Sulawesi Tenggara
20-11-2018  17:42
Bupati Butur Jadi Pembicara Kehormatan di Seminar Internasional
Bupati Butur Abu Hasan saat menjadi pembicara kehormatan pada seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Haluoleo. FOTO: DARMAWAN/TRIBUN BUTON
KENDARI, TRIBUNBUTON
BUPATI Buton Utara (Butur) Abu Hasan menjadi pembicara kehormatan pada seminar internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknik Universitas Haluoleo di Hotel Clarion Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin, 19 November 2018.

Seminar bertema Internasional Conference On Maritim Jnfrastructure and Development (ICMID) 2018 tersebut turut hadiri Rektor Universitas Haluoleo
Prof. Dr. Zamrun dan seluruh civitas akademik, serta undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Butur Abu Hasan menjelaskan alasannya kenapa harus memprogramkan pertanian organik sebagai program unggulannya di Buton Utara.

Pertama menurutnya adalah salah satu tradisi masyarakat lokal sebagai life style masyarakat dunia dan sudah menjadi tradisi kehidupan masa lampau dimana para orang tua sudah memiliki kebiasan untuk bercocok tanam dengan tidak menggunakan pupuk kimia, tetapi tumbuh secara alamiah.

Kedua, sebagai aspek ekologis pertanian berkelanjutan sebagaimana juga telah menjadi program nawacita Presiden Jokowi untuk memprogramkan 1000 desa organik.

Ketiga, bahwa potensi pertanian organik dibuton utara saat ini memiliki lahan padi ladang seluas 875 Ha, dan setiap tahunnya akan terus dikembangkan. Sedangkan luas lahan perkebunan jambu mente 7000 Ha dan perkebunan kelapa 5000 Ha.

"Saya memilih program ini untuk menjaga kesinambungan kehidupan alam baik tanah, tumbuhan, hewan dan manusia saling terkait satu sama lain, dan satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Tenggara baru kami yang telah mencanangkan ini, "kata Abu Hasan dalam pemaparan materinya.

Abu Hasan menambahkan, kedepanaya Buton Utara sebagai lumbung pangan di Sulawesi Tenggara khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Berdasarkan potensi dan kebijakan maka konsep agromarine ini dalam pembangunanya sangat terkait dengan pertanian organik sehingga harus saling bersinergi dan harmoni.

"Harus diperlukan sinergisitas secara berkelanjutan dalam menghadapi kerentanan perubahan iklim, bencana banjir, pengembangan tata ruang dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), "pungkasnya.

Diketahui narasumber yang hadir pada seminar tersebut dari universitas di dunia Kiril Tenekedjiev (Tasmania University), Riayanti Djalante (United Nations University Japan) Iwan Hermawan (Earth observatory of Singapore). (#Mawan)
Telah dibaca 36 kali
Berita Terkait
Advertisement