Nasional
18-01-2017  16:12
Implementasi Sara Pataanguna Dalam Sistem Pemerintahan di Kota Baubau
Keterangan Foto Dr H AS Tamrin mengabadikan berfoto bersama denga para guru besar yang menjadi tim pengujinya ketika ujian meraih gelara doktor di kampus IPDN Foto Ardi Toris
- Begini AS Tamrin Mempertanggung jawabkan Disertasinya Untuk Meraih Gelar Doktor di IPDN Jatinangor
WALIKOTA Baubau AS Tamrin dinilai dapat mempertanggungjawabkan disertasinya secara ilmiah dalam sidang doktor 20 Desember 2016 di Balai Room Rudini di Jatinangor, Jawa Barat. Dia disebut sangat menguasai disertasi yang berjudul Pengaruh Implementasi Kebijakan Nilai-nilai Budaya Sara Pataanguna dan Kepemimpinan Pemerintahan Terhadap Pembangunan Kota Baubau Provinsi Sultra. AS Tamrin dinyatakan lulus (Cumlaude) dengan IPK 3.80.

PUKUL 09.30 upacara dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia raya. Para tamu undangan yang terdiri dari sejumlah Kepala SKPD, Tokoh Perguruan Tinggi, Tokoh Agama dan sejumlah anggota DPRD, Sekda Kota Baubau Drs Muh Djudul juga terlihat jadir, mantan Plt Walikota Baubau Drs Unar Abibu, Wakil Gubernur Saleh Lasata, dsb.

AS Tamrin baru saja selesai memaparkan hasil penelitian disertasinya. Salah seorang tim penguji, Prof Dr H Khasan Effendy MPd, tertarik dengan pemaparan AS Tamrin. Menurutnya, judul disertasi AS Tamrin sangat menarik di era yang mengglobal.

Kenapa? Karena budaya sudah banyak ditinggalkan, generasi muda menganggap budaya justru sebagai penghambat dan memilih mengikuti perkembangan teknologi. Dia beranggapan bahwa dengan pemaparan AS Tamrin, maka budaya akan terangkat menjadi pegangan dan pengayom.

"Saya sudah baca beberapa halaman termasuk pertanyaan saya. Kedepan apa konsep provendus yang hendak ditawarkan untuk menginplementasikan nilai budaya lokal agar bisa berkembang dan menjadi kajian?"

"Kandidat doktor diharapkan mempunyai gagasan untuk republik ini agar nilai budaya bisa dipahami dan diaplikasikan dengan kondisi global saat ini."

"Mohon promovendus untuk mengaplikasikan Polima dan Asoka. Dimana pomaamaasiaka dan popiapiara dsb, mana yang kultur agar diketahui kaitannya. Pertegas pada abstrak!

Promovendus (Kandidat Doktor) AS Tamrin menjawab. "Penulis sudah jelaskan mengenai upaya untuk mengimplementasikan kepada masyarakat soal nilai sarapataanguna melalui cara sosialisasi. Sedangkan pada institusi penerintahan dengan cara dibuatkan regulasi berupa petunjuk atau semacam himbauan dan instruksi.

"Di sekolah perlu dipahamkan dalam bentuk muatan lokal agar bisa dipahami bagaimana pesan budaya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pomaamaasiaka saling mwngasihi, popiapiara, poangkaangkataka yakni saling menghormati, pomaemayaka punya rasa malu jika berbuat kesalahan atau melanggar."

AS Tamrin menjelaskan jika harus ada sinergi dengan masyarakat untuk membangkitkan kesadaran mulai dari level pemimpin untuk meneraokan nilai sara pataanguna. "Bahkan memberi contoh."

AS Tamrin bahkan sudah membentuk panitia tim sosialisasi sarapataanguna di sejumlah sekolah. Di setiap ruangan ditukiskan prinsip dan nilai kearifan lokal itu, dengan demikian bisa tersosialisasi dengan baik. Regulasi/aturan sangat perlu. Tujuannya untuk memfilter pengaruh luar yang hendak masuk. AS tamrin menyebutnya sosialisasi, kebijakan dan penyadaran meruoakan tiga hal dan kangkah implementasi terhadap nilai sarapataanguna.

Aplikasi Asoka adalah metode penelitian yang sesuai. "Ini karena dalam makna bagaimana seseorang pemimpin dalam menerapkan kiat pemerintahan, memadukan potensi kekuatan diri (otority) dan kecerdasan. Ini menurutnya harus disinergikan dengan nilai-nilai kearifan lokal (moral). Karena hal ini akan menyebtuh seluruh nilai dan menjadi bagian dalam kehidupan.
Substansi nilai adalah nilai universal, berupa inspirasi dan pesan-pesan leluhur di Buton sebagai pandangan hidup.

