Baubau
19-09-2017  12:57
Kemelut KM Fungka Permata III, Bertaruh Nyawa di Atas Rakit
Novriadi (kanan baju biru foto sudut kiri atas) ditemui hendak istrahat. Gbr lain situasi proses evakuasi di Pelabuhan Murhum Baubau. www.tribunbuton.com
FUNGKA PERMATA yang jika di Indonesiakan bermakna Gunung Permata, lenyap terkubur di Laut Banda antara Pulau Binongko dan Batu Atas. Kapal yang bertolak dari Baubau Sabtu malam 16 September 2017 pukul 21.45 Wita tujuan Tomia Timur itu naas di pagi buta di koordinat yang tak terjangkau signal.

YUHANDRI HARDIMAN, BAUBAU

SEBELUM beroprasi dengan len Baubau Tomia PP, KM Fungka Permata adalah kapal reguler perangkai Sulawesi Tenggara (Baubau), Sulawesi Tengah (Banggai) dan Maluku Utara (Taliabo). Kini jasadnya bersemayam di dasar laut.

Ada beberapa tanda kecil yang mungkin saja sebagai firasat kapal akan celaka. KM Fungka Permata memiliki GPS tetapi tidak berfungsi saat kapal berangkat. Dua kali mengalami mati lampu saat masih di Pelabuhan Murhum kabel terputus di sambungan.

"Te kabel notoppindi i sambunga kosamboe dua fali," kata Novriadi (Nov) baru merasa jika itu salah satu pertanda (firasat) menjelaskan kepada tribunbuton.com.

Kapal dengan mantap tetap saja melaju hingga memasuki daerah karang. Waktu menunjukan pukul 06.00 Wita tepat di hari Minggu tanggal 17 September 2017, perjalanan beberapa menit lagi tepat sembilan jam.

Salah satu tali fambel terlepas, mesin tetap jalan namun pompa air tidak berfungsi. Nov (KKM) berupaya dengan keras untuk memasang tali fambel tetapi malah tali fambel yang satunya ikut terlepas dan mesin induk tidak berfungsi.

Di tengah kemelut air terus saja masuk dan mulai terasa di kaki. Mesin alkon untuk menguras air dicoba untuk dinyalakan tetapi juga tidak berfungsi.

Para penumpang membantu melimas (mengeluarkan air) tetapi derasnya air laut terus memenuhi perut kapal yang pernah jaya di Laut Maluku itu. Mesin mati saat air laut merendam dinamo dan seketika hilang harapan untuk berjuang di mesin. Padahal air laut terus masuk tanpa belas kasihan, mesin induk mati total.

Itulah Laut Banda, cuaca saat itu lumayan pada ketinggian gelombang 2,5 meter. Tetapi di koordinat kapal celaka, gelombang agak berkurang karena sudah memasuki daerah karang. Di situlah kuburan KM Fungka Permata mengakhiri masa tuanya.

Bayangan kapal akan celaka dan tenggelam sudah diperkirakan oleh para ABK dan penumpang. Ketika itu air di kamar mesin sudah sepinggang orang dewasa. Sejumlah penumpang mulai panik dan siap-sedia dengan barang berharga yang sedapat mungkin bisa dibawa. Barang bawaan lain diikhlaskan di tempat itu karena harus memilih menyelamatkan jiwa dan berjuang untuk tetap hidup di tengah kemelut di puncak krisis di tengah laut yang tidak berkepastian.

Para wanita ada yang menangis namun ada yang coba tegar di tengah laut yang jaraknya sejauh mata memandang. Riak air adalah mainan sepanjang waktu dan dinginnya malam adalah selimut. Ada kapal nelayan pernah mendekat namun kemudian pergi, ada kapal kargo lewat tetapi terlalu jauh.

"Semua berteriak minta tolong termasuk turis itu juga ikut berteriak. Kita tidak didengar," katanya. (Yang dimaksud turis adalah salah seorang penumpang WNA bernama Fransisca berkewarganegaraan Brazil.

Minggu pukul 18.00 Wita bodi kapal dipenuhi air dan melayang sejak pukul 07.00 pagi, kira-kira 11 jam dari pagi hingga magrib akhirnya kapal terjerembab ke dalam air. Posisinya antara Binongko dan Batu Atas.

Kapten Kapal La Madiamin memutuskan untuk membuat rakit dari tripleks dilapisi seng, 28 penumpang termasuk ABK naik ke rakit. Tak sedikit penumpang mengalami luka gores terkena seng.

Rakit itu dinaiki dengan posisi duduk sesak tidak terapung juga tidak tenggelam, penumpang terendam hingga perut. "Tidak tenggelam dia tidak terapung juga, dia melayang, di dalam air," kata Nov menjelaskan dalam rona wajah yang kelelahan.

Nov adalah anak pemilik kapal, terus memandangi kapal yang ketika ditinggalkan masih menyisakan lantai dua di permukaan air. "Saya menoleh ke belakang saya lihat itu kapal, saya kira akan begitu saja, padahal dia tenggelam," katanya datar.

Hanya Yang Maha Kuasa satu-satunya yang paling perkasa dan tempat meminta di situasi sekritis itu. Seisi rakit berdoa dan membaca ayat-ayat Al Quran memohon pertolongan kepada Allah SWT. Tetapi ada juga yang menangis tidak kuat menghadapi suasana kritis. Mereka semua terlalu dekat dengan kematian, apalagi rakit hanya terbuat dari tripleks.

"Saya juga pernah menangis juga biar sedikit," katanya lirih.

Duapuluh delapan orang itu menghabiskan sepenuh malam dengan duduk di dalam rakit. Memandangi bintang di tengah ketidak berdayaan sembari mencari-cari siapa tahu ada kapal yang mendekat.

