TANGKAP IKAN CARA TRADISIONAL “TAMBA-TAMBA”

790

PENETAPAN Kepulauan Wakatobi sebagai Taman Nasional Wakatobi (TNW) oleh pemerintah, telah membuahkan hasil. Paling tidak biota dan kekayaan lautnya terselamatkan dari tekanan dan kerusakan. Cara-cara menangkap ikan yang merusak lingkungan, seperti membom, potas, terus diminimalasir melalui program-program yang dilaksanakan Balai Taman Nasional Wakatobi.

(***)

Hasirun Ady, Wakatobi

MEMBANGUNAN masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya alam bawah laut Wakatobi, bukan perkara mudah. Mengubah kebiasan masyarakat menangkap ikan dengan cara bom, misalnya, semula mendapatkan tantangan. Demikian, juga cara menangkap dengan potas. Residu zat komia potas menimbulkan kerusakan terumbu karang. Pada hal terumbu karang dan aneka biota laut merupakan aksesoris yang menawan turis minat khusus diving.

Selain itu yang tak kalah penting dan strategis adalah kehadiran TNC-WWF.
NGO yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan laut dan ekosistem biota laut serta terumbu karang ini telah pula memberi kontribusi besar dalam mengedukasi masyarakat. Memberi pengetahuan, meningkatkan kesadaran masyarakat, pentingnya pelestarian lingkungan laut bagi kehidupan berkelanjutan.

Di awal kehadirannya, baik BTNW maupun TNC-WWF mendapat tantangan di masyarakat Kepulauan Wakatobi. Pro dan kotra berlangsung cukup lama. Meskipun demikian, BTNW dan TNC-WWF, terus melakukan pendekatan dan koordinasi. Melalui program program dan kegiatan.
Melibatkan tokoh masyarakat dan pemerintah kecamatan dan kabupaten.

Peran BTNW dan TNC- WWF lambat laun berhasil meyakinkan masyarakat akan pentingnya lingkungan-biota laut dilestarikan. Tindakan tindakan destruktif oleh masyarakat. menangkap ikan dengan cara tidak ramah lingkungan mengalami penurunan. Meski belum sepenuhnnya teratasi, namun sejauh yang diamati frekuensinya mengalami penurunan yang signifikan.

Efek dari edukasi dan pengawasan serta penegakan hukum yang mulai dipraktekan, membuahkan hasil. Meski masih harus membutuhkan penelitian yang mendalam. Namun pengakuan masyarakat setidak tidaknya bisa dijadikan indikasi. Umumnya para nelayan di Wakatobi, khususnya nelayan di Waha Tomia, mengakui bahwa saat ini tingkat populasi ikan dari berbagai jenis bertambah banyak.

Kondisi ini diakui para nelayan sebagai buah dari program program yang diselenggarakan bersama maayarakat dengan BTNW-TNC-WWF. Menyadarkan masyarakat betapa pentingnya menjaga dan melestarikan terumbu karang dan biota lainnya.

***
Mengamati aktivitas nelayan dan masyarakat- lokus Waha Tomia, misalnya, nampak mudah, dan dalam durasi singkat dengan cara tradidinal sekalipun, enteng menggapai ikan. Baik cara pancing dan atau cara tradisional lainnya. Misalnya menggunakan suluh. Dalam tradisi masyarakat Tomia, dinamakan : Hesurabi Tamba-Tamba. Memakai sebilah parang atau potongan besi lempeng, bisa mengumpulkan banyak ikan.

Dahulu, suluh yang digunakan ialah terbuat dari daun kelapa kering. Dipilin, kemudian disulutkan api diujung bagian atas. Memancarkan cahaya sehingga ikan bisa nampak. Bersamaan itu, parang diayun ke bagian kepala ikan. Dipilih sasaran kepala karena dua alasan : ikan cepat mati dan agar dagingnya tidak terkoyak. Cara Tamba-Tamba dilakukan malam hari pada kondisi air laut surut dari garis pantai. Keadaan- kedalaman air laut setinggi 30 cm. Dua puluh cm di atas mata kaki orang dewasa (prakiraan sendiri).

Dalam perkembangan peradaban, saat ini maayarakat tidak lagi menggunakan suluh dari daun kelapa ( Surabi ). Namun menggunakan lampu petromak. Bahkan semakin moderen, yakni menggunakan lampu senter yang pancaran cahayanya jauh lebih terang. Sehingga sasaran mudah di kenali.

Menangkap ikan dengan cara Hesurabi Tamba-Tamba *), minimal dilakukan dua orang . Satu pegang suluh dan pungut ikan dan yang lainnya tukang ‘tamba’ ikan. Yang pegang parang mesti terampil mengayun agar tepat sasaran-mengenai ikan yang bergerak. Meski ada juga ikan yang ketika diterpa cahaya lalu diam tak bergerak-berlindung di lamun. Sambil mobile, tidak hanya ikan yang disasar, kerang keranganpun ikut dipungut.(*)