"Meski Kesultanan sudah tidak ada, tetapi  nilai ini bererlaku dalam aspek kehidupan," para undangan memberi aplous yang meriah tanda sependapat dengan AS Tamrin.

Penguji Ke II, Prof Dr J Basuki MPSi mengakui jika penelitian Provendus AS Tamrin sangat menarik karena mengangkat nilai-nilai lokal. Prof Dr Basuki ingin agar promovendus memadukannya dengan kepemimpinan untuk pembangunan jika ternyata sarapataanguna itu berpengaruh besar terhadap pembangunan dan pengaruh kepemimpinan justru kecil. Sejauh ini apakah ada kendala dalam sosialisasi, dan apakah nilai sarapataanguna yang sangat baik dan merupakan falsafah dasar orang Buton akan terus berlanjut. Bagaimana keyakinannya jika sarapataanguna bisa dilanjutkan ke generasi selanjutnya?

AS Tamrin yang terlihat menguasai hasil penelitiannya masih menjawab dengan mantap dan jelas. Dijelaskan jika nilai-nilai budaya sangat besar pengaruhnya daripada aspek kepemimpinan. Sebab budaya adalah nilai universal melibatkan akademik, pemerintahan dan masyarakat.

"Jika masyarakat tidak mengaplikasikan nilai-nilai ini maka kita tidak akan mendapatkan adipura," begitu penjelasannya.
Kaitannya adalah spirit bahu-membahu di kalangan masyarakat dan pemerintahan akan memudahkan pembangunan. "Belum fitnah di sana-sini, belum baku maki-maki," ini menurut AS Tamrin terfilter oleh nilai sarapataanguna.

Maka komitmen pemimpin dan kecerdasan punya dasar untuk meletakan kebijakan ini. "Ini visi misi agar tidak terlihat masa bodoh," dijelaskan begitu sederhana dengan gaya AS Tamrin. Hal ini penting dituangkan dalam Perda agar nilai- nilai yang sudah lama tergerus bisa dibangkitkan dan diwarisi kembali.

Prof Dr Ganisa sebagai salah satu penguji, ikut tertarik dengan penelitian nilai budaya. Ketika menyimak presentasi AS Tamrin, ia prihatin dengan kondisi budaya tradisional akhir-akhir ini. Bagaimana bisa menggunakan nilai budaya yang mengalami kemunduran? Dan malah dijadikan sebagai pemacu pembangunan?

Menurutnya, untuk memacu pembangunan seharusnya cukup mengaplikasikan nilai-nilai yang menjadi penyemangat sehari-hari. Benarkah ada gejala ketidak percayaan masyarakat kepada pemimpin? Dapatkah seorang pemimpin memakai metode tradisional sebagai etika pemerintahan dengan menghidupkan nilai sara pataanguna itu?

AS Tamrin yang sangat menguasai materi, menjelaskan gejala kultural dalam implementasi kepemimpinan dengan mengalir begitu saja. "Nilai-nilai itu sebagaimana pancasila yang mengandung nilai dasar. Materinya adalah pomaamaasiaka sebagai nilai instrumen yabg disebut sarapataanguna."

Nilai sarapataanguna dalam implementasi harus dijabarkan, karena merupakan hasil perenungan panjang yang dimuat begitu pendek. Dalam nilai fraksis, pomaamasiaka misalnya, harus ada seminar untuk memahamkan nilai dan pendapat.

Prof Dr I Nyoman Sumaryadi MSi, meminta promovendus untuk mempertangggungjawabkan hasil penelitiannya yang dinilai tidak melibatkan masyarakat sebagai sampel atau populasi. Justru promovendus menetapkan populasi pada seluruh SKPD pada tataran sekretariat daerah saja.

Dengan metode asoka, disampaikan soal inplementasi kepemimpinan Po5 (sarapataanguna). Apakah Po5 (baca: Polima) sudah ada dan tumbuh dengan dasar menghasilkam pemimpin nerkarakter po5. Bagaimana bisa dipertanggungjawabkan sehingga po5 menjadi model rujukan yang bisa diterapkan dalam pembangunan dan kemasyarakatan di tingkat daerah sedangkan masyarakat tidak dilibatkan.

Dalam peneliiannya, AS Tamrin melibatkan 200 sampel. Kenapa masyarakat tidak dilibatkan?

Menurut AS Tamrin hal itu disesuaikan dengan judul. Yang diteliti adalah pemimpin, sesuai dengan latar belakang keteladanan yang sudah memudar. Diharapkam sampel Kadis juga bisa mewakoli stafnya dst. Sedangkan Kabid sampel diambil sebagian.