Malam berganti pagi, waktu menunjukan pukul 06.00 Wita tepat hari Senin tanggal 18 September 2017. "Ada kapal perintis dia lewat tapi dia tidak lihat kita," kata Nov.

Waktu berlalu, kira-kira pukul 10.00 Wita atau lebih, diperkirakan rakit akan segera terbongkar. Upaya lain harus segera dipikirkan agar tidak semua mati dan terkubur di tengah laut.

Mereka memutuskan membuat tiga kelompok untuk berenang mencari bantuan. Kapten kapal bersama putranya berenang ke arah utara sedangkan kelompok kedua bersama Nov, ABK dan beberapa penumpang berenang ke arah barat, mereka berlima di antaranya Hapudi, Ilham dan beberapa penumpang. Sedangkan kelompok yang sebagian besar wanita dan beberapa orang tetap bertahan di rakit sambil mendayung.

Berpencar ke berbagai arah sedikit lebih berpeluang untuk siapa tahu bertemu kapal. Mereka terpisah antara satu sama lain kira-kira satu atau dua kilo meter. Laut terlalu luas sejauh mata memandang untuk menempuh perjalanan dengan berenang. Antara putus asa dan harapan, kelelahan mulai menggerogoti.

Kapten La Madiani melihat ada sosok kapal dari arah binongko, ia mengejar ke titik lintasan kapal itu (potong kompas). Tenaga dipacu, itulah barangkali cahaya kehidupan. Perjuangannya tidak sia-sia, ia berada di tepat di lintasan kapal dan ABK kapal nelayan itu melihatnya.

Orang yang lemah tak berdaya terapung di tengah lautan yang bahkan karena kelelahan membuat nafasnya tersisa di ujung kerongkongan, memohon bantuan. Kapal nelayan itu berhenti memberikan pertolongan dan menaikkan mereka ke atas kapal. Secercah harapan dan masa depan seperti tunas yang baru tumbuh kembali. Mereka selamat!

Lalu satu per satu kelompok lain yang berpencar diangkut ke atas kapal ikan KM Bunga Mawar termasuk yang bertahan di dalam rakit. Nov belum tahu kapal itu kapal dari mana tetapi dia tahu itu kapal pelingkar (kapal ikan). Kapal itu baru saja melintas dari arah Binongko.

"Kalau kapal itu tidak lewat barangkali kita semua sudah mati," katanya. Karena rakit yang terbuat dari tripleks itu mulai hancur dan robek, beberapa orang yang berpencar mulai kelelahan.

Selama itu mereka tidak bisa berkomunikasi menggunakan HP. Di titik koordinat KM Fungka Permata tidak ada signal. Kapten baru bisa menghubungi istrinya di Kulati Tomia Timur menggunakan HP nelayan dan di situlah kondisi mereka diketahui.

Ketika itu pukul 12.00 Wita. Sebelumnya sang kapten sempat digigit anak ikan hiu di jari kakinya. Madiani adalah salah satu yang dilarikan ke RS Palagimata dan ditandu tidak bisa jalan saat dievakuasi di Pelabuhan Murhum.

Terhitung satu hari satu malam tambah enam jam atau total 18 jam mereka tidak makan. Mereka hendak dievakuasi ke Sampolawa oleh KM Bunga Mawar namun bertemu kapal KPLP Baubau yang juga melakukan pencarian bersama kapal Basarnas. Penumpang dipindahkan ke kapal dan dievakuasi ke Kota Baubau. Di atas kapal KPLP mereka diberi makan nasi dan indomi.

Beberapa orang dilarikan ke RS dan sebagian besar diperiksa di Ruang Pelabuhan Murhum. "Saya duduk-duduk di luar gedung lalu saya masuk lagi ehh tidak ada mi orang. Saya pulang mi juga dibonceng temanku," kata nov ditemui di rumah keluarganya di Jl La Ode Walanda Kota Baubau.

Kerugian kapal senilai Rp 350 juta, memuat sedikitnya 2 truk besi milik H Nur Hasan, H Dani, 204 lembar tripleks, 10 karung gula, 10 karung terigu, dan ssjunlah barang-barang dos milik H Ahara dan sejumlah toko di Tomia.

Seandainya normal, KM Fungka Permata akan sandar di Pelabuhan Usuku pada Minggu Pagi pukul 10.00 Wita. Nov tidak sempat berkomunikasi dengan siapapun termasuk dengan bapaknya sendiri La Nali karena HPnya lowbet.

Ada yang sempat membawa barang berharga seperti tas kecil dan tas sampai di rakit. Tetapi pada akhirnya juga dibuang. Fransisca yang paling terakhir membuang barang bawaannya. Fransisca juga menangis terlihat matanya merah. "Te appa kume,e te ibu-ibu," katanya.

Penumpang sebanyak 21 orang dan ABK 7 orang dinyatakan selamat. Mereka di antaranya Alwan (ABK), Erna, La Ode Abdul Hasan, Dania Satriasi, Hj St Munawara, Siti Hajral Fadila, Mariana, Wa Santi SPd, Abd Rahman (ABK), Sahlan (ABK), Ilham (juru mudi), Novriadi (KKM), Febrianto, Ahmad, Fransisca (Brazil), Hj Lisnawati, H Salam, Hj Musrifa Rahim, Hapdin, Sukriman Salim, Ari Trianto, Zein (5th), Masni, Wa Suriani, H Muh Burhan, Riko Ahmad, Madiani, dan Hj Hawaniara Rahim.(**)
Telah dibaca 975 kali
Berita Terkait
Advertisement