

“Keempat pelaku ini sempat ditahan. Mereka harus patungan untuk menebus Rp 70 juta itu. Kasian mereka hanya nelayan dan petani. Harus mengutang sana sini untuk menutupi angka permintaan. Kita bersukur bebas terlalu banyak dimintai,” tuturnya.

Salah seorang aktifis di Buton Utara, Arkam SH, mengatakan jika Polres Butur berdalih melakukan pembinaan, kenapa empat tersangka itu sempat dilakukan penahanan selama empat hari.

Kalau ada penahanan lanjut Arkam, tentu ada berkas. Dan harusnya berkas SPDP itu dikirim di kejaksaan. Pasal yang disangkakan di Laporan Polisi nya 303 .”Jelasnya di 86 kan dan isi 86 itu berapa jumlahnya, saya tidak tau tapi ngeri ngeri sedap,” Arkam, setengah bertanya.

Menurut Arkam, kalaupun ditanggukan proses hukum para tersangka namun tetap berlanjut. karena setelah proses penyidikan selesai, maka pihak Polres segera melimpahkannya ke Kejaksaan Negeri untuk kemudian disidangkan di Pengadilan Negeri. Bukan dihentikan atau 86.

“Saya minta Polres Buton Utara janganlah buat masyarakat resah. Tapi buatlah masyarakat nyaman sesuai visi misi polri. Masyakat kok dijadikan lahan bisnis. Kita ini sudah bodoh, jangan lagi di bodohi. Angka angkanya terlalu tinggi, yang wajar sajalah dan tidak memberatkan,” tegas Arkam.

Kapolres Buton Utara, AKBP Bungin Masokan Misalayuk, SIK, melalui Kasat Reskrim, AKP La Ode Sumarno, menepis tudingan jika pihaknya mengendapkan berkas perkara dengan iming-iming membayar sejumlah uang agar keempat pelaku judi kartu Joker dibebaskan dari jeratan hukum.

“Ada orang-orang tertentu yang sengaja menggulirkan isu seolah-olah hal ini salah,” jawab Kasat Reskrim Polres Butur, AKP La Ode Sumarno, saat dikonfirmasi via telepon celulernya, Sabtu (14/5/2022).

AKP La Ode Sumarno, menjelaskan dalam prosedur pemeriksaan, penyelidikan hingga penyidikan kasus yang terjaring dalam operasi pekat. Tidak semua harus ditindak lanjuti hingga meja hijau, namun ada juga pembinaan.

“Kenapa itu kasus kita lakukan pembinaan, karena saat operasi pekat itu bersamaan dengan bulan puasa. Lalu saat diperiksa, pelaku beralibi jika hanya iseng sambil menunggu waktu makan sahur. Agar lebih semangat menunggu waktu, mereka gunakan uang namun nominal kecil karena bukan sebagai mata pencaharian,” Kasat Reskrim Polres Butur menjelaskan.

Pasal 303 KUHP yang dikaitkan segelintir orang bahwa harus ditahan. La Ode Sumarno, mengatakan pihaknya menahan pelaku selama tiga hari itu hanya sebagai pembinaan. “Setelah tiga hari ditahan sebagai pembinaan, kita langsung panggil keluarganya dan disampaikan jika ini pembinaan selanjutnya kami bebaskan,” kata La Ode Sumarno.

Ditambahkannya, fungsi pembinaan yang dilakukan pihaknya berdasar dari hasil pemeriksaan bahwa kegiatan yang dilakukan bukan kategori mata pencaharian.

“Jadi sekali lagi bahwa info memintai sejumlah uang hingga Rp 70 juta itu sangat tidak benar. Ada yang sengaja mau menjatuhkan kita,” tutup Kasat Reskrim Polres Butur, AKP La Ode Sumarno. (Tribunbuton.com/Ros)