Baubau
03-07-2018  09:22
Fenomena "Air Bah" di Kota Baubau #Colek Instansi Terkait
Air meluap di areal persawahan Kecamatan Bungi 2017 lalu.
"Air bah, atau banjir, genangan air, air meluap" demikian ungkapan khalayak, atas fenomena setiap tahun, yang terjadi di Kota Baubau. Setiap musim hujan, bila hujan turun dengan derasnya selama berjam-jam, atau turun selama berhari-hari, maka akan nampak pula fenomena ini terjadi dibeberapa titik.
Namun yang lebih menjadi sorotan publik, baik dalam pembahasan formal, perbincangan di media sosial, maupun perbincangan di Warkop, atau di gode-gode (gazebo kayu/bambu), adalah fenomena yang terjadi dipersimpangan lampu merah SPBU depan SMA Negeri 2 Baubau. Juga air bah, atau banjir, air meluap dialiran kali Ambon, yang mengalir deras melewati Jembatan Mbeli, Jembatan Tengah, berujung di Jembatan Gantung, hingga akhirnya kelaut, pesisir Kotamara. Juga air bah, atau banjir, air meluap yang terjadi di Kecamatan Bungi. Yang kerap menggenangi areal sawah, kebun, juga pemukiman warga. Kecamatan Bungi merupakan kawasan hinterland, salahsatu kawasan pertanian, perkebunan di Kota Baubau.

Tak jarang, karena ini Pemerintah Kota, bahkan Kepala Daerah mendapat kritik tajam setajam silet, mendapat kritik pedas sepedas "colo-colo", dihujat dengan berbagai sentilan, cemoohan. Namun banyak pula warga Metro yang menanggapi bijak, mengetahui bahwa Pemerintah Kota telah dan terus berusaha maksimal melakukan yang terbaik. Ada pula warga Metro yang memberikan solusi
-solusi.

Akan tetapi hingga saat ini, air bah, atau banjir, genangan air, air meluap ini masih menjadi pemandangan miris bagi sebagian orang, khususnya yang terkena dampak langsung.

Pemerintah Kota tak tinggal diam atas kejadian ini, mereka sudah dan terus berupaya mengantisipasi, mengatasinya, namun tetap saja belum mampu memenuhi ekspektasi publik (tak memenuhi kepuasan absolut, selalu akan ada pro kontra). Nampak nyata perbaikan sistem resapan air dititik SPBU depan SMA Negeri 2 tersebut, upaya Pemerintah Kota mengatasi volume air yang menggenang karena hujan. Dengan sistem resapan yang ada saat ini,
butuh waktu (makan jam: kata orang Baubau), sampai air benar-benar meresap, dan tak menggenang lagi, seiring dengan redanya hujan.

Begitu pula air bah dari Kali Ambon, juga di Kecamatan Bungi. Pemerintah Kota tidak apatis, telah dilakukan langkah-langkah antisipatif, pencegahan, dan tindakan.

Yang menjadi tanda tanya, ada apa? apa yang terjadi diatas gunung sana? disumber air Kali Ambon sana?, di sumber air Kecamatan Bungi sana? sampai sampai air bah ini terjadi!

Apakah hutan sudah gundul? pepohonan sudah punah?. Apakah ini murka Alam? Namunpun Pemerintah Kota sudah bekerja maksimal, Pemerintah Kota wajib memberikan kepastian, informasi kepada seluruh masyarakat, bahwa kejadian ini dapat teratasi, segera teratasi, memastikan teratasi, bahwa semua baik-baik saja. Jawab kekhawatiran masyarakat ini, tenangkan hati masyarakat ini, karena diantara masyarakat ini, ada keluarga kalian, keluarga mereka, keluarga kita, keluarga dia, keluarga kamu, dan keluarga saya. Juga ada kalian, mereka, kita, dia, kamu, dan saya.
#Colek instansi terkait. (Red)
Telah dibaca 365 kali
Berita Terkait
Advertisement