Dengan komunitas pemimpin, maka pendapatnya homogen. Sedangkan dengan sampel masyarakat relatif akan berbeda-beda dan harus ada data. Po5 menurut penjelasan AS Tamrin sudah sejak lama telah ada secara materi. Merupakan reinkarnasi dari sarapataanguna yakni pobincibinciki kuli definisinya jangan cubit kulit orang lain karena rasanya sakit sama dengan ketika kita mencubit kulit kita sendiri.

Implementasinya jangan menipu, jangan memaki dll. Pomaamasiaka yang berarti menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dan beberapa unsur Po5 yang beberapa lainnya telah dijelaskan seperti poangkaangkataka, popiapiara, dan pomaemeyaka.

Nilai-nilai ini sebetulnya dalam asoka mengandung dungsinatau unsurnya terpadu dalam sebuah model. Jika disinergikan maka akan bersesuaian disisir dalam.keterkaitan kepemimpinan model sarapataanguna. Kepala sekolah masuk dalam sampel dan termasuk juga masyarakat.

Unsur apakah yang berhasil dari konsep sarapataanguna ini. Jika diterapkan, kondisi-kondisi apa saja yang akan berubah sehingga berdampak universal?

Sarapataanguna adalah warisan Buton, tetapi secara nilai bisa diterapkan di mana saja. Misalnya di Bugis juga ada nilai seperti itu berupa kesetaraan, keadilan dengan dimensi yang berbeda.

Dalam disertasi penulis memberi saran agar Kementerian PAN RB bisa mendorong daerah-daerah semacam arahan atau petunjuk untuk mengangkat nilai-nilai daerah masing-masing.

Dr Bambang Supriadi:
Dalam mengangkat budaya lokal, ternyata pengaruh masyarakat sangat besar daripada kepemimpinan. Harus dijelaskan bagaimana bisa diterima kata salah satu penguji lainnya. Tamrin dengan singkat menjelaskan sara pataanguna adalah norma dan masyarakat harus menerimanya.

Dr Kusworo MSi; Di samping birokrasi yang sudah mapan, rupanya variabel nilai-nilai budaya berpengaruh pada terhadap pembangunan daerah dan justrj faktor kepemimpinan berpengaru justru lebih kecil.

"Begitu banyak teori kepemimpinan. Tetapi secara umum adalah upaya untuk meloloskan hal yang diinginkan. Mensinergikan hal konvensional dengan budaya yakni bagaimana menggeser dengan tidak merubah konsep kepemimpinan. Tetapi memberi muatan sesuai dengan kondisi kekinian.

Wakikota Baubau AS Tamrin sebagai promovendus (Kandidat Doktor) di IPDN Jatonangor, dinilai dapat mempertanggungjawabkan disertasinya secara ilmiah dalam sidang doktor itu. Dia disebut sangat menguasai disertasi dengan judul Pengaruh Implementasi Kebijakan Nilai-nilai Budaya Sara Pataanguna dan Kepemimpinan Penerintahan Terhadap Pembangunan Kota Baubau Provinsi Sultra. AS Tamrin dinyatakan lulus (Cumlaude) dengan IPK 3.80.

Penelitian mengnadung kebijaksanaan serta dijawab dengan tegas. Tetapi apakah bisa diterapkam di pemerintahan Donald Trump?

"Secara universal bisa jika mau damai," singkat Tamrin disambut aplaus.

Akhirnya, AS Tamrin dikukuhkan dengan gelar doktor. Dan untuk pertamakalinya AS Tamrin dipanggil doktor oleh Ketua Program Doktor IPDN, Prof Dr H M Aries Djaenuri MA.

Dalam pengukuhan gelar kepada AS Tamrin sebagai doktor, mendapat surat penghargaan dari Menteri Dalam Negeri Cahyo Kumolo. Ketua sidang membacakan surat itu di hadapan undangan. Isinya tentang ucapan selamat dan terimakasih atas sidang doktor yang digelar 20 Desember 2016 di Balai Room Rudini Jatinangor.

Tim Penguji terdiri dari: Ketua Sidang: direktur Program Pasca Sarjana IPDN
Ketua Program Doktor: Prof Dr HM Aries Djaenuri MA Ketua Promotor: Prof Dr H ermaya suradinata SH MH MS Ko-Promotor: 1. Prof Dr H Khasan Effendy MPd, Dr Sampara Lukman MA. Penguji/Penelaah: Prof Dr HM Aries Djaenari MA Prof Dr I Nyoman Sumaryadi MSi, Prof Dr Ngadisah MA, Prof Dr Sadu Wasistiono MS, Prof Dr J Basuki MPSi, Didik Suhardi PhD, Dr Yuswandi A. Tumenggung MA, Dr Kusworo MSi.(****)


YUHANDRI HARDIMAN, Jatinangor
Telah dibaca 804 kali
Berita Terkait
Advertisement