PENDERITA TUMOR DI KALIBU HIDUP DARI JATAH MAKAN PARA TETANGGA

1394
Tumor di lutut kirinya sebesar bola takrau. Rasmadi warga Buton Utara ini bergerak serba merangkak. FOTO: ASMAN/TRIBUNBUTON.COM

NAMANYA Rasmadi, ia merangkak jika ke kamar mandi. Pembengkakan di lutut kirinya membuatnya tak berdaya ia hidup dari jatah makan pemberian tetangganya. (**)

 

ASMAN, KULISUSU

TUBUHNYA kurus kering, hanya bisa menghabiskan seluruh waktunya di atas dipan di rumahnya yang tak terurus di Desa Kalibu, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara, Sulwesi Tenggara. Rasmadi hidup dan berjuang melewati waktu.

Hari-harinya tak berarti lagi, tumor pada lutut kirinya sebesar bola takrau membatasi ruang geraknya. Dia tak punya uang untuk berobat, sudah tujuh bulan ia tak bisa bekerja lagi sebagai tukang batu merah.

“Saya pergi periksa ke RSUD, ada perawat yang periksa katanya ini penyakit tumor tulang, saya disarankan berobat ke Kendari. Tapi saya tidak punya uang ade,” katanya kepada awak TRIBUNBUTON (tribunbuton.com), Sabtu 28 Maret 2020.

Usianya menginjak 42 tahun, sebetulnya masih kuat bekerja mengolah batu merah jika tidak sakit. Saat ini ia hanya bisa pasrah dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan.

Awalnya hanya bisul kecil dan terus membesar. “Saya sudah minum pil anti biotik tapi tidak sembuh,” katanya.

Ia berterimakasih jika ada yang berbaik hati membantunya kelak. Mimpinya untuk bisa bekerja lagi hanya bisa menjadi bayangan masa lalu sebagai pengolah batu merah.

Rasmadi hanya bisa menerima nasibnya sebagai orang miskin. Tak ada tabungan yang ia sisipkan, karena penghasilannya sebagai tukang batu merah waktu masih kuat, hanya bisa untuk mengganjal perut tiga anak-anaknya.

Anak pertamanya Nismawati sudah berkeluarga dengan kondisi ekonomi yang juga pas-pasan dan menjadi korban penikaman oleh suaminya beberapa malam lalu. Anak keduanya La Ceta, kira-kira berusia 17 tahun tak bersekolah.

“Kalau dia sekolah mungkin sudah kelas 1 SMA,” kata tetangganya.

La Ceta Putranya yang masih belia belum bisa mengurus bapaknya dengan baik karena ia pun terbatas dan masih muda. Broken home, perceraian orang tuanya tiga tahun lalu menjadi kisah kelam masa remajanya.

Mengikuti jejak ayahnya, La Ceta, pun menjadi kuli batu merah. Begitu keras hidupnya dengan penghasilan Rp 10 ribu sapai Rp 15 ribu sehari.

Jika dikalkulasi anak muda ini berpenghasilan Rp 300 sampai Rp 450 ribu per bulan, cukup untuk jajannya sendiri. Dia masih punya adik seusia anak SD da putus sekolah juga karena faktor kemiskinan. Mungkin La Ceta masih berbagi dengan adik bungsunya untuk harga permen.

Paling tidak Rasmadi telah mewariskan pengetahuan mencetak batu merah kepada putranya. Sehingga dia dengan kondisinya yang tidak bisa apa-apa, bisa sedikit tersenyum meski getir, anaknya bisa hidup dan mungkin belanja super mi, atau sebungkus kopi di warung untuk diseduh dan berbagi permen dengan adiknya yang bungsu.

Yah, penghasilan yang hanya bisa menyokong perut untuk setiap harinya, tak ada simpanan atau tabungan, dia hanyalah seorang pensiunan kuli batu merah. Badannya kurus, ia masih bersyukur bisa mendapat rejeki dari jatah makan pemberian tetangganya.

Adakah kiranya dermawan yang bisa melepaskan penderitaan Rasmadi. Mungkin Pemerintah Kabupaten Buton Utara belum mendapatkan informasi ini. Bisakah kira-kira ia masuk pasian jaminan kesehatan, dia butuh pengobatan khusus dan penyakit tumor yang ia alami butuh biaya besar.

Orang tua Rasmadi berada di Tanah Merah, Kecamatan Bonegunu, Kabupaten Butur. Mungkin kesibukan masing-masing, sehingga ia jarang dikunjungi oleh saudaranya.

“Saya sangat mengharapkan uluran tangan dan bantuan pemerintah daerah,” kata Rasmadi.

Ia sangat berharap dapat kembali menjalani pengobatan agar sembuh dari penyakit yang menyiksanya sejak tujuh bulan lalu. “Kalau bisa ada bantuan dari pemerintah agar bisa berobat lagi,” katanya.

Mila salah satu tetangganya ikut prihatin. Rasmadi memang tidak bisa beraktivitas bekerja seperti orang lain. Tumor di kakinya menyebabkan Rasmadi hanya bisa merangkak atau jalan duduk seret di lantai.(*)

Editor: Yuhandri Hardiman